Berita
Digitalisasi PAUD di Daerah 3T Pulau Kepala Burung: Tantangan dan Manfaat Papan Interaktif di Distrik Sentani Papua
Berita 2026-02-23 | 14:00:00
PAUDPEDIA Sentani___Mentari pagi baru saja meninggi di langit Jalan Raya Hawai Distrik (Kecamatan) Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua namun keriuhan sudah pecah di salah satu sudut ruang kelas TK Kristen Baik. Puluhan pasang mata mungil tertuju pada sebuah layar raksasa yang bercahaya di depan kelas.
Tidak ada lagi proyektor yang harus bongkar-pasang atau kabel yang melintang semrawut. Di sana, sebuah Papan Interaktif Digital (Interactive Flat Panel/IFP) tengah memutar video "Senam Anak Indonesia Hebat".
"Dulu, kalau senam pagi, anak-anak sering loyo. Ada yang duduk-duduk saja, ada yang lari ke sana kemari tanpa arah. Tapi sekarang? Lihat saja sendiri, tidak ada lagi yang diam. Semuanya bergerak mengikuti gerakan di layar," ujar Heti Syawfaruddin, Kepala Sekolah TK Kristen Baik, dengan nada bangga.
Bagi satuan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) seperti di beberapa titik di Kabupaten Jayapura, kehadiran teknologi digital seringkali dianggap sebagai barang mewah yang jauh dari jangkauan.
Namun, melalui bantuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), digitalisasi bukan lagi sekadar mimpi bagi anak-anak Sentani.
Dari Laptop Kecil ke Layar Interaktif
Sebelum bantuan ini datang, Heti dan guru-gurunya mengandalkan laptop pribadi yang layarnya terbatas. Jika ingin menonton bersama, mereka harus berkerumun. Penggunaan proyektor atau InFocus pun kerap menemui kendala teknis; mulai dari pengaturan fokus yang rumit hingga repotnya memindahkan alat dari satu kelas ke kelas lain.
Kini, IFP atau yang oleh anak-anak sering disebut "TV Besar" itu telah menetap di satu ruang kelas. Alat ini menjadi magnet bagi tiga rombongan belajar (rombel) yang ada: TKA, TKB 1, dan TKB 2.
"Ini lebih simpel. Tinggal cari di Youtube atau buka materi pembelajaran, langsung keluar. Tidak perlu angkat-pindah lagi karena takut rusak kalau terlalu banyak guncangan," kata Heti.
Kecanggihan alat ini juga memberikan dampak signifikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah tersebut. Heti menceritakan bahwa ada tiga siswa yang memiliki energi berlebih—sering melompat dan sulit tenang. Namun, stimulasi audio visual dari papan interaktif digital ini ternyata mampu menjadi penyalur energi yang efektif.
"Energi mereka harus dibuang dulu di pagi hari. Lewat gerak dan lagu di papan ini, mereka bisa mengikuti gerakan dengan fokus. Setelah energinya tersalurkan lewat aktivitas fisik yang terarah, mereka jadi lebih tenang saat masuk ke sesi pembelajaran berikutnya," jelasnya.
Tantangan dan Harapan Kesetaraan
Meski membawa perubahan besar, jalan menuju digitalisasi penuh di Sentani bukan tanpa hambatan. Heti mengakui bahwa pemanfaatan fitur canggih seperti "Rumah Pendidikan" atau mirroring dari ponsel ke layar masih perlu dieksplorasi lebih dalam. Selama ini, operasional alat lebih banyak dilakukan oleh tenaga admin sekolah yang kemudian menularkannya kepada para guru.
"Kami memang masih sering menggunakan Youtube dan Google untuk mencari materi seperti tema transportasi atau makanan sehat. Ke depannya, saya ingin guru-guru lebih berani bereksplorasi dengan fitur edukasi lain yang sudah tersedia di dalamnya," tambah Heti.
Di sisi lain, Heti membawa kegelisahan tentang kesetaraan. Di Kabupaten Jayapura, terdapat 19 distrik dengan 124 satuan PAUD yang tersebar hingga ke pelosok kampung. Banyak di antaranya adalah PAUD Non-Formal atau Kelompok Bermain (KB) yang justru paling membutuhkan sentuhan teknologi namun terkendala akses internet dan jaminan keamanan alat.
Menurutnya, bantuan ini sangat krusial karena di daerah seperti Sentani, banyak orang tua yang baru menyekolahkan anaknya di usia 5 atau 6 tahun demi mengejar syarat masuk SD. Kehadiran teknologi di kelas menjadi daya tarik tersendiri sekaligus mempercepat proses adaptasi belajar anak.
Menuju Guru yang Kreatif
Kehadiran Papan Digital Interaktif ini bukan sekadar mengganti papan tulis kayu dengan layar sentuh. Lebih dari itu, ia sedang mengubah pola pikir para pendidik di Papua. Heti mencatat, sejak adanya alat ini, guru-gurunya menjadi lebih kreatif dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Mereka mulai mengintegrasikan video edukatif dan permainan interaktif yang membuat suasana kelas menjadi hidup.
"Harapan saya, bantuan seperti ini bisa disamaratakan, terutama untuk PAUD-PAUD di kampung. Makna kehadiran alat ini bagi kami sangat dalam: guru-guru dipacu untuk kreatif dan inovatif, sementara anak-anak semakin bebas berkreasi," tutup Heti.
Senja mulai turun di Sentani, namun cahaya dari layar digital di TK Kristen Baik seolah menjadi simbol bahwa di ujung timur Indonesia, semangat belajar anak-anak bangsa tidak akan pernah redup oleh jarak dan keterbatasan.
Pewawancara : Eko Widodo dan EB Harsono