Berita
Direktorat PAUD dan PP Aisyiyah Kolaborasi Salurkan Bantuan dan Dukungan Psikososial Pemulihan Satuan PAUD Terdampak Bencana di Sumatera
Berita 2026-01-19 | 06:05:00
PAUDPEDIA Kuala Simpang — Upaya pemulihan layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di wilayah terdampak bencana di Pulau Sumatera terus dikebut. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Pimpinan Pusat ’Aisyiyah menerjunkan tim untuk menyalurkan bantuan sarana pembelajaran sekaligus memberikan layanan dukungan psikososial bagi peserta didik, pendidik, dan orangtua di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Langkah ini diambil guna memastikan hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan tetap terpenuhi meski dalam kondisi darurat. Bencana alam yang melanda ketiga provinsi tersebut pada akhir tahun lalu hingga awal Januari 2026 telah merusak sarana prasarana sekolah dan meninggalkan trauma mendalam bagi warga sekolah, khususnya anak-anak usia dini yang sangat rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Tim yang terdiri dari Aditya Pratama Jaya Wardani, Arizka Pradnya Arestrias, Achmad Dafik Idris, dan Galih Satria Panuntun melaksanakan kunjungan maraton selama empat hari, mulai Minggu (11/1/2026) hingga Rabu (14/1/2026).
Fokus utama kunjungan adalah memberikan bantuan fisik dan pendampingan mental agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan secara aman, nyaman, dan menyenangkan.
Pemulihan di Serambi Mekkah
Di Provinsi Aceh, pusat kegiatan dipusatkan di Masjid Taqwa Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Senin (12/1/2026). Lokasi ini dipilih sebagai titik kumpul bagi beberapa satuan PAUD terdampak di wilayah sekitarnya.
Sejak pagi, suasana masjid dipenuhi oleh gelak tawa anak-anak yang mengikuti sesi psikososial, sebuah pemandangan kontras dibandingkan beberapa pekan sebelumnya saat banjir melanda wilayah tersebut.
Tim Direktorat PAUD tidak hanya datang membawa bantuan material, tetapi juga membawa misi pemulihan mental.
"Anak-anak memerlukan ruang untuk merasa aman kembali. Dukungan psikososial ini adalah fondasi agar mereka tidak takut untuk kembali ke sekolah," ujar salah satu anggota tim di lokasi.
Di Aceh, bantuan disalurkan kepada delapan satuan PAUD yang tersebar di beberapa kabupaten/kota, termasuk Aceh Tengah, Aceh Singkil, Kota Langsa, Subulussalam, Aceh Utara, Bireun, Lhokseumawe, hingga Aceh Tamiang. Selain Alat Permainan Edukatif (APE) dan buku bacaan anak, Kemendikdasmen juga mengalokasikan bantuan dana pembersihan lumpur bagi sekolah-sekolah yang bangunannya sempat terendam banjir.
Beberapa sekolah penerima bantuan di Aceh antara lain TK 'Aisyiyah Langsa, TK ABA Mendale, TK ABA Gegarang Bintang, hingga KB Thariqul Jannah di Aceh Tamiang. Penyaluran bantuan dilakukan secara simbolis kepada perwakilan kepala sekolah dengan disaksikan oleh perwakilan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Aceh.
Meninjau Kondisi Faktual
Selain seremoni penyerahan bantuan, tim juga melakukan kunjungan kerja langsung ke lapangan (onsite) untuk melihat kondisi faktual. Di Aceh Tamiang, tim mengunjungi TK ABA Rantau dan TK ABA Kuala Simpang. Di sana, tim melihat langsung sisa-sisa kerusakan sarana prasarana. Beberapa ruang kelas masih dalam proses pembersihan, sementara alat peraga edukasi banyak yang rusak akibat terendam air dan lumpur.
Dialog dengan para pendidik mengungkap tantangan berat yang dihadapi di lapangan. Selain kehilangan alat ajar, para guru juga harus berhadapan dengan kondisi psikologis anak-anak yang cemas jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi. Oleh karena itu, kehadiran tim pusat diharapkan menjadi suntikan moral bagi para pejuang pendidikan di garda terdepan.
