Berita
Belajar Sambil Bernyanyi dan Bermain Kiat Bersahaja Prof. Abdul Mu’ti Kenalkan Dunia Digital pada Siswa PAUD di Batulawang, Cianjur
Berita 2026-02-03 | 06:05:00
PAUDPEDIA Cianjur – Di balik rimbunnya perbukitan Batulawang, Cianjur, suara tawa anak-anak pecah dari sebuah bangunan sederhana milik Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kunang-Kunang. Hari itu bukan hari biasa bagi putra-putri para petani penggarap di sana.
Di hadapan mereka, berdiri sebuah layar besar yang bercahaya—sebuah Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital yang membawa jendela dunia ke ruang kelas mereka yang asri.
Suasana semakin hangat ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, hadir di tengah-tengah mereka. Tanpa sekat protokoler yang kaku, sang Profesor justru terlihat asyik berjongkok, menyamai tinggi badan anak-anak usia 5 hingga 7 tahun itu, mengajak mereka "bermain" dengan teknologi.
Semangat Sekolah Bertemu Bu Guru dan PID
Bagi Sri Ningsih, pengelola PKBM Bhayangkara dan PAUD Kunang-Kunang, kehadiran Papan Interaktif Digital (PID) ini adalah sebuah lompatan besar. Sehari-hari, ia berjuang memastikan pendidikan tetap berjalan bagi anak-anak petani dan remaja yang seringkali harus membagi waktu antara sekolah dan membantu orang tua di ladang.
"Dengan adanya Papan Interaktif Digital ini, kami berharap anak-anak semakin semangat belajar. Cara belajarnya jadi lebih menarik dan materi yang dipelajari lebih beragam," ujar Sri dengan mata berbinar.
Di tangan anak-anak ini, IFP bukan sekadar alat elektronik mahal. Ia adalah kanvas ajaib. Dengan satu sentuhan jemari kecil yang mungkin biasanya akrab dengan tanah, mereka kini bisa menulis, mewarnai, dan menggambar dengan warna-warna digital yang terang. Inilah wujud nyata digitalisasi yang tidak hanya menyentuh kota besar, tapi juga merangkul mereka yang berada di pinggiran.
PAUD Kunang-Kunang dan PKBM Bhayangkara bukanlah institusi pendidikan mewah di tengah kota. Sri Ningsih, sang pengelola, membangun tempat ini dengan satu visi sederhana namun mendalam: memastikan anak-anak petani penggarap di sekitarnya tidak putus sekolah.
Murid-murid di sini adalah cerminan kegigihan. Di pagi hari, anak-anak usia 5 hingga 7 tahun memenuhi ruang kelas PAUD untuk belajar dasar-dasar literasi. Sementara itu, di kelas PKBM, para remaja berusia 17 hingga 20 tahun tetap bersemangat menuntut ilmu meski tangan mereka seringkali masih berlumur tanah sehabis membantu orang tua di ladang.
“Kami melayani mereka yang berada di sela-sela aktivitas membantu orang tua. Bagi kami, sekolah harus menyesuaikan dengan kehidupan mereka, bukan sebaliknya,” ujar Sri Ningsih dengan nada suara yang penuh dedikasi. Selama bertahun-tahun, Sri berupaya menjaga agar proses belajar tetap berjalan di tengah keterbatasan sarana. Namun hari ini, doa-doanya terjawab melalui dukungan digitalisasi pembelajaran.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan berkualitas tidak boleh terjebak dalam sekat-sekat formalitas saja. Beliau membawa visi bahwa pendidikan adalah sebuah sistem belajar (learning system) yang luas.
"Kami memperkuat pendidikan tidak sekadar dengan sistem sekolah (schooling), tetapi juga dengan sistem belajar (learning). Pendidikan itu tidak hanya di sekolah formal, tapi juga di lembaga nonformal dan informal," tegas Abdul Mu’ti.
Pesan ini terasa sangat relevan di PKBM Bhayangkara, di mana siswa usia 17-20 tahun tetap mengejar ketertinggalan pendidikan mereka di sela-sela kesibukan membantu ekonomi keluarga. Teknologi IFP hadir sebagai jembatan agar materi pembelajaran menjadi lebih variatif, relevan, dan tentu saja, menyenangkan.
"Di Sini Senang" dan Harapan Masa Emas
Kunjungan tersebut mencapai puncaknya saat sang Menteri mengajak seluruh murid berdiri melingkar. Suasana mencair total saat lagu "Di Sini Senang, Di Sana Senang" menggema di ruangan tersebut. Tidak ada lagi jarak antara pejabat negara dan anak desa; yang ada hanyalah kegembiraan kolektif.
Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa usia dini adalah masa emas. Jika cara belajar dan lingkungan yang diciptakan sejak kecil sudah menyenangkan dan bebas dari kekerasan, maka karakter anak ke depan akan terbangun kuat.
"Semangat ya, rajin belajar. Semoga sekolahnya terus berjalan dan anak-anaknya terus maju," bisik sang Menteri kepada salah satu murid sebelum berpamitan.
Digitalisasi di PAUD Kunang-Kunang adalah sebuah metafora. Papan Interaktif Digital tersebut hanyalah alat, namun semangat yang dibawanya adalah bahan bakar bagi perubahan. Di tengah keterbatasan ekonomi dan akses, kehadiran pemerintah yang membawa teknologi ke pelosok adalah bukti bahwa keadilan sosial dalam pendidikan mulai diwujudkan.
Melalui sinergi antara jalur formal, nonformal, dan informal, Kemendikdasmen tengah merajut jaring pengaman pendidikan yang lebih luas. Di Cianjur, kita melihat bahwa pendidikan yang berkualitas bukan lagi tentang gedung yang megah, melainkan tentang guru yang berdedikasi seperti Sri Ningsih, teknologi yang inklusif, dan kehadiran pemimpin yang mau mendengar detak jantung rakyatnya langsung dari bawah.
Hari itu, Kunang-Kunang dari Batulawang tidak lagi hanya bercahaya redup di malam hari. Dengan dukungan digitalisasi, mereka siap terbang lebih tinggi, menerangi masa depan Indonesia dengan ilmu yang mereka dapati dari papan digital ajaib di ruang kelas mereka yang sederhana.
Hari itu, di Batulawang, teknologi tidak datang untuk menggantikan peran guru, melainkan untuk memantik api rasa ingin tahu. Di atas papan interaktif itu, anak-anak Cianjur tidak hanya belajar menggambar garis, mereka sedang melukis masa depan yang lebih cerah.
Peliput : Firmansyah
Penyunting: Eko B Harsono