Berita
Mendikdasmen Abdul Mu’ti Perkuat Tiga Fondasi Karakter di Bumi Sebiduk Sehalua, Kucurkan Rp 23,8 Miliar untuk Revitalisasi 29 Sekolah di Kabupaten OKU Timur
Berita 2026-01-23 | 17:05:00
PAUDPEDIA BELITANG — Pendidikan nasional kini tengah diarahkan untuk kembali ke khitahnya sebagai pembentuk karakter bangsa, bukan sekadar ruang transfer ilmu pengetahuan. Melalui penguatan tiga pilar utama—berpengetahuan luas (knowledgeable), terampil (capable), dan rendah hati (humble)—pemerintah berupaya meletakkan fondasi manusia Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Pesan tersebut ditegaskan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat melakukan kunjungan kerja di SMP Negeri 1 Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, Kamis (22/1/2026).
Di sekolah yang terletak di jantung lumbung pangan Sumatera Selatan ini, Mu’ti menekankan bahwa karakter tidak bisa diajarkan hanya melalui buku teks, melainkan harus melalui proses pembiasaan yang konsisten.
"Pendidikan adalah proses pembiasaan. Kita ingin membangun kedisiplinan, kesehatan fisik, dan rasa cinta tanah air sejak menit pertama siswa menginjakkan kaki di sekolah," ujar Mu’ti di hadapan ribuan siswa dan guru.
Mandat Pagi Ceria
Kunjungan tersebut diawali dengan implementasi kebijakan "Pagi Ceria". Sejak pukul 07.00 WIB, ribuan siswa dengan seragam olahraga memenuhi lapangan. Mu’ti, yang tampak luwes mengenakan pakaian serupa, membaur di barisan depan untuk mengikuti Senam Anak Indonesia Hebat.
Kebijakan "Pagi Ceria" bukan sekadar aktivitas fisik tanpa makna. Program ini merupakan mandat dari Surat Edaran Bersama (SEB) tiga menteri, yakni Menteri Dalam Negeri, Mendikdasmen, serta Menteri Agama.
Aturan ini mewajibkan seluruh satuan pendidikan melaksanakan tiga ritual utama sebelum memulai jam pelajaran: doa bersama sesuai agama masing-masing, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan senam pagi rutin.
Menurut Mu’ti, kebijakan ini adalah upaya mengembalikan marwah sekolah sebagai lingkungan yang menyenangkan sekaligus disiplin. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan sistem pendidikan nasional yang lebih kokoh dalam membentuk watak. Kebiasaan sederhana seperti bangun pagi dan hidup rukun bersama teman dinilai sebagai implementasi nyata dari pendidikan karakter yang sering kali terlupakan dalam kurikulum yang padat.
Pilar Kerendahan Hati
Dalam sambutannya, Prof Mu’ti memberikan sorotan khusus pada pilar ketiga, yakni humble atau kerendahan hati. Ia berargumen bahwa di tengah disrupsi teknologi dan persaingan global, dunia tidak kekurangan orang pintar, namun mengalami krisis figur yang memiliki adab dan akhlakul karimah.
"Kalian boleh menjadi jenius, ahli teknologi paling hebat, atau pengusaha sukses yang menguasai pasar global. Namun, ingat, kepintaran tanpa kerendahan hati adalah kesuksesan yang rapuh. Akhlak yang baik adalah pengikat dari semua kompetensi yang kalian miliki," ucapnya dengan nada tegas.
Pernyataan ini seolah menjadi antitesis terhadap tren pendidikan global yang sering kali hanya memuja capaian kognitif. Bagi pemerintah, integritas dan etika harus menjadi "jangkar" bagi kecerdasan intelektual agar generasi masa depan tidak tercerabut dari akar budayanya.
Revitalisasi dan Digitalisasi
Namun, penguatan karakter tentu memerlukan dukungan ekosistem yang layak. Dalam kesempatan yang sama, Bupati OKU Timur Lanosin mengungkapkan bahwa Kabupaten OKU Timur telah menerima kucuran dana revitalisasi pendidikan senilai Rp 23,8 miliar dari pemerintah pusat. Dana tersebut dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur di 29 sekolah di Bumi Sebiduk Sehaluan.
Selain aspek fisik, digitalisasi juga menjadi prioritas. Transformasi ini ditandai dengan bantuan perangkat teknologi berupa Interactive Flat Panel (papan tulis digital) serta Laptop Merah Putih untuk menunjang pembelajaran berbasis teknologi informasi.
"Kami berkomitmen untuk memanusiakan manusia melalui pendidikan. Dukungan sarana prasarana dari kementerian akan kami optimalkan untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas otak, tapi juga mulia wataknya," tutur Lanosin.
Sentuhan Humanis
Suasana formal birokrasi mencair saat Mu’ti turun dari podium untuk berinteraksi langsung dengan para siswa. Tanpa sekat, ia mengajak siswa bernyanyi bersama lagu "Hidup Rukun Bersama Teman" dan menggelar kuis dadakan. Bagi warga sekolah, momen ini memberikan kesan mendalam.
Siti Rahma, seorang guru senior di SMPN 1 Belitang, mengaku terharu melihat gestur sang menteri. "Seumur hidup saya mengajar, baru kali ini melihat menteri yang begitu luwes senam bersama kami. Pak Menteri telah memberikan contoh nyata tentang pilar humble yang beliau sampaikan. Beliau mengajarkan kami untuk mendidik dengan hati," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Hal serupa dirasakan Dimas, siswa kelas 8. Baginya, percakapan singkat dengan menteri tentang cita-cita menjadi motivasi besar. "Saya berjanji akan mengingat pesan beliau untuk selalu rendah hati dan rajin bangun pagi demi masa depan saya," kata Dimas penuh semangat.
Kunjungan diakhiri dengan peninjauan fasilitas kelas yang baru direvitalisasi. Kehadiran pejabat negara ke pelosok daerah seperti Belitang ini membawa pesan kuat bahwa perhatian pemerintah tidak lagi tersentralisasi di kota besar.
Melalui integrasi kebijakan "Pagi Ceria", penguatan tiga pilar karakter, dan dukungan infrastruktur teknologi, sekolah-sekolah di daerah diharapkan bertransformasi menjadi inkubator generasi unggul.
Apa yang dimulai di lapangan SMPN 1 Belitang pagi itu diharapkan menjadi percikan semangat yang menjalar ke seluruh pelosok Nusantara. Sebuah ikhtiar untuk memastikan fajar Indonesia Emas 2045 kelak disambut oleh generasi yang tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga memiliki martabat dan karakter yang kokoh sebagai bangsa Indonesia.
Peliput : Firmansyah
Penyunting: Eko B Harsono