Berita
SiMHabit Inovasi Digital Yogyakarta untuk Akselerasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Pantau Kedisiplinan Melalui Kearifan Lokal
Berita 2026-02-13 | 05:50:00
PAUDPEDIA JAKARTA - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menawarkan model baru dalam penguatan karakter siswa di tengah arus digitalisasi. Melalui aplikasi SiMHabit yang dipadukan dengan Pendidikan Khas Kejogjaan, Yogyakarta berupaya memastikan nilai-nilai moral tidak hanya menjadi teks di kurikulum, tetapi menjadi perilaku harian yang terukur dan berakar pada budaya.
Inovasi tersebut menjadi sorotan utama dalam Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (Konsolnas) 2026 di Jakarta, Rabu (11/2/2026). Di hadapan para pemangku kepentingan pendidikan se-Indonesia, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY Suhirman memaparkan bagaimana teknologi digital digunakan untuk "menemani" keseharian siswa melalui sistem monitoring kebiasaan.
Aplikasi SiMHabit—singkatan dari Sistem Monitoring 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat—merupakan platform digital yang dikembangkan untuk merekam habituasi positif siswa secara real-time. Platform ini merujuk pada gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
"Karakter itu bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari pengulangan atau habituasi yang konsisten. SiMHabit adalah instrumen untuk memastikan siswa tetap memiliki arah, bahkan saat mereka sudah berada di luar gerbang sekolah," ujar Suhirman.
Kejujuran Digital Penting
Aplikasi ini lahir dari inisiasi para pendidik di SMA Negeri 1 Yogyakarta. Dalam praktiknya, setiap siswa secara mandiri mengisi jurnal kegiatan harian mereka, mulai dari menunaikan ibadah, membantu orang tua, hingga aktivitas sosial lainnya.
Aspek integritas menjadi fondasi utama. Meski tidak diawasi secara langsung oleh guru di rumah, siswa dilatih untuk jujur dalam melaporkan aktivitasnya. Data ini kemudian membentuk ekosistem kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Setiap bulan, orang tua menerima laporan perkembangan perilaku anak yang dipotret melalui grafik pencapaian.
Jika grafik menunjukkan penurunan perilaku, sekolah tidak mengedepankan hukuman. Pendekatan yang diambil adalah dialog humanis antara guru, orang tua, dan siswa.
"Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Kami ingin melampaui sekadar angka-angka akademis; ini adalah upaya memanusiakan manusia," tambah Suhirman.
Di SMA Negeri 8 Yogyakarta, penerapan 7 KAIH ini dikompetisikan secara positif. Siswa yang menunjukkan konsistensi tinggi dalam melakukan habituasi kebaikan mendapatkan penghargaan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kesadaran kolektif bahwa integritas dan kebaikan adalah nilai yang patut dirayakan di lingkungan sekolah.
Akar Budaya Bangsa
Kendati menggunakan instrumen teknologi modern, Pemerintah Provinsi DIY tetap membentengi para siswa dengan identitas lokal yang kuat. Nilai 7 KAIH yang bersifat nasional diintegrasikan dengan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur DIY Nomor 40 Tahun 2022.
Tujuannya adalah membentuk Jalma Kang Utama, yakni manusia unggul yang tetap memegang teguh tata krama (unggah-ungguh) dan rendah hati (andhap asor). Implementasi ini terlihat dalam keseharian sekolah di Yogyakarta, di mana siswa terbiasa melakukan posisi ngapurancang saat berbicara dengan guru serta melestarikan budaya tegur sapa seperti nuwun sewu dan nderek langkung.
Kekuatan budaya ini semakin dipertegas setiap hari Kamis melalui penggunaan busana adat gagrak Yogyakarta. Aktivitas membatik dan karawitan juga tetap menjadi bagian dari kurikulum mingguan untuk mengasah rasa dan estetika siswa.
"Kami ingin murid-murid kami menjadi anak Indonesia yang hebat secara nasional, namun tetap memiliki akar budaya yang kuat sebagai orang Yogyakarta," kata Suhirman.
Menurutnya, integrasi ini dapat menjadi cetak biru (blueprint) bagi daerah lain untuk menyisipkan kearifan lokal masing-masing seperti budaya Sunda, Minang, hingga Papua ke dalam kerangka nasional 7 KAIH.
Tantangan Empati
Inovasi dari Yogyakarta ini dinilai sebagai langkah konkret dalam menjawab kekhawatiran publik mengenai fenomena "zombie digital" atau generasi yang kehilangan empati akibat ketergantungan pada gawai.
Melalui fitur 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) yang terekam dalam SiMHabit, teknologi diposisikan sebagai alat untuk memperkuat kemanusiaan.
Salah seorang guru di Yogyakarta mengungkapkan bahwa tantangan pendidikan saat ini bukan lagi sekadar mengajarkan sains, melainkan memastikan anak didik tetap memiliki kepekaan rasa saat berinteraksi dengan sesama.
Upaya Yogyakarta menunjukkan bahwa pendidikan karakter di era digital memerlukan keseimbangan antara kecanggihan algoritma dan kelembutan budi pekerti. Dengan SiMHabit, budi pekerti kini memiliki rekaman data yang sistematis, namun detaknya tetap seirama dengan nilai luhur yang membumi.
Peliput: Tim Komunikasi Direktorat PAUD
Penyunting: Eko B Harsono