Dengan perencanaan matang dan kerja keras seluruh pemangku kepentingan PAUD di Kabupaten Bantul, bersama-sama mendorong kualitas layanan PAUD yang semakin merata, inklusif, dan bermartabat bagi setiap anak.
85,1%
APS PAUD 2024
100,0%
APS PAUD 2025
100,0%
Target APS 2026
79,9%
Akreditasi Min. B (2025)
88,5%
Guru S1/D4 (2025)
96,0%
Layanan HI (2025)
100,0%
Satu Desa Satu PAUD (2025)
100,0%
Kecamatan Ada PAUD Negeri (2025)
Data APS
Angka Partisipasi Sekolah (APS) PAUD
Tren APS PAUD Kabupaten Bantul dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan positif yang konsisten.
π Tren APS PAUD Kabupaten Bantul
86.57%
2021
85.32%
2022
95.97%
2023
85.14%
2024
100%
2025
π― Capaian vs Target APS
100.0%
APS PAUD Kabupaten Bantul menuju target 2026.
π’ Capaian 202485,1%
π Capaian 2025100,0%
π Target 2026100,0%
Analisis
Analisis Kontekstual PAUD
πΊοΈ
Kondisi Geografis & Demografis
A. Kondisi Geografis
Kalurahan Singosaren adalah salah satu dari 8 kalurahan yang ada di Kapanewon Banguntapan. Mobilitas jarak tempuh Kalurahan Singosaren adalah 1 km dari Kapanewon Banguntapan, 15 Km dari Kabupaten Bantul, dan 10 Km dari Pemerintahan D.I.Y. Kalurahan Singosaren mempunyai wilayah⦠seluas : 67 ha dengan jumlah penduduk : ± 4.018 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga : ± 1250 dengan batas wilayah sebagai berikut.
- Sebelah Utara : Kelurahan Purbayan Kemantren Kotagede
- Sebelah Timur : Kalurahan Wirokerten Kapanewon Banguntapan
- Sebelah Selatan : Kalurahan Wirokerten Kapanewon Banguntapan
- Sebelah Barat : Kelurahan Giwangan Kemantren Umbulharjo
Iklim Kalurahan Singosaren sebagaimana kalurahanβkalurahan lain di wilayah Indonesia mempunyai Iklim Kemarau dan Penghujan. Hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di Kalurahan Singosaren.
B. Demografi
1. Jumlah Penduduk menurut golongan umur
Dari kondisi demografis, sebagian besar penduduk Kalurahan Singosaren berusia produktif (20-50 tahun). Jumlah mayoritas berikutnya adalah usia pra-produktif (0-19 tahun). Sedangkan komposisi penduduk paling kecil adalah usia tidak produktif (>50 tahun). Kondisi demografis ini menunjukkan besarnya potensi sumber daya manusia usia produktif dan akan semakin besar pada 10 tahun mendatang. Hal ini sesuai kondisi umum secara nasional dimana pada 2034 akan menghadapi bonus demografi, dimana jumlah usia produktif lebih besar daripada usia non-produktif. Kondisi ini adalah momentum penting untuk mengakselerasi pembangunan. Berikut detail data penduduk menurut golongan umur di Kalurahan Singosaren.
Tabel 2.1: Jumlah penduduk menurut umur
Golongan Umur Jumlah Penduduk Jumlah
L P
0 Bln β 4 Thn 112 106 228
5 Thn β 9 Thn 132 147 279
10 Thn β 14 Thn 168 139 307
15 Thn β 19 Thn 161 155 316
20 Thn β 24 Thn 162 138 300
25 Thn β 29 Thn 150 122 272
30 Thn β 34 Thn 167 146 313
35 Thn β 39 Thn 124 144 268
40 Thn β 44 Thn 155 176 331
45 Thn β 49 Thn 151 149 300
50 Thn β 54 Thn 125 144 269
55 Thn β 59 Thn 130 142 272
60 Thn β 64 Thn 98 104 202
65 Thn β 69 Thn 103 83 186
70 Thn β 74 Thn 51 40 91
>75 Thn 36 48 84
Jumlah 2025 1983 4018
Sumber Data: Data Kependudukan 2024 Semester II
2. Jumlah Penduduk menurut Agama
Ditinjau dari segi agama dan kepercayaan masyarakat Kalurahan Singosaren mayoritas beragama Islam, dengan rincian data sebagai berikut :
Tabel 2.2 Jumlah penduduk menurut agama
No. Agama Jenis Kelamin Jumlah
L P
1 Islam 2025 1975 4000
2 Kristen 3 5 8
3 Katolik 4 2 6
4 Hindu 3 1 4
5 Budha 0 0 0
6 Lainnya 0 0 0
Sumber Data: Data Kependudukan 2024 Semester II
3. Jumlah Penduduk menurut Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan berpengaruh pada kualitas sumberdaya manusia. Proses pembangunan kalurahan akan berjalan dengan lancar apabila masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Akses untuk mendapatkan pendidikan jauh lebih mudah karena jarak tempat pendidikan baik tingkat SD sampai SMA dekat dengan pemukiman warga, akan tetapi kalau dilihat dari data statistik masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat merupakan suatu permasalahan yang harus segera dipecahkan terutama dalam membangun kesadaran masyarakat akan arti pentingya pendidikan. Data penduduk menurut tingkat pendidikannya dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 2.3 Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan
No. Tingkat Pendidikan Jenis Kelamin Jumlah
L P
1 Tidak/Belum Sekolah 407 380 787
2 Belum Tamat SD / Sederajat 183 144 327
3 Tamat SD / Sederajat 362 385 747
4 SLTP / Sederajat 285 306 591
5 SLTA / Sederajat 587 498 1.085
6 Diploma I/II 12 19 31
7 Akademi /Diploma / S. Muda 40 56 96
8 Diploma IV / Strata I 140 179 319
9 Strata II 17 15 32
10 Strata III 2 1 3
Sumber Data: Data Kependudukan 2024 Semester II
Berdasarkan data 2018, sebagian besar pendudukan Singosaren berpendidikan SMA/Sederajat. Jumlah penduduk yang mengenyam perguruan tinggi masih minim. Begitu juga penduduk yang tidak lulus pendidikan dasar juga masih besar. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kalurahan untuk mendorong warganya untuk menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi.
4. Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk di Kalurahan Singosaren sebagian besar berada di sektor informal (wiraswasta). Hal ini menunjukkan bahwa sektor informal memegang peranan penting dalam bidang ekonomi masyarakat. Data menurut mata pencaharian penduduk dapat dilihat pada Tabel berikut ini.
Tabel 2.4 Jumlah penduduk menurut mata pencaharian
No. Mata Pencaharian Jenis Kelamin Jumlah
L P
1 Belum / Tidak Bekerja 397 382 779
2 Mengurus Rumah Tangga 0 254 254
3 Pelajar/Mahasiswa 412 342 754
4 Pensiunan 32 12 44
5 Pegawai Negeri Sipil (PNS) 33 37 70
6 Tentara Nasional Indonesia (TNI) 1 0 1
7 Kepolisian RI (POLRI) 11 0 11
8 Perdagangan 6 8 14
9 Pertanian/Perkebunan 9 3 12
10 Peternakan 1 0 1
11 Nelayan/Perikanan 0 0 0
12 Industri 1 0 1
13 Konstruksi 0 0 0
14 Transportasi 1 0 1
15 Karyawan Swasta 284 221 505
16 Karyawan BUMN 7 2 9
17 Karyawan BUMD 1 1 2
18 Karyawan Honorer 0 2 2
19 Buruh Harian Lepas 428 331 759
20 Buruh Tani/Perkebunan 10 16 26
21 Buruh Nelayan/Perikanan 0 0 0
22 Buruh Peternakan 0 0 0
23 Pembantu Rumah Tangga 0 1 1
24 Tukang Jahit 3 15 18
25 Penata Rambut 0 1 1
26 Mekanik 1 0 1
27 Juru Masak 1 0 1
28 Dosen 5 6 11
29 Guru 11 26 37
30 Konsultan 1 0 1
31 Perawat 2 7 9
32 Apoteker 0 1 1
33 Sopir 2 0 2
34 Pedagang 5 12 17
35 Perangkat Desa 7 3 10
36 Kepala Desa 1 0 1
37 Wiraswasta 360 295 655
Sumber Data: Data Kependudukan 2024 Semester II
ποΈ
Struktur Sosial Ekonomi Daerah
A. Keadaan Sosial
Kalurahan Singosaren memiliki modal sosial yang kuat sebagai fondasi pengembangan masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan anak usia dini. Dengan 99,5% penduduk beragama Islam, kehidupan keagamaan masyarakat sangat dinamis yang tercermin dari keberadaan 8 masjid dengan⦠organisasi pengurusnya yang aktif. Lembaga-lembaga keagamaan ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga berperan sebagai ruang pembelajaran nilai-nilai moral dan karakter yang sejalan dengan tujuan pendidikan anak usia dini.
Tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan kemasyarakatan yang tinggi menunjukkan kepedulian kolektif terhadap pembangunan, termasuk pendidikan anak usia dini. Kultur masyarakat yang menghargai pendidikan tercermin dari kesediaan mendirikan dan mengelola lembaga PAUD secara swadaya. Dari 6 lembaga PAUD yang ada, sebagian besar didirikan atas inisiatif masyarakat dan yayasan, menunjukkan kesadaran akan pentingnya investasi pendidikan sejak dini.
Tantangan sosial ekonomi yang ada justru mendorong solidaritas dan inovasi masyarakat. Meskipun sebagian penduduk masih berada dalam kategori ekonomi menengah ke bawah, semangat kemandirian dan produktivitas tetap tinggi. Hal ini terlihat dari minimnya angka pengangguran karena sebagian besar penduduk usia produktif aktif bekerja, terutama di sektor informal sebagai wiraswasta. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang dinamis dan resilient, di mana masyarakat terus berupaya meningkatkan taraf hidup melalui berbagai usaha produktif.
