Berita
Ketika Jemari Mungil Murid TK Harapan Bangsa Kota Pati Menyentuh Masa Depan Melalui Papan Interaktif Digital
Berita 2026-03-05 | 09:15:00
PATI, PAUDPEDIA = Suasana di TK Harapan Bangsa, yang terselip di Jalan Supriadi RT 10 RW 05, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini tak lagi sama. Jika biasanya riuh rendah suara anak-anak hanya dipicu oleh dongeng lisan atau permainan fisik sederhana, belakangan ini ada pekik kegembiraan yang berbeda. "Hore!" teriak mereka bersahutan, memecah keheningan kelas yang biasanya lebih banyak diam.
Pemicunya adalah sebuah papan besar yang bercahaya. Bukan papan tulis hitam dengan debu kapur, melainkan Papan Informasi Digital (PID) bantuan dari Presiden Prabowo Subianto yang tiba di sekolah itu pada 27 Oktober lalu.
Bagi Esther Murni (52), Kepala Sekolah sekaligus guru di sana, kehadiran teknologi ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan jembatan yang menghubungkan dunia pendidikan anak usia dini yang konvensional dengan masa depan digital.
Esther, yang menyebut dirinya sebagai generasi "STW" (setengah tua) dan mengaku sempat gagap teknologi, tak menyangka bahwa layar sentuh berukuran besar itu akan mengubah drastis dinamika belajarnya.
Selama bertahun-tahun, ia mengajar dengan pola yang relatif linear. Namun, kehadiran PID memaksanya untuk keluar dari zona nyaman.
"Awalnya saya hanya menggunakan untuk memutar video menari dari YouTube. Itu-itu saja," kenang Esther saat ditemui di sela-sela Bimbingan Teknis (Bintek) pemanfaatan teknologi pendidikan, awal Maret 2026.
"Tapi setelah ikut pelatihan ini, mata saya jadi terbuka. Ternyata ada ruang untuk murid, ada konten untuk Kelompok Bermain (KB), dan ada gim edukasi yang sangat kaya."
Melampaui Sekadar Menonton
Di dalam kelas, fenomena menarik terjadi. Anak-anak didik Esther tidak lagi hanya menjadi penonton pasif. Papan interaktif itu menjadi "kanvas" baru bagi jemari mungil mereka. Esther bercerita betapa antusiasnya anak-anak saat diminta berlatih menulis di atas layar.
Menariknya, mereka memulai tanpa pena digital (stylus). "Anak-anak latihan huruf di situ awal mulanya memakai jari. Ternyata hasilnya bagus," kata Esther dengan binar mata bangga. Baru setelah mereka terbiasa, Esther memperkenalkan penggunaan pena khusus—yang meski ia akui sulit menyebutkan istilah teknisnya, namun sangat efektif membantu motorik halus anak-anak.
Transformasi ini menjadi krusial mengingat Esther memegang peran ganda sebagai kepala sekolah untuk Kelompok Bermain (Playgroup) dan TK. Di sekolahnya, interaksi bukan lagi searah. Anak-anak yang dulunya pasif kini berani "menyentuh" ilmu pengetahuan secara langsung. Papan itu menjadi ruang dialog baru antara guru, murid, dan teknologi.
Memutus Rantai Ketakutan
Ketakutan akan teknologi seringkali menjadi tembok tebal bagi pendidik senior. Esther pun merasakannya. Istilah "nutul-nutul" (menyentuh layar secara asal) sempat menjadi kekhawatirannya jika tidak dibarengi dengan pemahaman yang benar. Baginya, teknologi tanpa arah hanya akan berakhir menjadi benda mati yang tak bermanfaat.
Melalui Bintek yang diikutinya, ia mengaku tak lagi takut "salah pencet". Keahlian baru yang didapatnya memberikan kepercayaan diri bahwa guru di daerah pun mampu bersaing dengan perkembangan zaman. "Puji Tuhan, ini sangat bermakna. Saya bisa mengeksplorasi lebih dalam dengan narasumber yang ahli," tuturnya.
Sebagai Ketua Gugus di kecamatannya, Esther memikul tanggung jawab moral yang lebih besar. Ia tak ingin pengetahuan ini berhenti di dirinya. Ia bertekad "menularkan" virus digitalisasi ini kepada teman-teman sejawat di gugusnya.
Ia percaya, jika guru-guru di pelosok Pati bisa menguasai teknologi ini, maka kualitas pendidikan anak usia dini di daerahnya akan meningkat pesat.
Harapan untuk Masa Depan
Meski sangat bersyukur, Esther masih menyimpan satu harapan besar. Ia melihat potensi luar biasa dari alat ini untuk tingkat Kelompok Bermain (KB). Ia berharap, para guru dan kepala sekolah Playgroup juga mendapatkan kesempatan pelatihan langsung dari para ahli, sama seperti yang ia rasakan.
"Kalau belajar langsung dari ahlinya, hasilnya akan lebih maksimal. Kalau hanya dari saya yang menyampaikan, mungkin yang terserap hanya 10 atau 15 persen," ungkapnya dengan rendah hati.
Bagi Esther Murni, Papan Informasi Digital ini bukan sekadar alat peraga. Ia adalah jendela. Melalui jendela itu, anak-anak di Jalan Supriadi, Pati, kini bisa melihat dunia dengan cara yang lebih berwarna, lebih interaktif, dan tentu saja, dengan semangat "Hore" yang akan terus menggema di ruang-ruang kelas mereka.
Di tangan guru yang tepat, teknologi bukan menggantikan peran manusia, melainkan memanusiakan kembali proses belajar yang menyenangkan.
Peliput : Eko B Harsono dan Herry Hartawan