Layanan Lintas Provinsi
Sebelum mencapai Aceh, tim terlebih dahulu mengawali misi kemanusiaan ini di Kota Medan, Sumatera Utara, pada Minggu (11/1/2026). Bertempat di TK ABA 12 Medan, tim menyalurkan 10 paket APE dan buku bacaan, serta bantuan pembersihan lumpur untuk tujuh satuan PAUD di wilayah Sumatera Utara, termasuk di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Langkat, dan Binjai.
Sesi psikososial di Medan juga melibatkan peran aktif orangtua. Tim menekankan bahwa pemulihan trauma anak tidak bisa dilakukan oleh guru saja di sekolah, melainkan harus didukung oleh suasana tenang di rumah.
"Penguatan rohani dan pendampingan emosional adalah kunci keberlanjutan layanan PAUD pascabencana," demikian ditekankan dalam materi dukungan psikososial yang disampaikan.
Setelah menyelesaikan agenda di Aceh, tim bergerak menuju Provinsi Sumatera Barat pada Selasa (13/1/2026). Di Ranah Minang, kegiatan dipusatkan di TK Muhammadiyah Maninjau, Kabupaten Agam. Sebanyak 25 paket bantuan disiapkan untuk PW 'Aisyiyah Sumatera Barat yang akan didistribusikan ke berbagai titik terdampak, seperti Solok, Pesisir Selatan, dan Agam.
Sinergi dan Keberlanjutan
Kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi antara pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen dengan organisasi kemasyarakatan seperti 'Aisyiyah. Pelibatan tokoh masyarakat dan agama terbukti efektif dalam mempercepat proses trauma healing.
Dalam setiap sesi, materi kebijakan Kemendikdasmen juga disampaikan untuk memberikan kepastian bagi pengelola sekolah bahwa pemerintah hadir dan berkomitmen mendukung keberlanjutan layanan pendidikan.
Rita Pranawati, perwakilan dari tim pusat, dalam paparannya di setiap lokasi menekankan pentingnya kebijakan yang responsif terhadap bencana. Menurutnya, PAUD bukan sekadar tempat bermain, melainkan lingkungan pertumbuhan yang harus segera dipulihkan fungsinya agar masa perkembangan emas (golden age) anak-anak tidak terganggu oleh dampak bencana yang berkepanjangan.
Harapan Pasca Kunjungan
Meski penyaluran bantuan telah selesai dilaksanakan, laporan tim mencatat beberapa saran krusial bagi pemangku kepentingan di daerah. Salah satunya adalah perlunya pendampingan psikososial yang terstruktur dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sekali jalan. Selain itu, koordinasi data antara pemerintah daerah dan pusat perlu terus diperkuat agar bantuan di masa depan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.
"Dukungan fisik seperti gedung dan alat main memang penting, tetapi membangun kembali jiwa anak-anak dan semangat para guru adalah hal yang utama," tulis tim dalam simpulan laporannya.
Kunjungan ini diakhiri pada Rabu (14/1/2026) dengan kepulangan tim ke Jakarta. Namun, misi pemulihan pendidikan di Sumatera dipastikan belum berakhir. Penyaluran dana bantuan melalui rekening masing-masing satuan pendidikan diharapkan dapat segera digunakan untuk membersihkan lingkungan belajar, sehingga dalam waktu dekat, tidak ada lagi anak-anak di Aceh, Sumatera Utara, maupun Sumatera Barat yang harus belajar di tengah sisa lumpur atau di bawah bayang-bayang trauma.
Kini, bola berada di tangan pemerintah daerah dan pengelola satuan untuk memastikan amanah bantuan tersebut bertransformasi menjadi semangat baru bagi pendidikan anak usia dini di wilayah terdampak. Sebab, dari sekolah-sekolah di pelosok Aceh hingga tepian Danau Maninjau inilah, masa depan bangsa tetap harus dipupuk, apa pun kondisinya.
Penyunting : Eko B Harsono
Sumber Berita Laporan Tim Direktorat PAUD: Aditya Pratama Jaya Wardani, Arizka Pradnya Arestrias, Achmad Dafik Idris dan Galih Satria Panuntun