Kondisi sosial Kalurahan Singosaren yang positif memberikan beberapa keuntungan bagi perkembangan PAUD:
Modal Sosial yang Kuat: Sistem gotong royong memudahkan kolaborasi antar lembaga PAUD, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung pendidikan anak.
Dukungan Kelembagaan Masyarakat: PKK, organisasi keagamaan, dan lembaga kemasyarakatan lainnya menjadi mitra strategis dalam implementasi PAUD Holistik Integratif.
Nilai-nilai Luhur: Kultur religius dan kekeluargaan menjadi basis pembentukan karakter anak yang sejalan dengan tujuan pendidikan PAUD.
Partisipasi Aktif: Kesediaan masyarakat mendirikan dan mengelola PAUD menunjukkan kesadaran kolektif akan pentingnya pendidikan anak usia dini.
Lingkungan yang Aman: Sistem kontrol sosial yang baik menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Deklarasi Singosaren sebagai Kampung Layak Anak pada Desember 2024 semakin memperkuat komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang optimal bagi perkembangan anak, di mana setiap elemen masyarakat berperan aktif melindungi, mendidik, dan memfasilitasi hak-hak anak.
B. Kondisi Ekonomi
Kalurahan Singosaren memiliki struktur ekonomi yang beragam dan dinamis, didukung oleh letak geografis strategis di perbatasan Kota Yogyakarta dan jalur Ringroad Selatan. Posisi ini menjadikan Singosaren sebagai kawasan penyangga kota dengan potensi ekonomi yang berkembang pesat. Secara umum, kalurahan ini dapat dibagi menjadi dua zona ekonomi yang saling melengkapi: zona utara (Padukuhan I dan II) yang berkembang sebagai pusat ekonomi berbasis jasa dan industri, serta zona selatan (Padukuhan III) yang masih mempertahankan karakteristik semi-rural dengan sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan.
Keberadaan kawasan industri seperti PT. BRA dan PT. INDOKOR di zona utara dan selatan telah mendorong pertumbuhan sektor jasa pendukung seperti rumah kos, warung makan, laundry, dan berbagai UMKM. Posisi strategis sebagai pintu masuk kawasan Wisata Kotagede semakin memperkuat dinamika ekonomi melalui berkembangnya usaha kerajinan, kuliner, dan jasa pariwisata. Sementara itu, zona selatan tetap menjadi penyeimbang ekologi dan penyedia ruang terbuka hijau yang penting bagi kualitas lingkungan hidup.
Berdasarkan data kependudukan 2024, mayoritas penduduk bekerja sebagai wiraswasta (655 orang) dan buruh harian lepas (759 orang), menunjukkan tingginya jiwa entrepreneurship dan fleksibilitas ekonomi masyarakat. Sektor formal juga cukup signifikan dengan 505 karyawan swasta dan 82 PNS/TNI/Polri yang memberikan stabilitas ekonomi. Yang menarik, terdapat 48 tenaga pendidik (guru dan dosen) yang menjadi modal intelektual penting dalam meningkatkan kesadaran pendidikan masyarakat. Tingginya jumlah pelajar dan mahasiswa (754 orang) menunjukkan investasi keluarga terhadap pendidikan yang baik.
Kondisi ekonomi yang beragam ini memberikan implikasi positif bagi perkembangan PAUD. Keberadaan kawasan industri dan UMKM membuka peluang kemitraan CSR untuk mendukung program PAUD. Mobilitas tinggi penduduk dan pertumbuhan hunian meningkatkan permintaan terhadap layanan PAUD yang berkualitas. Minimnya angka pengangguran menunjukkan produktivitas masyarakat yang tinggi, sehingga PAUD tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan tetapi juga sebagai support system bagi keluarga produktif. Keberadaan tenaga pendidik profesional di kalurahan menjadi aset dalam sosialisasi dan implementasi program PAUD berkualitas.
Heterogenitas latar belakang ekonomi orang tua memerlukan pendekatan layanan PAUD yang inklusif dengan skema pembiayaan fleksibel, memastikan semua anak dapat mengakses pendidikan berkualitas tanpa memandang kondisi ekonomi keluarga. Status Singosaren sebagai Kampung Layak Anak menjadi momentum untuk membangun ekosistem PAUD yang berkelanjutan dengan dukungan pemerintah kalurahan, dunia usaha, dan partisipasi aktif masyarakat.
Mitra Kolaborasi
Bersinergi untuk PAUD Berkualitas
Pencapaian luar biasa hanya bisa terwujud melalui sinergi yang solid antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Bantul.
π€
Mari Bergerak Bersama
Bersama Kita Wujudkan PAUD Berkualitas untuk Semua
Setiap kontribusi, sekecil apapun, adalah investasi nyata untuk masa depan generasi Kabupaten Bantul.