Kabar PAUDRisalah Kebijakan
Risalah Kebijakan Penguatan Karakter Anak Usia Dini melalui Gerakan Tujuh Anak Indonesia Hebat
Risalah Kebijakan Penguatan Karakter Anak Usia Dini melalui Gerakan Tujuh Anak Indonesia Hebat
Ringkasan
- Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) adalah sebuah program yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk membentuk karakter anak Indonesia melalui pembiasaan positif sejak dini.
- Penguatan pendidikan karakter dimulai sejak anak usia dini dengan harapan anak menjadi pribadi yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan memiliki kematangan emosional serta sosial untuk menghadapi tantangan masa depan. Hal ini bertujuan membentuk kepribadian yang kuat sejak dini agar kelak menjadi orang dewasa yang bijak, dapat memberikan manfaat positif bagi lingkungan, serta memiliki integritas dan toleransi yang tinggi.
- Anak usia dini masih dalam pola pengasuhan, sehingga peran orang tua dalam melakukan pembiasaan perlu dikuatkan melalui kelas orang tua yang dilakukan di tingkat satuan PAUD
Gerakan 7 KAIH
Sesuai arahan Presiden, yang menekankan Asta Cita untuk mewujudkan bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045. Asta Cita tersebut yaitu
(1) memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia; (2) memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru; (3) meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur; (4) memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas; (5) melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri; (6) membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan; (7) memperkuat reformasi politik, hukum, dan birokrasi, serta memperkuat pencegahan dan pemberantasan korupsi dan narkoba; dan (8) memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
Dalam mendukung dan mewujudkan Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045, perlu dipersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Hal ini juga sebagaimana Asta Cita ke 4 (empat), yaitu Memperkuat Pembangunan Sumber Daya Manusia, Sains, Teknologi, Pendidikan, Kesehatan, Prestasi Olah Raga, Kesetaraan Gender, serta Penguatan Peran Perempuan, Pemuda, dan Penyandang Disabilitas. SDM unggul tersebut harus mempunyai delapan karakter utama bangsa yakni: religius, bermoral, sehat, cerdas dan kreatif, kerja keras, disiplin dan tertib, mandiri, serta bermanfaat.
Permasalahan
Sejalan dengan astacita, penguatan karakter melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat menjadi salah satu upaya untuk menjadikan peserta didik di satuan pendidikan menjadi anak yang sehat, cerdas, dan memiliki karakter yang kuat. Kebiasaan tersebut jika dilakukan secara rutin akan membentuk karakter dan menjadi budaya positif bagi anak. Selain itu, Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dapat mendukung terwujudnya Budaya Belajar Aman, Nyaman, dan Gembira, termasuk upaya bagi anak agar terbebas dari segala bentuk kekerasan serta isu karakter di lingkungan satuan pendidikan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) telah menerbitkan Panduan Penerapan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat untuk Guru dan Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Anak Usia Dini yang menjelaskan secara rinci tentang definisi tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat yang dimulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Selanjutnya di dalam panduan dijelaskan tentang manfaat, waktu aktivitas, dan cara penerapan kebiasaan perilaku positif dengan harapan anak- anak akan tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter baik.
Analisis Masalah
Berdasarkan pemantauan sampel di lapangan terkait pelaksanaan 7 KAIH di kabupaten Cirebon pada tanggal 14 s.d. 17 Mei 2025, pada dasarnya program pembiasaan sudah dilaksanakan di 4 satuan PAUD yaitu PAUD Siti Aisyah, PAUD Tunas Bangsa, PAUD Adinda, dan TK Al Hidayah . Pelaksanaan pagi ceria juga terlihat disaat kunjungan di 3 satuan PAUD mulai dari Senam Anak Indonesia Hebat, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan berdoa bersama.
