Berita
Lentera di Puncak Kareumbi: Perjuangan TK Bhakti Putra Merebut Masa Depan di Tengah Kepungan Kabut dan Intimidasi
Berita 2025-12-29 | 08:57:00
SUMEDANG – Di ketinggian Kecamatan Cilembu, di mana kabut sering kali turun menyelimuti hamparan kebun ubi, berdiri sebuah bangunan yang kini nampak kontras dengan sekelilingnya. Gedung itu adalah TK Bhakti Putra Kareumbi. Bagi masyarakat luar, Cilembu mungkin hanya dikenal sebagai tanah penghasil ubi manis yang kenikmatannya telah diekspor hingga mancanegara dan tersaji di supermarket seluruh Indonesia.
Namun, bagi warga setempat, ada perjuangan yang jauh lebih "manis" dan mengharukan daripada ubi mereka: perjuangan membangun kembali harapan pendidikan anak-anak petani di puncak gunung.
TK Bhakti Putra Kareumbi berhasil mendapat program revitalisasi setelah berkompetisi dengan 170 satuan PAUD yang menjadi kompetitor. Perjalanan mendapatkan program revitalisasi ini bukanlah hadiah jatuh dari langit. Kepala Sekolah TK Bhakti Putra Kareumbi, Siti Musyahrafah, mengungkapkan bahwa mereka harus melewati saringan yang amat ketat. Di Kabupaten Sumedang saja, terdapat sedikitnya 170 satuan PAUD yang bersaing memperebutkan kuota bantuan dari kementerian.
"Kami ini sekolah di pelosok, nyaris di puncak gunung. Awalnya banyak yang pesimis. Namun, saya bertekad, kalau ubi kami bisa mendunia, pendidikan anak-anak kami tidak boleh tertinggal," ujar Siti.
Ia mengisahkan bagaimana dirinya begadang hingga jam 4 subuh demi memastikan data Dapodik dan dokumen teknis terunggah sempurna. Kegigihan itu membuahkan hasil; dari ratusan sekolah, TK Bhakti Putra terpilih menjadi salah satu penerima manfaat Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025 senilai Rp 767.285.000.
Swakelola Memberdayakan Tangan Petani
Berbeda dengan proyek pemerintah yang biasanya dikerjakan kontraktor besar dari luar kota, Siti memilih jalur swakelola. Ia merekrut 15 warga lokal, yang sebagian besar adalah orang tua murid dan petani ubi, untuk menjadi pekerja dan pengawas proyek.
"Saya ingin uang negara ini kembali ke masyarakat Cilembu. Para pekerja ini bukan sekadar tukang bangunan; mereka adalah ayah yang sedang membangun sekolah untuk anak-anaknya sendiri. Rasa memiliki itu membuat kualitas bangunan jauh lebih baik," tambahnya.
Dengan pengawasan ketat, para petani ini beralih profesi sejenak menjadi tukang bangunan ahli, memastikan setiap adukan semen dan pemasangan bata sesuai dengan spesifikasi teknis yang disyaratkan kementerian.
Benteng Kokoh Melawan Intimidasi
Namun, aroma dana ratusan juta rupiah ternyata mengundang "tamu tak diundang". Saat pembangunan mencapai 80%, sekolah didatangi oleh oknum ormas dan oknum LSM yang mencoba mengusik pekerjaan. Mereka mempertanyakan Rencana Anggaran Biaya (RAB) hingga mencoba mencari celah kesalahan teknis untuk meminta "jatah" atau salam tempel.
Siti Musyahrafah menunjukkan taringnya sebagai pemimpin. Ia tidak gentar menghadapi intimidasi tersebut. "Mereka datang menekan, menanyakan spesifikasi besi dan cat. Saya tegaskan kepada mereka: 'Ini adalah amanah negara untuk anak-anak kami. Jika Anda ingin melihat dokumen, silakan ke dinas terkait. Di sini hanya ada kerja nyata untuk pendidikan.' Saya bahkan meminta KTA mereka dan mengancam akan melapor ke pihak berwajib jika mereka terus mengganggu," kenang Siti dengan nada tegas.
Keberaniannya membuat para oknum tersebut mundur perlahan, meninggalkan proyek yang tetap berjalan sesuai koridor hukum.
Bertarung Melawan Cuaca Ekstrem Gunung
Tantangan tidak hanya datang dari manusia, tapi juga dari alam. Lokasi sekolah yang berada di dataran tinggi membuat cuaca menjadi musuh utama. Hujan deras dan kabut tebal kerap datang tiba-tiba, menghentikan pekerjaan pengecoran dan membuat cat dinding menjadi lembap.
"Kadang sudah dicat rapi, besoknya muncul bercak karena dinding belum kering sempurna akibat udara gunung yang basah. Kami harus mengulang pengecatan sampai empat kali demi mendapatkan hasil yang sempurna," ujar Nidja Widayanti, guru senior yang turut memantau proses pembangunan.
Medan jalan yang sempit dan menanjak juga menyulitkan truk material masuk, sehingga warga harus bahu-membahu memindahkan batu dan pasir secara manual agar proyek tidak mangkrak.
Kebahagiaan di Tanah Ubi
Kini, gedung yang dibangun selama 100 hari kalender (Agustus-November 2025) itu telah berdiri kokoh. Bagi orang tua murid, ini adalah mukjizat. Ibu Ratna, salah satu orang tua murid yang suaminya ikut menjadi pekerja proyek, mengaku sangat terharu.
"Kami ini petani ubi, setiap hari bergelut dengan tanah. Melihat anak-anak kami bisa sekolah di gedung sebagus ini, yang fondasinya kuat dan atapnya tidak bocor lagi, rasanya seperti mimpi. Kami berterima kasih karena dilibatkan langsung dalam pembangunannya," kata Ratna sambil menatap gedung baru tersebut.
Keberhasilan TK Bhakti Putra Kareumbi adalah potret perjuangan masyarakat desa yang mandiri. Di tengah harumnya aroma ubi cilembu yang dipanggang di sepanjang jalan desa, kini terpancar semangat baru dari sebuah sekolah di puncak gunung. Sebuah bukti bahwa dengan integritas, keberanian melawan pungli, dan gotong royong warga, pendidikan berkualitas bukan lagi monopoli masyarakat kota.
Tugas berat Siti Musyahrafah dan timnya kini beralih mengisi gedung megah ini dengan prestasi, agar kelak anak-anak petani ubi dari Kareumbi bisa melanglang buana, semanis dan sesukses ubi yang menjadi kebanggaan tanah kelahiran mereka.
Peliput : Wisnu dan Eko B Harsono