Berita
Mendikdasmen Resmikan Revitalisasi TK Al-Mizan dan SMK Ma’arif, Era Baru Kemitraan Pendidikan Lebih Inklusif, Efek Revitalisasi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Majalengka Melesat
Berita 2026-01-21 | 09:10:00
PAUDPEDIA MAJALENGKA – Di tengah hamparan lahan seluas 15 hektare di Jatiwangi, Majalengka, sebuah pesan kuat tentang masa depan pendidikan Indonesia digaungkan. Pemerintah secara resmi menghapus sekat-sekat dikotomi antara sekolah negeri dan swasta melalui komitmen anggaran yang konkret. Langkah ini dipandang sebagai upaya vital dalam mengejar target Indonesia Emas 2045 melalui penguatan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia di tingkat akar rumput.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Dr. Abdul Mu’ti, dalam kunjungan kerjanya ke Pondok Pesantren Al-Mizan, Selasa (20/1/2026), menegaskan bahwa negara tidak lagi bisa berjalan sendirian. Peresmian Bantuan Revitalisasi Satuan Pendidikan SMK Maarif dan TK Al-Mizan menjadi simbol dimulainya era baru kemitraan pendidikan yang lebih inklusif.
Hapus Dikotomi “Negeri” dan “Swasta”
Dalam pidatonya yang lugas namun diselingi humor khas santri, Abdul Mu’ti mengungkapkan kebijakan strategis kementeriannya untuk tahun anggaran 2025. Ia mengalokasikan 23 persen dari total anggaran revitalisasi pendidikan khusus untuk sekolah-sekolah swasta.
Kebijakan ini merupakan anomali positif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang seringkali menitikberatkan bantuan hanya pada sekolah berstatus negeri. "Negara itu harus mengurus negara, tidak hanya mengurus yang berlabel negeri," ujar Mu’ti.
Menurutnya, pandangan lama yang hanya memprioritaskan sekolah negeri harus segera ditinggalkan. Baginya, anak-anak yang belajar di sekolah swasta memiliki hak konstitusional yang sama sebagai warga negara untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak dan bermartabat.
Angka 23 persen untuk swasta dan 77 persen untuk negeri bukan sekadar kalkulasi angka, melainkan refleksi dari keadilan sosial di sektor pendidikan. "Yang di atas kita pertahankan prestasinya, yang di bawah kita angkat. Dengan begitu, seluruh satuan pendidikan akan maju bersama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa," tambahnya.
Langkah ini juga dipandang sebagai apresiasi kepada organisasi masyarakat dan yayasan yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh pemerintah.
Di Al-Mizan misalnya, ketersediaan aset seluas 15 hektare yang dikelola secara swadaya diakui Mu’ti telah sangat membantu beban kerja pemerintah dalam menyediakan ruang belajar.
Dampak Nyata Revitalisasi Pendidikan
Sejalan dengan optimisme Mendikdasmen, Wakil Bupati Majalengka, Dena Muhammad Ramadhan, memaparkan data yang menunjukkan korelasi positif antara intervensi pendidikan dengan indikator makro pembangunan daerah.
Menurut Dena, dukungan pusat melalui program revitalisasi telah memberikan daya dorong yang signifikan bagi Kabupaten Majalengka. "Pada tahun 2024, pertumbuhan ekonomi kita berada di angka 6,38 persen. Namun sekarang, angka tersebut melonjak tajam hingga mencapai 9 persen. Ini adalah capaian tertinggi di Wilayah 3 Cirebon," ungkap Dena dengan bangga.
Dena juga menyoroti kenaikan angka rata-rata lama sekolah yang kini menyentuh 7,81 tahun. Baginya, bantuan fisik seperti revitalisasi gedung sekolah dan bantuan digitalisasi bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan pemicu kenaikan berbagai indikator kesejahteraan masyarakat.
"Visi kami adalah 'Majalengka Langkung Sae' atau Majalengka yang lebih baik. Adanya peningkatan, adanya kenaikan. Alhamdulillah, inilah program nyata Pak Menteri dalam membantu meningkatkan indikator-indikator yang ada di Majalengka," lanjut Dena.
