Berita
Hangat dalam Harmoni Keberagaman, Tiga Kementerian Rayakan Natal sebagai Satu Keluarga
Berita 2026-01-15 | 15:28:00
PAUDPEDIA JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk pusat kota Jakarta, sebuah pemandangan menyejukkan terlihat di Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Rabu (14/1). Bukan tentang rapat birokrasi yang kaku, melainkan tentang senyum, jabat tangan erat, dan lantunan kidung damai yang menyatukan ribuan pegawai dari tiga kementerian sekaligus.
Kemendikdasmen, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melebur dalam satu perayaan: Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Acara ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan refleksi mendalam tentang pentingnya rumah dan keluarga sebagai fondasi karakter bangsa.
Keluarga sebagai Kompas Moral
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, dalam sambutannya menekankan bahwa pendidikan karakter yang paling utama tidak dimulai di ruang kelas, melainkan di meja makan keluarga.
“Keluarga adalah basis dalam membangun kehidupan yang damai. Dari sanalah tata kehidupan berbangsa yang rukun dan bersatu bermula,” ujar Mu’ti.
Ia mengajak seluruh jajaran kementerian untuk melihat keluarga sebagai ekosistem utama yang harus diperkuat, selain sekolah, masyarakat, dan media massa.
Pesan humanis juga mengalir saat Prof Mu’ti menyinggung soal toleransi. Baginya, toleransi bukan sekadar teori di buku teks, melainkan praktik perjumpaan. Ia mendorong agar anak-anak dibiasakan berinteraksi dengan mereka yang berbeda keyakinan melalui percakapan yang jujur dan tulus. “Perbedaan bukanlah pemisah, melainkan persatuan itu sendiri,” tegasnya.
Harmoni dalam "Mega Diversity"
Senada dengan hal tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti kekayaan mega diversity Indonesia. Ia memandang keberagaman suku dan agama sebagai "otot" yang memperkuat tubuh bangsa, bukan ancaman yang melemahkan.
"Persatuan adalah modal besar kita menuju Indonesia Emas 2045. Keluarga memiliki peran strategis untuk menjaga nilai ini agar tetap hidup di tengah arus zaman," tutur Fadli.
Kehangatan acara semakin terasa saat para menteri secara simbolis menyerahkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatra. Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik perayaan yang khidmat, ada empati yang melintasi batas geografis dan keyakinan.
Lantunan Damai Lintas Generasi
Suasana haru dan ceria silih berganti mewarnai aula. Penampilan polos namun penuh semangat dari Paduan Suara SD Mardi Yuana Depok, harmoni suara mahasiswa Satyawacana, hingga grup vokal BPMP Sulawesi Utara menciptakan atmosfer kekeluargaan yang kental.
Refleksi Natal yang dibawakan oleh Pastor Yustinus Ardianto dan pesan damai dari Pendeta Henriette T. Hutabarat Lebang seolah mengunci komitmen bersama: bahwa bekerja di kementerian bukan hanya soal mengabdi pada negara, tapi juga tentang merawat kemanusiaan.
Ketua Panitia, Febry H.J. Dien, mengungkapkan rasa syukurnya atas kolaborasi lintas kementerian ini. Menurutnya, kehadiran para pejabat hingga staf biasa dalam satu forum mencerminkan semangat "satu rumah" yang ingin terus dijaga.
Perayaan ini berakhir dengan ramah tamah sederhana. Di sana, sekat-sekat jabatan dan perbedaan keyakinan melebur dalam tawa dan harapan baru untuk tahun 2026. Sebuah pesan kuat dikirimkan dari jantung Jakarta: bahwa dalam kebersamaan, Indonesia menemukan kekuatannya.
Penyunting: Eko B Harsono
Sumber : Siaran Pers BKHM Kemendikdasmen