Berita
Berebut Follow PAUDPEDIA di Sawangan, Saat Bantal “Ayo ke PAUD” dan Buku Cerita Rakyat Karya Guru PAUD Jadi Ide Kartun Animasi Siswa SMK Multi Media di Konsolnas 2026
Berita 2026-02-10 | 08:05:00
PAUDPEDIA DEPOK – Di bawah rimbun pepohonan dan udara sejuk kawasan PPSDM Kemendikdasmen, Sawangan, sebuah keriuhan pecah. Sejak pintu pameran Konsolidasi Nasional (Konsolnas) 2026 dibuka pada 9 Februari lalu, perhatian ribuan pengunjung tersedot ke satu titik magnetis: Booth Nomor 1.
Booth milik Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah (Ditjen PAUD Dasmen) ini mendadak menjadi episentrum "perburuan" nasional. Bukan karena ada pembagian barang mewah, melainkan karena sebuah benda empuk berwarna biru cerah bertuliskan "Ayo ke PAUD". Bantal ikonik itu menjadi komoditas paling berharga selama tiga hari penyelenggaraan hingga 11 Februari 2026.
"Serangan" Digital demi Sebongkah Bantal
Penanggung Jawab Tim Komunikasi Direktorat PAUD Eko Widodo bersama dua guru PAUD serta staf Direktorat PAUD Patar Sinurat, yang bertanggung jawab menjaga "benteng" booth nomor satu, tampak kewalahan namun tetap sumringah. Keduanya bak selebritas yang tengah dikerubuti penggemar.
Puluhan pengunjung—mulai dari pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dari seluruh penjuru Indonesia hingga guru-guru dari pelosok negeri—kompak menunduk menatap layar gawai masing-masing.
Syarat untuk mendapatkan bantal "Ayo ke PAUD" memang menantang namun seru: pengunjung wajib mengikuti (follow) seluruh kanal media sosial PAUDPEDIA. Mulai dari Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, hingga X (dahulu Twitter).
"Sabar, Bapak-Ibu! Satu-satu ya, jempolnya jangan sampai kram saat follow," seloroh Eko Widodo sambil memverifikasi satu per satu akun pengunjung di tengah kepungan massa.
Para guru dan perugas booth pun dengan sigap membagikan bantal-bantal tersebut, sesekali menyeka keringat.
"Seratus bantal hari ini ludes dalam sekejap. Rasanya lebih cepat habis daripada gorengan hangat di kantin Sawangan saat jam istirahat," candanya.
Kolaborasi Tak Terduga: Dari Dongeng PAUD ke Animasi SMK
Pameran ini bukan sekadar ajang pamer aksesori. Di sudut lain booth, terjadi dialog menarik yang melintasi batas jenjang pendidikan. Sekelompok siswa SMK jurusan Multimedia asal Depok, didampingi guru mereka, tampak asyik membolak-balik paket buku terbitan Direktorat PAUD.
Sang guru meminta izin untuk membawa paket buku tersebut sebagai bahan ajar. "Jangan salah, meski ini buku untuk anak usia dini, secara visual ini adalah 'kitab suci' bagi anak-anak Multimedia kami. Kami ingin belajar cara membuat narasi yang sederhana namun kuat untuk dijadikan bahan animasi," jelas sang guru serius.
Yang lebih memukau, salah satu siswa Multimedia menunjukkan sebuah karya di tabletnya. Ia ternyata sudah berhasil mengubah salah satu Buku Cerita Rakyat hasil karya guru PAUD di Indonesia Timur—yang diterbitkan oleh Direktorat PAUD—menjadi sebuah animasi pendek yang estetik.
"Ternyata cerita dari Bapak dan Ibu guru di Papua dan Maluku itu sangat sinematik. Karakter-karakternya kuat, dan pesannya tulus. Kami di SMK tinggal memberi 'nyawa' lewat gerakan digital," ujar siswa tersebut dengan mata berbinar. Ini adalah potret nyata konsolidasi: PAUD memberi substansi, SMK memberi teknologi.
"Diplomasi" Bantal dan Seruan Ibu Direktur
Suasana semakin pecah saat Direktur PAUD, Dr. Nia Nurhasanah, M.Pd., melangkah masuk ke area pameran. Tak butuh waktu lama bagi Ibu Direktur untuk "dikepung" para guru PAUD seputar Depok dan Jakarta Selatan yang datang khusus melihat kemajuan program prioritas Kemendikdasmen.
"Ibu, senyum sedikit! Satu, dua, tiga!" teriak seorang guru sambil memegang bantal hasil buruannya saat mengajak swafoto.
Namun, tantangan sesungguhnya bagi Ibu Nia bukan sekadar berpose, melainkan menghadapi "todongan" manis dari para staf Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang datang dari luar daerah. Mereka, yang secara teknis adalah rekan sejawat, ternyata tak mau kalah dengan pengunjung umum.
"Aduh Ibu, kami dari UPT sudah tidak kebagian bantal. Stok di Mas Eko dan Mas Patar sudah habis. Boleh tidak kami minta 'jalur khusus' paket 20 buku ceritanya saja?" rengek salah satu staf UPT dengan nada bercanda.
Dr. Nia tertawa lepas menanggapi kehebohan di Sawangan tersebut. "Wah, ini tandanya program kita dicintai. Literasi bukan lagi hal yang membosankan kalau dibungkus dengan keseruan seperti ini. Untuk teman-teman UPT, nanti kita atur, tapi syaratnya tetap: pastikan buku-buku ini sampai ke tangan anak-anak di daerah, bukan cuma jadi penghuni rak kantor!" pesannya penuh semangat.
Literasi yang Hidup di Sawangan
Pameran Konsolnas 2026 di PPSDM Sawangan ini membuktikan satu hal: pendidikan tidak harus selalu kaku. Di Booth Nomor 1, batas antara birokrasi, guru, dan siswa seolah melebur dalam tawa dan berebut bantal.
Hingga hari penutupan pada 11 Februari, antrean belum juga surut. Eko dan Patar mungkin akan pulang dengan suara serak, namun senyum para pengunjung yang pulang memeluk bantal "Ayo ke PAUD" menjadi bukti bahwa pesan edukasi telah sampai ke hati masyarakat dengan cara yang paling jenaka dan menyenangkan.
Peliput : Aldo Nurhuda, Wisnu dan Aufa
Penyunting Eko Widodo dan EB Harsono