Berita
Dari 40 Juta Peserta Didik Terdata di Dapodik Kemendikdasmen Hanya 379.000 Murid Unggul, Pemerintah Perkuat Fondasi Sejak Usia Dini di Satuan PAUD
Berita 2026-02-04 | 09:09:00
PAUDPEDIA JAKARTA — Pemerintah mulai menggeser paradigma pembangunan sumber daya manusia dengan menempatkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukan lagi sekadar penitipan anak, melainkan fase fondasi investasi strategis negara. Langkah ini diambil setelah kajian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan baru 379.000 dari 40 juta peserta didik yang teridentifikasi memiliki talenta unggul.
Kesenjangan tajam tersebut—di mana jumlah talenta unggul belum mencapai satu persen dari total populasi siswa—menjadi alarm bagi masa depan daya saing nasional. Dalam Taklimat Media di Jakarta, Senin (2/2/2026), pemerintah menegaskan bahwa penguatan fase fondasi di jenjang PAUD dan kelas awal sekolah dasar menjadi harga mati jika Indonesia ingin memanen talenta di masa depan.
Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen Talenta, Mariman Darto, menjelaskan bahwa penekanan pada fase fondasi ini didasarkan pada berbagai hasil penelitian global maupun domestik. Riset menunjukkan bahwa investasi pendidikan di usia dini memberikan pengembalian ekonomi (rate of return) paling tinggi dibandingkan intervensi di jenjang pendidikan menengah atau tinggi.
"Banyak penelitian, termasuk dari peraih Nobel Ekonomi James Heckman, membuktikan bahwa setiap satu dolar yang diinvestasikan pada pendidikan berkualitas di usia dini dapat menghasilkan keuntungan berkali-kali lipat bagi negara melalui peningkatan produktivitas dan pengurangan biaya sosial di masa depan," ujar Mariman.
Lahirnya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 25 Tahun 2025 menjadi instrumen hukum pertama yang secara radikal mengatur manajemen talenta sejak anak berada di fase fondasi. Mariman menegaskan bahwa identifikasi talenta yang terlambat hanya akan membuat potensi anak bangsa "layu sebelum berkembang".
Memutus Rantai Kesenjangan
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene Herdjiono, menambahkan bahwa angka 379.000 talenta yang terdeteksi saat ini merupakan cermin dari belum optimalnya pendeteksian di usia dini. Tanpa sistem identifikasi yang dimulai dari PAUD, banyak anak berbakat dari keluarga prasejahtera atau daerah terpencil yang tidak pernah tersentuh oleh radar pemerintah.
"Manajemen talenta adalah lari maraton, bukan sprint. Jika fondasinya rapuh di awal, maka pada saat anak masuk jenjang sekolah menengah, kita sudah terlambat untuk melakukan intervensi," kata Irene.
Melalui Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT), pemerintah kini mengintegrasikan data perkembangan anak sejak usia dini. Sekolah-sekolah PAUD didorong tidak hanya fokus pada aspek kognitif sempit, tetapi pada pengembangan minat, bakat, dan karakter yang akan menjadi basis bagi lima tahapan manajemen talenta: identifikasi, pengembangan, aktualisasi, apresiasi, dan kapitalisasi.
Intervensi Berbasis Data
Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi, Biyanto, menyatakan bahwa kebijakan ini adalah wujud nyata dari kehadiran negara. Sebagai bagian dari investasi ini, pemerintah telah menyiapkan dukungan nyata melalui Beasiswa Talenta Indonesia 2026 sebanyak 6.000 kuota, yang mencakup pengembangan guru dan murid berprestasi.
Sekitar 210 di antaranya merupakan beasiswa karier belajar menuju perguruan tinggi top dunia, yang jalurnya dipersiapkan sejak anak-anak tersebut menunjukkan potensi di fase fondasi. "Kita tidak bisa berharap memanen padi yang unggul jika kita tidak menyiapkan lahan dan benihnya dengan baik sejak awal," tegas Biyanto.
Dukungan terhadap penguatan PAUD sebagai fase fondasi juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Sub Kelompok Peserta Didik dan Pendidikan Karakter Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Harmelia, melihat regulasi baru ini sebagai panduan operasional untuk memetakan talenta lebih awal. Jakarta, sebagai barometer nasional, diharapkan mampu menjadi contoh bagaimana integrasi data SIMT dimulai dari jenjang paling bawah.
Namun, tantangan besar tetap ada pada pemerataan kualitas instruksional di seluruh pelosok Nusantara. Mengubah angka 379.000 menjadi jutaan talenta unggul mensyaratkan guru-guru PAUD di daerah memiliki kapasitas untuk mendeteksi talenta non-akademik maupun akademik secara akurat.
Dengan target optimalisasi pada 2026–2030, pemerintah optimis bahwa transformasi pada fase fondasi ini akan mengubah wajah pendidikan Indonesia. Investasi pada PAUD bukan lagi dipandang sebagai beban anggaran, melainkan prasyarat mutlak untuk memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari generasi emas yang kompetitif di kancah global.
Penulis: Eko B Harsono
Sumber Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen