GuruKreatif
Peran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Dalam Mengembangkan Potensi dan Pembentukan Karakter Anak
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakkan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta beragama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilakukan oleh anak usia dini. Tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Pendidikan Anak Usia Dini merupakan upaya pendidikan anak usia dini lahir hingga delapan tahun, berfungsi mengembangkan potensi anak dan membentuk kepribadian anak dengan benar.
Beberapa tujuan PAUD, antara lain: (1) membentuk anak Indonesia yang berkualitas; (2) membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar di sekolah; (3) intervensi dini dengan memberikan rangsangan sehingga dapat menumbuhkan potensi-potensi yang tersembunyi; (4) dan melakukan deteksi dini terhadap kemngkinan terjadinya gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pendidikan Anak Usia dini merupakan pondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.Ontologis, anak sebagai mahluk individu yang mempunyai aspek biologis dan psikologis, pembelajaran pada anak usia dini haruslah menggunakan konsep belajar melalui bermain, belajar sambil berbuat, belajar melalui stimulasi Pendidikan Anak Usia Dini berdasarkan aspek pedagogis, masa anak dini merupakan masa pondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Dari segi empiris, Pendidikan Anak Usia Dini sangat penting, antara lain menjelaskan bahwa pada waktu manusia lahir, kelengkapan organisasi otak memuat 100-200 milyar sel otak yang siap dikembangkan serta diaktualisasikan mencapai tertinggi. Selain itu tujuan PAUD yang ingin dicapai adalah mengembangkan pengetahuan dan pemahaman orang tua dan guru serta pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan dan perkembangan anak usia dini.
Secara umum, tujuan PAUD untuk mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pendidikan Anak Usia Dini membantu perkembangan motorik, kognitif,bahasa, dan sosial emosi. Pendidikan nasional berfungsi untuk mencerdaskan setiap bangsanya, mengembangkan setiap potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Pendidikan Anak Usia Dini memiliki fungsi untuk mengembangkan seluruh potensi anak didiknya dengan benar secara jasmani dan rohani, pembentukan karakter anak (menanamkan kedisplinan pada anak, bersosialisasi dengan sesama teman maupun pada guru), memberikan kesempatan anak untuk bermain sekaligus belajar. Pendidikan anak sejak dini dipengaruhi oleh tiga lingkunganpendidikan yang utama yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat, dan ketiga lingkungan tersebut dinamakan tripusat.
Pendidikan anak merupakan tanggungjawab bersama antara orang tua dan sekolah. Orang tua tidak dapat sepenuhnya membebankan proses pendidikan anaknya pada sekolah. Idealnya proses pendidikan yang berlangsung di satuan pendidikan dapat menghasilkan peserta didik yang tidak hanya memiliki kompetensi secara intelektual namun hendaknya juga memiliki akhlak mulia. Dengan bekal akhlak mulia ini peserta didik akan berkembang menjadi anak yang baik dan akan menjadi dewasa kelak memiliki karakter yang kuat bermanfaat bagi nusa dan bangsa Pembudayaan Karakter adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik, guru, tenaga kependidikan dan orang tua/wali untuk menumbuhkan kebiasaan yang baik dan membentuk generasi berkarakter Pancasila dengan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati, berpikir baik, dan berperilaku baik dan membangun bangsa yang berkarakter Pancasila. Untuk memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada sekolah yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional, meliputi: regilius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggungjawab.
Pembudayaan dilaksanakan sejak hari pertama masuk satuan PAUD pada masa orientasi peserta didik baru, misal gerakan orang tua/wali mengantarkan peserta didik ke Satuan PAUD dan melalui pembiasaan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan umum, harian, mingguan, bulanan, tengah tahun dan tahunan. Dalam membiasakan dapat dilakukan dengan memberikan contoh sikap sopan dan santun yang ditunjukkan oleh guru. Peserta didik sebagai pembelajar dapat menggunakan guru sebagai model. Dengan contoh atau model dari guru ini peserta didik dengan mudah dapat meniru sehingga guru dapat dengan mudah menanamkan sikap dan perilaku baik. Sehingga sikap dan perilaku ini dapat dijadikan bekal awal dalam membina karakter anak.
Pembudayaan sikap dan perilaku di sekolah dapat dilakukan melalui program yang dibuat oleh Satuan PAUD untuk mendesain skenario pembiasaan pembudayaan karakter, sebagai contoh guru mengintegrasikan sikap dan perilaku baik sebelum pembelajaran, pada saat pembelajaran, dan istirahat/bermain, atau guru ekstrakurikuler (drumband, menari, melukis) dapat membantu pembiasaan sikap dan perilaku baik melalui; disiplin dalam menggunakan peralatan drumband, dalam gerakan tari yang memiliki nilai nilai budi pekerti, melukis dengan mengaitkan ajaran agama. Lingkungan keluarga memiliki program untuk pendidikan anak, seperti perbaikan gizi, permaian edukatif, pengembangan nilai moral, nilai budaya, keyakinan agama, hal ini dikembangkan selanjutnya di sekolah dan masyarakat. Lingkungan sekolah mengupayakan program-program yang lebih mendekatkan sekolah dengan orang tua peserta didik (organisasi orang tua, kunjungan rumah oleh pihak sekolah, dan sebagainya), selanjutnya sekolah juga mengupayakan program yang berkaitan erat dengan masyarakat di sekitarnya.
Kontribusi tripusat pendidikan yang saling memperkuat dan saling melengkapi itu akan memberi peluang mewujudkan sumber daya manusia terdidik daya manusia terdidik yang bermutu. Adapun hal yang dapat dilaksanakan dalam Pembudayaan Karakter PAUD, adalah; Berbaris setiap akan masuk kelas Berdoa sebelum kegiatan belajar mengajar Memberi salam, senyum dan sapaan kepada setiap orang di sekolah Membersihkan lingkungan sekolah Mencuci tangan Menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan. Tidak berkata-kata kotor kasar dan sombong Tidak meludah di sembarang tempat Menghormati orang yang lebih tua Membersihkan kelas Menekankan nilai regilius (beragama Islam membaca/menghapalkan Iqro/surat pendek) Ekstrakurikuler (drumband, menari, melukis) Dalam pembudayaan karakter harus juga didukung dari rumah dapat dilakukan melalui peran orang tua/wali dalam mendidik anaknya. Orang tua memberikan contoh-contoh penerapan perilaku sopan santun di depan anak. Contoh merupakan alat pendidikan yang sekaligus dapat memberikan pengetahuan pada anak tentang makna dan implementasi dari sikap dan perilaku baik . Pembentukan sikap dan perilaku sangat dipengaruhi lingkungan.
Anak pasti menyontoh perilaku orang tua sehari-hari. Tak salahlah kalau ada yang menyebutkan bahwa ayah/ibu merupakan model yang tepat bagi anak. Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniru yang ulung. Pembudayaan karakter merupakan proses panjang yang dapat dimulai dari anak usia dini, namun demikian pada setiap jenjang sekolah dapat melakukan proses pendidikan karakter salah satunya dengan melakukan pembiasaan. Pembentukan anak untuk menjadi anak yang memiliki sikap dan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan tempat tinggal anak dapat ditanamkan melalui proses pembudayaan. Terlaksananya proses pembudayaan karakter ini hanya dapat dilakukan melalui proses pembiasaan sikap dan perilaku baik. Proses pembiasaan ini akan berhasil secara efektif jika dilakukan kerjasama yang sinergi antara peran orang tua di rumah dan peran sekolah. Teknik-teknik yang dapat dilakukan meliputi pemodelan dari orang tua dan guru, melalui pengintergrasian penanaman sikap dan perilaku dalam semua bidang pelajaran, peningkatan peran pembelajaran pendidikan agama. Fungsi pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan, memperkuat potensi pribadi, dan menyaring pengaruh dari luar yang akhirnya dapat membentuk karakter peserta didik yang dapat mencerminkan budaya bangsa Indonesia.
Diharapkan di lingkungan sekolah, guru dapat mengawasi sekaligus membantu anak untuk menemukan potensi mereka dan dikembangkan dengan baik, sesuai dengan potensi yang dimiliki anak.Tapi bukan hanya di lingkungan sekolah saja anak harus mendapatkan pendidikan, dari lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Supaya ketika anak sudah menginjak usiasekolah dasar, anak mampu mempersiapkan diri untuk pendidikan selanjutnya. Peranan keluarga, sekolah dan masyarakat sebagai lingkungan pendidikan sebagai tripusat pendidikan sangat dibutuhkan untuk kelancaran proses pendidikan anak. Perkembangan kognitif yang akan dibahas meliputi: perkembangan cara berpikir, persepsi, memori, atensi, bahasa, dan emosi. Kognitif dapat berarti kecerdasan, berfikir, dan mengamati, yaitu tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan atau yang diperlukan untuk menggunakan pengetahuan. Dengan pengertian ini, maka anak yang mampu mengkoordinasikan pelbagai cara berfikir untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dengan merancang, mengingat, dan mencari alternatif bentuk penyelesaian persoalan, merupakan tolok ukur perkembangan kognitif. Apabila mengamati cara berfikir dan tingkah laku anak usia prasekolah, maka cara berfikir mereka termasuk semi logis, yaitu setengah masuk akal. Pada tahap cara berpikir anak masih berpusat pada apa yang dipersepsikan sendiri, tidak melihat dari sisi yang dipersepsikan oleh orang lain.
Anak usia dini dalam memandang suatu keadaan lebih memfokuskan pada tampilan keadaan, bukan pada isi atau kenyataan di balik tampilan itu. Anak pendidikan anak usia dini berfikir hanya pada keadaan “sebelum” dan “sesudah”, tidak pada proses perubahan dari sebelum dan sesudah melihat tampilan suatu keadaan. Kekakuan berfikir ini karena mereka tidak dapat berfikir dari sisi kebalikannya suatu rangkaian kejadian atau perubahan bentuk. Perkembangan persepsi anak usia dini terhadap objek semakin baik seiring dengan peningkatan ketajaman visualnya. Kemampuan memori tergantung kepada pengulangan informasi. Pengulangan informasi itu penting. Kecepatan dan efisiensi pemrosesan informasi juga penting, terutama item-item ingatan yang dapat diidentifikasi. Kecepatan pengulangan informasi merupakan estimasi akurat bagi rentang memori, apalagi jika kecepatan pengulangan itu terstandar, maka rentang memori jangka pendek anak usia dini sama dengan memori orang dewasa muda.
Perkembangan memori jangka panjang anak prasekolah umumnya memiliki kemampuan pengenalan (recognition) yang lebih baik, tetapi kemampuan pemanggilan kembali agak kurang. Untuk mengukur kedua aspek memori jangka panjang tersebut, pada umumnya yang dilakukan adalah mengukur recall daripada mengukur recognition, sebab recall membutuhkan strategi pengulangan yang aktif dan berlangsung terus menerus dalam memori. Perkembangan atensi anak prasekolah biasanya lebih tertuju kepada hal-hal yang menarik dan lucu, yang kemudian tersimpan lebih lama dalam memorinya. Misalnya pertunjukan badut yang lucu. Atensi adalah respon dalam sistem kognitif yang terkonsentrasi pada satu objek atau suatu tugas mental, di mana anak meniadakan stimulus lain yang mengganggu. Atensi juga dapat diartikan mengabaikan semua pesan, kecuali pesan tertentu yang biasanya lebih menarik. Hilangnya atensi dan pulihnya atensi berkaitan dengan kecerdasan anak. Perkembangan bahasa anak prasekolah seiring dengan perkembangan kognitifnya.
Kemampuan anak usia dini memahami bahasa orang lain masih terbatas. Anak pra sekolah hanya memahami bahasa dari persepsi dirinya sendiri dan akselerasi perkembangan bahasa anak terjadi sebagai hasil perkembangan fungsi simbolis. Apabila fungsi simbolis telah berkembang, akan memperluas kemampuan memecahkan persoalan dengan belajar dari bahasa orang lain. Bahasa merupakan bentuk utama dalam mengekspresikan pikiran dan pengetahuan jika anak mengadakan hubungan dengan orang lain. Anak yang sedang tumbuh kembang mengkomunikasikan kebutuhan, pikiran, dan perasaan melalui bahasa dengan kata-kata yang mempunyai makna. Berbahasa menghasilkan bunyi verbal. Kemampuan mendengar dan membuat bunyi verbal merupakan hal utama untuk menghasilkan pembicaraan. Kemampuan berbicara anak meningkat melalui pengucapan suku kata yang berbeda-beda yang diucapkan anak secara jelas. Kemampuan berbicara akan lebih baik bila anak memberi arti kata-kata baru, menggabungkan kata-kata baru, memberikan pernyataan atau pertanyaan. Semua ini merupakan gabungan proses berbicara, kreativitas, dan berfikir. Berfikir adalah awal berbahasa, dan berfikir lebih luas dari bahasa.
Berfikir tidak tergantung kepada bahasa, meskipun bahasa dapat membantu perkembangan berfikir. Bahasa dapat mengarahkan perhatian anak terhadap objek-objek atau hubungan-hubungan dalam lingkungan, memperkenalkan mereka pada perbedaan cara pandang dan menanamkan informasi abstrak. Bahasa adalah salah satu alat dalam berfikir. Tahap perkembangan berbicara anak yang menentukan tingkat perkembangan berfikir dengan bahasa, yaitu tahap eksternal, egosentris, dan internal. Tahap eksternal di mana sumber berfikir anak dalam berbahasa datang luar dirinya, misalnya saat ibunya mengajukan pertanyaan kepada anak, lalu anak berfikir untuk menjawabnya. Tahap egosentris di mana pembicaraan orang lain tidak lagi menjadi prasyarat awal terjadinya proses berfikir dan berbahasa. Tahap internal di mana anak menghayati sepenuhnya proses berfikir tanpa ada orang lain yang menuntutnya. Perkembangan psikososial yang akan dibahas di sini adalah: perkembangan permainan, emosi, moral, dan sosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas. Perkembangan bermain merupakan aspek penting dalam perkembangan psikososial anak usia dini. Bermain bagi anak merupakan suatu aktivitas yang mengasyikkan. Melalui aktivitas bermain berbagai keinginannya terwujud. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak, karena menyenangkan, bukan karena memperoleh hadiah atau pujian. Bermain adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya. Bermain adalah medium anak untuk mencoba dengan berfantasi secara benar dan aktif. Dalam hubungan dengan perkembangan anak, bermain dapat memberikan kontribusi positif terhadap hampir semua aspek perkembangan, antara lain: membangun pengetahuan baru, mengembangkan keterampilan sosial, kecakapan untuk mengatasi kesulitan, rasa memiliki kemampuan, dan keterampilan motorik.
Anak yang kurang memiliki teman bermain, ia akan bermain sendiri dan mungkin aman, tetapi mereka kurang kesempatan untuk belajar bersikap sosial. Anak yang tidak memiliki teman bermain, sering menghabiskan waktu di depan layar tv. Alat permainan perlu diperhatikan, karena ada yang mengandung bahaya, dan ada pula yang tidak mengembangkan kreativitas anak. Alat permainan yang memicu agresivitas anak, akan mempengaruhi anak berperilaku agresif yang akan dibawa dalam kehidupan nyata. Bermain mempunyai makna penting bagi perkembangan anak usia dini. Perkembangan emosi anak prasekolah merupakan domain dari perkembangan psikososial. Emosi berfungsi untuk mengkomunikasikan kebutuhan, suasana hati, dan perasaan kepada orang lain. Melalui ekspresi perasaan, anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, seperti: menghormati orang lain, memperoleh hubungan dan memelihara hubungan sosial yang harmonis, dan menenangkan perasaan. Jika perkembangan emosi anak itu baik, mereka akan belajar bagaimana menggunakan kedalaman perasaan dengan tidak mengekspresikan berlebihan dan dapat mengikuti perasaan orang lain sehingga menumbuhkan pengertian dan kerja sama dengan orang lain. Tiap anak mengekspresikan emosi sesuai dengan suasana hati dan pengaruh lingkungan, terutama pengalaman lekat dengan pengasuh dan temannya. Beberapa metode pembelajaran yang dianggap sesuai untuk PAUD, di antaranya adalah sebagai berikut. Bercerita Bercerita adalah cara bertutur dan menyampaikan cerita secara lisan. Cerita harus diberikan secara menarik. Anak diberi kesempatan untuk bertanya dan memberikan tanggapan. Pendidik dapat menggunakan buku sebagai alat bantu bercerita.
Demonstrasi Demonstrasi digunakan untuk menunjukkan atau memeragakan cara untuk membuat atau melakukan sesuatu. Bercakap-cakap Bercakap-cakap dapat dilakukan dalam bentuk tanya jawab antara anak dengan pendidik atau antara anak dengan anak yang lain. Pemberian tugas Pemberian tugas dilakukan oleh pendidik untuk memberi pengalaman yang nyata kepada anak baik secara individu maupun secara berkelompok. Sosio-drama/bermain peran Sosio-drama atau bermain peran dilakukan untuk mengembangkan daya khayal/imajinasi, kemampuan berekspresi, dan kreativitas anak yang diinspirasi dari tokoh-tokoh atau benda-benda yang ada dalam cerita. Karyawisata Karyawisata adalah kunjungan secara langsung ke objek-objek di lingkungan kehidupan anak yang sesuai dengan tema yang sedang dibahas. Proyek Proyek merupakan suatu tugas yang terdiri atas rangkaian kegiatan yang diberikan oleh pendidik kepada anak, baik secara individu maupun secara berkelompok dengan menggunakan objek alam sekitar maupun kegiatan sehari-hari. Eksperimen Eksperimen merupakan pemberian pengalaman nyata kepada anak dengan melakukan percobaan secara langsung dan mengamati hasilnya. Dukungan pada Pembelajaran Untuk membantu pencapaian pembelajaran yang optimal, diperlukan dukungan di antaranya: Media dan sumber belajar yang sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan; Kegiatan yang dimaksud hendaklah mengacu pada tema dan tujuan pembelajaran saat itu. Tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang relevan; Keterlibatan orang tua; dan Keterlibatan instansi terkait (misalnya: puskesmas, pemadam kebakaran, kepolisian, dll) dalam kegiatan pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Pengajaran yang mendidik.Setiap kegiatan pengajaran, pendidik mengajar dengan membawa berbagai dampak atau efek kepada siswa, baik efek intruksional (instructional effect) yaitu efek langsung dari bahan ajaran yang yang menjadi isi pesan dari belajar mengajar, maupun efek pengiring (nurturant effect) yaitu efek yang secara tidak langsung dari bahan ajaran dan pengalaman belajar yang dihayati oleh siswa. Peningkatan dan pemantapan pelaksaan program bimbingan dan peyuluhan di sekolah, agar program edukatif ini tidak sekedar suplemen tetapi menjadi komplemen yang secara setara dengan program pengajaran.
