Berita
Presiden Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat: Komitmen Pemerataan dan Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
Berita 2026-01-13 | 07:00:00
PAUDPEDIA BANJARBARU – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tidak boleh hanya menjadi deretan angka di atas kertas, melainkan harus berjalan beriringan dengan pemerataan kesejahteraan yang nyata. Sebagai langkah konkret dalam mewujudkan keadilan sosial, Pemerintah menargetkan pembangunan 500 Sekolah Rakyat hingga tahun 2029 guna menjangkau anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem di seluruh penjuru Tanah Air.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat secara serentak di 34 provinsi yang dipusatkan di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026). Peresmian ini menandai fase awal dari proyek strategis pemerintah dalam memperluas akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat yang selama ini tertinggal.
"Hari ini kita berhasil melihat dan meresmikan 166 Sekolah Rakyat. Sasaran kita adalah 500 Sekolah Rakyat sampai tahun 2029. Insyaallah akan tercapai," ujar Presiden Prabowo di hadapan jajaran menteri, kepala daerah, serta para pendidik dan siswa yang hadir secara luring maupun daring.
Instrumen Strategis Pendidikan
Presiden menjelaskan, Sekolah Rakyat dirancang sebagai instrumen strategis untuk memutus rantai kemiskinan antar-generasi. Berbeda dengan sekolah umum, institusi ini difokuskan pada anak-anak dari latar belakang ekonomi lemah yang memiliki potensi namun terkendala biaya dan fasilitas. Setiap sekolah ditargetkan memiliki kapasitas hingga 1.000 murid, sehingga pada tahun 2029, diharapkan sebanyak 500.000 peserta didik dapat terakomodasi dalam sistem pendidikan ini.
Filosofi di balik pendirian sekolah ini adalah penyediaan asrama dan fasilitas terbaik bagi mereka yang selama ini dianggap "tidak memiliki harapan" oleh sistem pendidikan konvensional. Presiden mengenang saat-saat pengambilan kebijakan ini sebagai sebuah langkah berani yang tidak lazim.
"Mari kita berbuat yang mungkin tidak lazim, kita bikin sekolah yang terbaik. Sekolah berasrama untuk mereka-mereka yang mungkin tidak punya harapan, mereka yang dari keluarga yang kondisinya tertinggal," tutur Kepala Negara dengan nada haru.
Bagi Presiden, keberadaan Sekolah Rakyat bukan sekadar soal gedung dan kurikulum, melainkan simbol kehadiran negara dalam melindungi segenap bangsa, sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Ia menekankan bahwa sebuah sistem nasional tidak akan bermanfaat bagi bangsa jika tidak mampu mengupayakan pemerataan dengan cepat.
Hapus Stigma dan Kemiskinan
Dalam sambutan yang emosional, Presiden Prabowo memberikan pesan khusus kepada para siswa agar tidak merasa rendah diri terhadap latar belakang sosial mereka. Ia menegaskan bahwa martabat seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan orang tuanya, melainkan oleh kejujuran dan dedikasinya kepada negara.
"Hormati orang tuamu. Kalau perlu kau pulang, kau sungkem, kau cium kaki orang tuamu. Jangan pernah kau malu. Mereka lebih mulia dari orang-orang pintar tapi koruptor-koruptor yang berkhianat kepada negara dan bangsa," tegas Presiden, yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Kepala Negara mengakui bahwa saat ini negara masih terus berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi seluruh rakyat. Namun, ia berjanji bahwa pemerintah akan bekerja keras memastikan kekayaan nasional dikelola secara adil sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lapisan masyarakat terbawah. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu padu dalam satu tujuan besar: menghapus kemiskinan ekstrem dan kelaparan dari bumi Indonesia.
Presiden juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Menteri Sosial, kementerian terkait, serta kepala daerah yang telah mendukung implementasi program ini. Perhatian khusus diberikan kepada para guru dan kepala sekolah yang ia sebut sebagai garda terdepan pembina generasi penerus. Presiden meminta para pendidik untuk senantiasa memberikan teladan yang baik bagi para siswa.
Harapan besar diletakkan di pundak Sekolah Rakyat sebagai fondasi lahirnya generasi unggul yang kompetitif secara global namun tetap memiliki jati diri bangsa yang kuat. Presiden mengaku terkesima melihat kemampuan siswa Sekolah Rakyat yang sudah mampu berpidato dalam beberapa bahasa asing dalam acara tersebut.
"Ini bukti kita berbuat, sehingga anak-anak kita hari ini yang tadinya mungkin sulit sekolah, sekarang mereka punya harapan. Kita berada di jalan yang benar. Apa pun yang terjadi, kita akan terus dalam perjuangan demi bangsa dan rakyat Indonesia," pungkasnya.
Hadirnya 166 sekolah ini menjadi bukti awal bahwa kebijakan afirmatif di bidang pendidikan dapat menjadi motor penggerak mobilitas vertikal bagi masyarakat miskin. Pemerintah optimistis, dengan sisa target 334 sekolah lagi dalam tiga tahun ke depan, cita-cita Indonesia emas yang inklusif bukan lagi sekadar utopia.
Penyunting: Eko B Harsono
Sumber Siaran Pers Biro Pers dan Media Sekretariat Negara