Saat penggalian wawancara bersama beberapa orang tua, didapatkan beberapa temuan lapangan terkait 7 KAIH yaitu:
- Peran ayah dalam mendampingi gerakan 7 KAIH masih belum optimal Orang tua dalam mendampingi anak melaksanakan 7 KAIH sangat penting, terutama figur ayah sebagai teladan harus bisa terlihat di setiap jam aktivitas yang dilakukan bersama anak baik di rumah dan di luar rumah. Fenomena “fatherless” masih terjadi dikarenakan kesibukan seorang ayah yang hanya fokus pada pekerjaannya.
- Buku catatan jurnal belum sepenuhnya dimonitor oleh guru
Jurnal sebagai instrumen dapat membantu pemantauan pelaksanaan 7 KAIH, namun masih ditemui jurnal yang tidak terpantau setiap hari. Tidak ada umpan balik kepada orang tua saat ditemui jurnal yang pelaksanaan 7 KAIH tidak sesuai jadwal dan konsistensi anak dalam mengatur jadwal bermain. Bahkan waktu screen time anak masih berlebihan terutama saat akan tidur malam.
- Sarana prasarana pendukung pelaksanaan 7 KAIH masih terbatas Saat berkunjung di PAUD Siti Aisyah, terlihat ruang terbukanya sangat minim dan ruang kelas yang tidak terlalu memadai. Sehingga untuk pembiasaan pagi ceria senam anak Indonesia hebat belum optimal
Rekomendasi Kebijakan
Gerakan 7 KAIH pada dasarnya merupakan penguatan karakter yang dilakukan sejak dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Dimulai dari pembiasaan bangun tidur hingga tidur cepat seharusnya menjadi pembiasaan yang konsisten.
- Diperlukan peran kedua orangtua yang aktif
Figur orang tua adalah menjadi kunci keberhasilan penguatan karakter anak melalui 7 KAIH. Seorang Ayah harus mampu menjadi teladan (role model) bagi seluruh anggota keluarga. Sekalipun kesibukan seorang ayah sangat padat, tetapi tidak bisa menjadi pembenaran bila kurang perhatian kepada anak. Ditambah anak usia dini yang masih dalam masa pengasuhan harus mendapat prioritas dalam memantau tumbuh kembangnya di usia yang keemasan. Selanjutnya seorang Ibu juga sangat dibutuhkan dalam pengasuhan positif kepada anaknya. Sehingga baik ayah dan ibu harus mampu membagi waktu kepada buah hatinya agar anak
- Diperlukan pemantauan langsung dari pihak sekolah
Instrumen yang digunakan dalam bentuk jurnal baik secara manual maupun elektronik harus bisa dilakukan pemantauan setiap hari oleh pihak sekolah baik dari guru maupun kepala sekolah, agar apabila hambatan yang ditemui orang tua dalam pelaksanaan gerakan 7 KAIH mendapatkan solusi dari pihak sekolah
- Diperlukan kolaborasi bersama mitra dalam pemenuhan mutu sekolah
Sekolah dalam memenuhi kebutuhan sarana prasarana tidak bisa hanya berpangku tangan menunggu bantuan baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, tetapi sekolah harus aktif mencari mitra yang peduli pendidikan anak usia dini untuk bisa memberikan bantuannya dalam memenuhi kebutuhan sarana prasarana.
Gerakan 7 KAIH diharapkan mampu menjawab tantangan perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat, terutama membentu karakter anak usia dini yang memiliki resiliensi tangguh dan peduli pada masyarakat juga lingkungannya.
Jakarta, 7 Juli 2025
Risalah kebijakan disusun oleh
Analis Kebijakan Ahli Muda
Dhany Hamiddan Khoir, S.T, M.A
NIP.197908132002121005
2025-07-07 | 08:00:00
InfoTerkini
Kick Off Lomba Bahan Ajar PAUD 2026: Membangun Literasi Digital Sejak Usia Dini
Berita 2026-03-12 | 09:30:00
...
selengkapnya