Keberhasilan Majalengka ini diharapkan menjadi percontohan bagi kabupaten lain dalam mensinergikan program pusat dengan kebutuhan lokal.
Kedekatan Emosional dan Pengawasan
Suasana peresmian di Al-Mizan terasa lebih hangat karena kedekatan personal antara Mendikdasmen dengan Ketua Dewan Pembina Yayasan Al-Mizan, Dr. KH Maman Imanulhaq. Kiai Maman memberikan testimoni mengenai sosok Abdul Mu’ti yang dianggapnya tetap sederhana meski telah memegang tampuk kekuasaan.
"Beliau adalah orang yang tidak pernah berubah. Kekuasaan baginya cukup di tangan, tidak perlu masuk ke hati. Pidatonya selalu segar dan mencerdaskan. Saking cerdasnya, saya berseloroh, bisa-bisa orang NU masuk Muhammadiyah semua kalau tokoh Muhammadiyah begini semua," canda Kiai Maman yang anggota Komisi 8 DPR RI disambut tawa riuh para hadirin.
Kiai Maman menilai, pola komunikasi yang hangat dan inklusif dari seorang menteri sangat diperlukan untuk mencairkan kebuntuan birokrasi yang selama ini sering terjadi antara pusat dan daerah.
Selain soal infrastruktur, Abdul Mu’ti juga melontarkan gagasan revolusioner terkait pengawasan pendidikan. Ia berencana membentuk Dewan Pendidikan Nasional dalam waktu dekat. Lembaga ini nantinya akan memiliki fungsi pengawasan terhadap kementerian, serupa dengan fungsi DPR di tingkat pusat.
Selama ini, kekosongan Dewan Pendidikan di tingkat nasional dianggap membuat kebijakan seringkali kehilangan kontrol dari elemen masyarakat.
Di sisi lain, bantuan teknologi digital juga menjadi sorotan. Namun, Mu’ti menekankan bahwa teknologi harus tetap berakar pada kebutuhan manusiawi. Ia mencontohkan penggunaan perangkat digital untuk praktik berbicara (speaking) melalui musik, sebuah metode yang ia terapkan saat masih menjadi akademisi.
"Gunakan alat-alat interaktif ini untuk memfasihkan pelafalan Al-Qur'an atau berlatih bahasa Inggris. Boleh dipakai karaoke, asal tujuannya untuk belajar pronunciation. Kreativitas guru dalam memanfaatkan teknologi inilah yang akan menentukan kualitas lulusan kita," tegasnya.
Wasilah Takwa Melalui Kebijakan
Sebagai alumni pesantren dan madrasah, Abdul Mu’ti mengaku merasa berada "di rumah sendiri" saat menginjakkan kaki di Al-Mizan. Perjalanan pendidikannya dari Madrasah Ibtidaiyah hingga menempuh studi ke Australia dan kembali ke Indonesia menjadi inspirasi bagi para santri yang hadir.
Ia menutup sambutannya dengan sebuah refleksi spiritual. Mengutip Al-Qur'an Surah Az-Zumar ayat 9, ia menegaskan bahwa ilmu adalah pembeda derajat manusia. Jabatan menteri baginya adalah sebuah wasilah atau perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui pengabdian kepada sesama.
"Menjadi menteri adalah jalan untuk lebih takwa. Jika saya tidak menyetujui anggaran revitalisasi ini, dana tersebut mungkin akan hilang entah kemana. Maka, memastikan anggaran ini sampai ke sekolah dan pesantren adalah bentuk amanah yang harus saya pertanggungjawabkan kepada rakyat dan kepada Allah," tutupnya.
Peresmian di Majalengka ini bukan sekadar seremonial potong pita. Ia adalah pernyataan politik pendidikan yang tegas: bahwa setiap anak Indonesia, baik di sekolah negeri maupun swasta, di pelosok desa maupun di jantung kota, berhak atas mimpi yang sama besarnya. Di bawah langit Jatiwangi, sebuah fondasi baru sedang diletakkan untuk bangunan masa depan bangsa yang lebih kokoh dan berkeadilan.
Peliput : Eko B Harsono dan Herry Hartawan