Pengembangan perpustakaan sekolah menjadi suatu pusat sumber belajar, dengan menyediakan berbagai perangkat lunak yang didukung oleh perangkat keras lainnya. Peningkatan dan pemantapan program pengelolaan sekolah, khususnya yang terkait dengan peserta didik, pengelolaan sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan seharusnya merupakan refleksi dari suatu masyarakat Pancasila sebagaimana yang dicita-citakan dalam tujuan nasional. Secara umum kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini dapat dimaknai sebagai seperangkat kegiatan belajar sambil bermain yang sengaja direncanakan untuk menyiapkan dan meletakkan dasar-dasar bagi pengembangan diri anak usia dini selanjutnya. Kurikulum memiliki program kegiatan bermain yang dikembangkan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Secara khusus pengembangan kurikulum juga harus didasarkan pada prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini, yaitu: (1) Proses kegiatan belajar pada anak usia dini harus dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip belajar melalui bermain; (2) dilaksanakan dalam lingkungan yang kondusif dan inovatif baik di dalam ruangan ataupun luar ruangan; (3) dilaksanakan dengan pendekatan terpadu; (4) harus diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan secara menyeluruh dan terpadu. Kurikulum merupakan rancangan kegiatan yang disusun oleh para ahli pendidik, ahli bidang ilmu, pendidik, penjabat pendidik, serta unsur-unsur mansyarakat lainnya yang ditujukan untuk siswa di sekolah.
Pengembangan kurikulum itu harus didasarkan oleh prinsip-prinsip perkembangan anak .Tujuan kurikulum itu sendiri untuk membantu kegiatan belajar anak yang dalam kegiatan tersebut kurikulum dapat memberikan arah yang tepat dan hasil yang ingin dicapai. Lingkungan pendidikan yang utama ialah keluarga dan peran orang tua dalam hal pendidikan anak sangatlah penting, karena sejak lahir anak secara tidak langsung mendapatkan pendidikan dari orang tua, melatih dan memberi anak petunjuk tentang berbagai aspek kehidupan, hingga anak menjadi dewasa dan mandiri. Keluarga merupakan tempat pendidikan yang sempurna.Lingkungan keluarga memberikan keterampilan, nilai moral, nilai budaya, bersosialisasi, keyakinan agama, adab pergaulan, sehingga anak dapat tubuh dan berkembang dengan baik. Lingkungan keluarga merupakan pusat pendidikan yang penting dan menentukan, karena itu tugas pendidikan adalah mencari cara, dan membantu ibu untuk mendidik anaknya secara optimal. Hubungan orang tua-anak mempengaruhi penyesuaian anak, baik pribadi maupun sosial terutama saat awal masa kanak-kanak atau prasekolah, hubungan anak dengan saudara dan sanak keluarga terutama nenek tidak terlalu penting.
Meskipun tidak satu pun pola pendidikan anak yang dapat menjamin penyesuaian yang baik atau penyesuaian yang buruk, baik pribadi maupun sosial, ada bukti bahwa anak yang dibesarkan dalam suasana yang demokratif mampu menyesuaikan diri dengan baik. Meskipun keluarga merupakan pusat pendidikan, akan tetapi seiring tumbuh kembangnya anak, kebutuhan akan pendidikan anak pun juga meningkat. Hal ini menyebabkan keluarga diharapkan bekerja sama dengan pusat pendidikan lainnya, yaitu sekolah dan masyarakat. Satuan Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu fasilitas pendidikan untuk anak, yang memiliki kurikulum khusus dalam mendidik anak. kurikulum tersebut memiliki program kegiatan bermain dan belajar yang dikembangkan sesuai tahap perkembangan anak, dan dalam pengembangan kurikulum itu sendiri memiliki beberapa prinsip (relevansi, adaptasi, kontinuitas, fleksibilitas, kepraktisan dan akseptabilitas, kelayakan, dan akuntabilitas) supaya dapat memberikan arah yang benar dalam proses pendidikan dan hasil yang ingin dicapai. Selain itu, fungsi PAUD itu sendiri untuk mengembangkan potensi anak, pembentukan karakter anak, dan tetap memberikan kesempatan bermain pada anak. Penulis Chandra
2018-11-21 | 14:01:17
InfoTerkini
Manfaat Melakukan Pemantaun Pertumbuhan pada Anak
Ruang Artikel 2026-04-21 | 18:30:00
...
selengkapnya