Berita
Bimtek Digitalisasi Pembelajaran PAUD Angkatan ke 2, “The Great Forward” Visi Presiden Menjadi Lompatan Mutu dan Pemerataan Pendidikan
Berita 2026-02-27 | 08:45:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Pemerintah terus mengakselerasi transformasi pendidikan melalui perluasan program digitalisasi pembelajaran, terutama pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Langkah ini diposisikan bukan sebagai program pengadaan perangkat semata, tetapi sebagai strategi nasional untuk mengangkat mutu pembelajaran sekaligus mempersempit kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah.
Penegasan tersebut disampaikan Harris Iskandar, Widyaprada Ahli Utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, saat membuka Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran PAUD Angkatan 2 di Jakarta, Kamis (26/2/2026) yang didampingi Ketua Tim Pembelajaran dan Penilaian Direktorat PAUD Mareta Wahyuni dan Pj Digitalisasi Pembelajaran Aris Ciptaningtyas. Kegiatan ini diikuti 160 satuan PAUD dari tujuh provinsi serta 82 kabupaten dan kota yang menerima bantuan perangkat berupa papan interaktif digital, laptop, dan diska keras eksternal.
Menurut Harris, dari sisi akses, pendidikan nasional menunjukkan kemajuan signifikan. Namun dari sisi mutu, terutama dalam kemampuan literasi, numerasi, dan sains, capaian Indonesia masih tertinggal. Hal ini tercermin dari hasil asesmen internasional PISA yang selama lebih dari dua dekade menunjukkan stagnasi.
“Selama 25 tahun, berbagai kebijakan sudah digulirkan mulai dari perubahan kurikulum, penyiapan guru hingga tunjangan profesi tetapi skor kita tetap tidak meningkat. Ini menandakan ada formula yang belum ditemukan,” ujar Harris.
Transformasi Pembelajaran
Untuk menjawab tantangan mutu tersebut, pemerintah mulai mengedepankan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Digitalisasi pembelajaran, menurut Harris, bukan tujuan akhir, melainkan infrastruktur yang memungkinkan perubahan pedagogi terjadi di ruang kelas.
Dalam kerangka Pembelajaran Mendalam, terdapat empat komponen pokok: praktik pedagogis yang berpusat pada peserta didik, kemitraan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, penciptaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana pendukung.
“Teknologi itu sarana. Yang utama adalah transformasi cara kita mengajar dan memperlakukan peserta didik. Peran guru tak lagi hanya menyampaikan materi, tetapi memfasilitasi proses belajar agar lebih aktif, interaktif, dan bermakna,” katanya.
Harris mencontohkan, banyak konsep pembelajaran sains atau sejarah yang selama ini sulit divisualisasikan secara fisik. Melalui perangkat digital, konsep-konsep tersebut dapat divisualisasikan secara virtual sehingga anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih konkret. Pada jenjang PAUD, teknologi memungkinkan pendidik memfasilitasi eksplorasi minat, bakat, dan rasa ingin tahu anak secara lebih kaya.
“Ini media yang luar biasa. Banyak hal yang tidak mungkin dilakukan secara fisik, kini dapat diwujudkan melalui simulasi digital,” ujarnya.
Pentingnya Bimbingan Teknis
Harris mengingatkan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan berdampak signifikan tanpa pemahaman yang memadai dari pendidik. Mengutip hasil survei, ia menyatakan bahwa pengguna perangkat digital sering hanya memanfaatkan 10–15 persen dari fitur yang tersedia. Karena itu, bimbingan teknis seperti ini dipandang krusial untuk memastikan perangkat dapat dioptimalkan dalam praktik pembelajaran.
“Bimtek ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi upaya mengubah paradigma. Tantangannya ada pada Bapak dan Ibu sebagai ‘driver’ pembelajaran. Sejauh mana perangkat ini benar-benar mentransformasi pengalaman belajar anak?” kata Harris.
Selain memahami teknis penggunaan alat, pendidik diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi dalam skenario pembelajaran yang bermakna bukan sekadar memindahkan materi dari papan tulis ke layar digital. Pemanfaatan teknologi harus diselaraskan dengan tujuan pedagogis dan kebutuhan peserta didik.
Harris menyampaikan bahwa era digital membuka peluang besar bagi guru untuk berkembang. Berbagai konten pembelajaran, sumber belajar terbuka, dan kursus daring kini tersedia luas dan dapat diakses tanpa batas geografis.
Teknologi memungkinkan guru dan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang dulunya hanya dapat diakses melalui institusi pendidikan bergengsi. “Saat ini siapa pun bisa belajar dari kursus-kursus di universitas global. Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan oleh pendidik,” ujarnya.
Meski demikian, Harris menegaskan kembali bahwa transformasi pembelajaran tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh perubahan cara pandang terhadap peran guru dan peserta didik. Ruang kelas yang telah mengalami transformasi ditandai oleh keterlibatan aktif peserta didik, interaksi yang lebih terbuka, serta suasana belajar yang menyenangkan.
Pemerataan sebagai Visi Utama
Selain mendorong peningkatan mutu, program digitalisasi juga diarahkan untuk mewujudkan pemerataan pendidikan nasional. Harris mengutip visi Prabowo Subianto mengenai The Great Leap Forward, yaitu lompatan besar yang memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh akses pembelajaran yang setara.
“Janji revolusi digital adalah keadilan. Apa yang dinikmati anak di Jakarta Selatan harus dapat dinikmati anak di Papua atau Pulau Rote. Jika kita hanya berjalan dengan pola business as usual, kesenjangan akan semakin melebar,” tegasnya.
Teknologi, menurut Harris, dapat menjadi jembatan untuk memotong kesenjangan tersebut. Sekolah-sekolah di daerah dapat mengakses sumber belajar yang sama dengan sekolah di kota besar, sehingga pemerataan kualitas semakin mungkin diwujudkan.
Menutup sambutannya, Harris mengingatkan kembali prinsip dasar pendidikan Indonesia sebagaimana diajarkan Ki Hajar Dewantara, bahwa tugas pendidikan adalah menuntun tumbuh kembang anak sesuai kodratnya. Ia juga mengutip pemikiran Ali bin Abi Thalib mengenai pentingnya mendidik anak sesuai zamannya.
“Teknologi hanyalah alat. Pendidikan tetap berpusat pada manusia dan kemanusiaan. Kita menyiapkan anak-anak untuk masa depan mereka, bukan masa lalu kita,” tutup Harris.
Peliput : Eko B Harsono dan Herry Hartawan