Berita
Senyum Mursyidah di Penghujung Purna Tugas Kepala Sekolah, Fajar Baru Merekah dari TK Negeri Mujahidin Bireun Aceh
Berita 2026-03-10 | 15:30:00
BIREUEN ACEH PAUDPEDIA — Matahari pagi menyelinap di sela-sela rimbun pepohonan di Kecamatan Jeneib, Kabupaten Bireuen. Di sebuah sudut sekolah yang kini tampak lebih segar, Mursyidah (58) berdiri menatap dinding-dinding kelas yang baru saja bersolek.
Bagi Kepala TK Negeri Mujahidin ini, aroma cat yang akan menghiasi sekolahnya bukan sekadar tanda fisik bangunan yang siap pulih, melainkan kado perpisahan paling manis bagi pengabdiannya yang membentang selama 38 tahun.
Mursyidah adalah potret keteguhan. Sejak tahun 1986, ia telah mewakafkan hari-harinya untuk mendidik tunas-tunas bangsa di Tanah Rencong. Dari masa honorer hingga menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia telah melihat pasang surut dunia pendidikan di daerahnya. Namun, tahun 2026 ini akan selalu ia catat dalam memori terdalamnya sebagai tahun "Revitalisasi".
"Alhamdulillah, kami sangat senang. Kemarin-kemarin anak-anak kami kewalahan karena jumlahnya banyak, mencapai 120 siswa, sementara lokal (kelas) tidak cukup," ujar Mursyidah dengan suara yang bergetar oleh rasa syukur.
Melalui program revitalisasi sekolah, TK Negeri Mujahidin mendapatkan bantuan Ruang Kelas Baru (RKB), rehabilitasi bangunan, hingga pemagaran sekolah. Bagi sekolah yang terletak di daerah yang kerap diuji alam ini, bantuan tersebut adalah napas baru.
Trauma Banjir dan Meja yang Hancur
Ingatan Mursyidah mendadak mundur pada peristiwa pahit beberapa waktu lalu. Banjir besar sempat mengepung sekolah mereka. Air bah setinggi leher orang dewasa merendam impian-impian kecil di dalam kelas.
"Waktu itu air lebih dari dua meter. Kami hanya bisa menunggu air surut sebelum berani masuk ke sekolah," kenangnya.
Saat air mulai turun, pemandangan memilukan menyambut mereka. Meja-meja belajar jenis olympic yang menjadi kawan anak-anak belajar, hancur tak bersisa akibat rendaman air. Kursi-kursi patah, dan sebuah televisi bantuan berukuran besar kini hanya menjadi rongsokan bisu di sudut ruangan.
Bahkan, fasilitas sanitasi pun lumpuh. "Toilet rusak, tidak bisa dipakai. Kalau anak-anak mau buang air kecil, terpaksa kami minta orang tuanya membawa pulang dulu. Benar-benar sulit," tutur Mursyidah.
Kini, luka akibat banjir itu perlahan tertutup. Revitalisasi tidak hanya memperbaiki fisik, tapi juga memulihkan mentalitas belajar. Kehadiran pagar sekolah yang baru memberikan rasa aman, memastikan anak-anak tidak lagi bermain di area yang membahayakan atau terpapar langsung dengan lingkungan luar yang tak terkendali.
Cerita Pohon Tua
Proses pengerjaan revitalisasi ini pun menyimpan cerita unik yang menyentuh sisi kemanusiaan Mursyidah. Ia mengisahkan momen saat beberapa pohon besar di area sekolah harus dipangkas karena letaknya yang berdempetan dengan kabel listrik bertegangan tinggi.
"Waktu orang-orang naik untuk memotong batang pohon itu, saya sangat sedih. Bukan karena pohonnya, tapi saya takut mereka jatuh. Rasanya was-was sekali melihat perjuangan mereka," ceritanya sambil tersenyum kecil mengingat kekhawatiran yang sempat menghinggapinya.
Namun, di balik kekhawatiran itu, ia melihat dampak ekonomi yang nyata bagi warga sekitar. Material bangunan diambil dari toko terdekat, dan urusan konsumsi para tukang pun melibatkan warung-warung tetangga. Program ini menjadi denyut nadi baru bagi ekonomi masyarakat Jeunieb yang sempat lesu.
Dukungan dari orang tua murid pun mengalir deras. Mereka bahu-membahu membersihkan sisa-sisa renovasi agar anak-anak bisa segera belajar dengan nyaman. Sinergi ini, menurut Mursyidah, adalah modal sosial yang tak ternilai harganya.
Menanti Pensiun dengan Harapan
Desember 2026 nanti, Mursyidah akan menanggalkan seragam cokelatnya. Ia akan memasuki masa purna tugas. Revitalisasi ini seolah menjadi "warisan" terakhir yang ia perjuangkan untuk anak-anak didiknya.
Meski bangunan sudah kokoh, ia masih menyimpan secercah harap agar pemerintah terus memperhatikan kelengkapan fasilitas penunjang lainnya.
"Harapan kami ke depan, kalau bisa ada bantuan lagi untuk Alat Tulis Kantor (ATK) dan Alat Peraga Edukasi (APE). Itu sangat penting untuk tumbuh kembang anak-anak kami di sini," harapnya.
Sebelum menutup percakapan, Mursyidah menitipkan pesan mendalam bagi pemerintah. Ia ingin kebahagiaan yang dirasakan guru dan murid di TK Negeri Mujahidin juga dirasakan oleh sekolah-sekolah lain di pelosok Aceh maupun Indonesia.
"Terima kasih kepada Bapak Menteri, dinas terkait, dan Bapak Presiden Prabowo yang telah memberikan dukungan pembangunan ini. Dengan gedung yang baik siap dibangun, nantinya anak-anak kami bisa belajar dengan tenang dan menjadi generasi yang hebat di masa depan," pungkasnya.
Langkah kaki Mursyidah terdengar mantap saat ia akan menyusuri selasar kelas yang baru. Di ujung pengabdiannya, ia tidak lagi meninggalkan gedung yang rapuh atau trauma banjir yang menghantui. Ia meninggalkan sebuah harapan yang berdiri tegak, sekuat dinding-dinding baru TK Negeri Mujahidin.
Peliput : Eko Widodo dan Aldo Nurhuda
Penyunting : EB Harsono