Berita
Transformasi Pendidikan 3T dan Senyum di Beranda Negeri Perbatasan RI - PNG, Ketika TK Negeri di Keerom Papuat Sambut Ruang Kelas Baru
Berita 2026-02-23 | 14:05:00
PAUDPEDIA Jakarta__Revitalisasi Satuan Pendidikan yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus menunjukkan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran di berbagai penjuru Nusantara, termasuk di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Program ini tidak sekadar menghadirkan perbaikan fisik bangunan sekolah, melainkan juga memperkuat lingkungan belajar yang lebih aman dan menjadi bukti nyata upaya perwujudan visi "Pendidikan Bermutu untuk Semua".
Di tengah ambisi besar menuju Indonesia Emas 2045, wajah pendidikan di tapal batas mulai bersalin rupa. Sejumlah capaian hasil revitalisasi dari kepala satuan pendidikan di daerah 3T menjadi saksi bisu munculnya dampak positif yang sistemik.
Mulai dari meningkatnya semangat belajar siswa, kualitas proses pembelajaran yang kian mumpuni, hingga tumbuhnya rasa percaya diri sekolah dalam memberikan layanan pendidikan bermutu. Tak kalah penting, program ini berhasil memperkuat kembali tali kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan formal.
Sebagai informasi, tahun 2025 jumlah revitalisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah berjumlah 14.072 satuan pendidikan. Dengan rincian 1.515 PAUD, 6.328 SD, 3.989 SMP, dan 2.240 SMA. Khusus untuk daerah 3T, revitalisasi menjangkau 76 PAUD, 419 SD, 325 SMP, dan 129 SMA.
Kegembiraan di Satuan PAUD Tapal Batas Negara
Suara riuh rendah anak-anak usia dini memecah kesunyian di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Di TK Negeri Pembina Senggi, sebuah sekolah yang berdiri tegak di garis depan perbatasan Indonesia-Papua Nugini, perubahan itu bukan lagi sekadar janji di atas kertas.
Kepala TK Pembina Negeri Senggi, Albertina Insyur, mengisahkan bagaimana tahun 2025 menjadi titik balik bagi sekolahnya. Setelah bertahun-tahun luput dari sentuhan pembangunan, sekolah ini akhirnya mendapatkan empat menu bantuan revitalisasi yang komprehensif: rehabilitasi tiga ruang kelas baru (RKB), pembangunan toilet yang layak, pembangunan ruang kelas tambahan, serta ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
"Kami sangat bersyukur dengan revitalisasi ini. Sebagai sekolah yang berada di tapal batas, bertahun-tahun sekolah kami belum tersentuh pembangunan. Terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Kemendikdasmen yang telah memberikan perhatian kepada kami," tutur Albertina dengan nada haru.
Bagi Albertina, dampak yang paling menyesakkan dada sekaligus membahagiakan adalah melihat binar mata murid-muridnya. "Semua murid sangat bahagia karena kini memiliki fasilitas baru dan lingkungan belajar yang jauh lebih nyaman," tambahnya. Kenyamanan di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah fondasi krusial; di sinilah karakter dan kecintaan anak terhadap sekolah pertama kali dibentuk.
Ekonomi Kerakyatan di Balik Debu Kontruksi
Menariknya, revitalisasi ini tidak menggunakan jasa kontraktor besar dari ibu kota provinsi. Pemerintah konsisten menerapkan skema swakelola. Menurut Albertina, mekanisme ini memberikan dampak ikutan (multiplier effect) yang luar biasa bagi masyarakat sekitar Senggi.
Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam proses pembangunan. Hal ini menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat. Masyarakat merasa gedung tersebut adalah milik mereka yang harus dijaga bersama. Di sisi lain, aktivitas pembangunan ini menggerakkan roda ekonomi lokal. Toko-toko material bangunan hingga kios-kios kecil penyedia konsumsi bagi pekerja turut merasakan kucuran dana revitalisasi tersebut.
"Kami berharap program ini terus dilanjutkan. Program ini mampu membuat murid kami lebih giat belajar, sehingga kelak mereka tumbuh menjadi Generasi Emas 2045," harap Albertina.
Melalui keberlanjutan program revitalisasi ini, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk menghadirkan keadilan sosial melalui infrastruktur pendidikan. Dari PAUD hingga sekolah menengah di pelosok Papua, setiap anak Indonesia berhak atas ruang kelas yang memanusiakan mereka.
Dengan lingkungan belajar yang aman, layak, dan bermartabat, pendidikan diharapkan mampu menjadi eskalator sosial yang membawa anak-anak bangsa keluar dari jerat ketimpangan. Pembangunan fisik ini adalah investasi jangka panjang untuk memastikan bahwa pada tahun 2045 kelak, Indonesia tidak hanya emas di atas kertas, tapi emas dalam kualitas manusia-manusianya.
Penulis: Eko B Harsono
Penyunting: Eko Widodo