Berita
Wamendikdasmen dan Direktur PAUD Ikuti Upacara Hari Guru Nasional di SMAN 1 Manokwari, Siswa dan Guru Sambut Kedatangan Dengan Atraksi Budaya Tradisi Papua Barat
Berita 2025-11-25 | 15:25:00
PAUDPEDIA Manokwari - Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025 kali ini terasa lebih dalam dan sarat makna. Jauh dari hiruk pikuk ibu kota, gaung perayaan itu justru membuncah dari ujung timur Nusantara, tepatnya di SMAN 1 Manokwari, Papua Barat.
Dalam balutan busana adat yang merepresentasikan keberagaman Indonesia, upacara berlangsung khidmat sekaligus semarak, menegaskan kembali janji kemerdekaan untuk mencerdaskan seluruh anak bangsa, hingga ke pelosok-pelosok negeri.
Pukul 07.00 WIT, suasana di SMAN 1 Manokwari sudah dipenuhi antusiasme. Ratusan guru, murid, dan perwakilan pemerintah daerah tumpah ruah di lapangan sekolah. Mereka mengenakan ragam pakaian adat dari Sabang hingga Merauke, menciptakan mozaik budaya yang kaya, berlatar lanskap Manokwari yang hijau.
Kehadiran jajaran tinggi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sontak menambah semangat.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Dr. Fajar Riza Ul Haq, dan Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Dr. Nia Nurhasanah M.Pd., disambut hangat dengan atraksi tarian khas Papua yang dibawakan oleh siswa-siswi sekolah. Wamen Fajar, yang bertindak sebagai Pembina Upacara, memilih mengenakan busana adat Papua—simbol nyata bahwa pesan pendidikan yang dibawa pemerintah pusat datang dengan semangat membumi dan menghargai kearifan lokal.
Keberpihakan dari Timur
Dalam amanat yang dibacakan, Dr. Fajar Riza Ul Haq menegaskan kembali pentingnya posisi guru sebagai motor penggerak peradaban. Ia menuturkan, keputusan untuk menyelenggarakan upacara puncak HGN di Kabupaten Manokwari merupakan bukti konkret dari keberpihakan pemerintah terhadap nasib dan peran para pendidik di berbagai pelosok negeri, khususnya di wilayah timur Indonesia.
"Kehadiran kami di sini adalah untuk menggarisbawahi komitmen bahwa masa depan Indonesia sangat tergantung pada peran guru. Guru adalah agen pembelajaran, agen peradaban, yang mengemban tugas profetik untuk mencerdaskan, membangun nalar kritis, membersihkan hati, dan memupuk akhlak mulia," ujar Wamen Fajar di hadapan ratusan peserta upacara.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika di podium. Ia adalah pengakuan atas perjuangan para guru di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yang kerap berjuang tanpa fasilitas memadai, namun tetap menyalakan api pengabdian. Wamendikdasmen menekankan, komitmen ini harus diterjemahkan menjadi kolaborasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat.
"Kolaborasi kita bersama sangat menentukan suksesnya kebijakan. Oleh karena itu, kepada para guru, kita bersama menyampaikan terima kasih atas dedikasi mereka yang tak terhingga," tambahnya, suaranya terdengar lantang menyambut gemuruh tepuk tangan.
Tantangan Baru: Kesehatan Mental Anak
Dalam pidatonya, Wamen Fajar juga menyentuh isu krusial yang kini dihadapi dunia pendidikan, sebuah tantangan yang melampaui kurikulum dan infrastruktur: kesehatan mental anak. Ia berpesan agar para guru tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi akademik semata, tetapi juga mengasuh siswa-siswi dengan sepenuh hati.
"Tingkatkan kompetensi, ya, itu mutlak. Namun, yang tak kalah penting, asuh anak-anak kita dengan sepenuh hati. Hari ini, anak-anak kita menghadapi tantangan persoalan kesehatan mental yang sangat mengganggu perkembangan emosi sosial mereka. Ini adalah tugas profetik yang menentukan kesehatan masyarakat Indonesia di masa depan," pesan Wamen Fajar, menggarisbawahi peran guru sebagai ‘orang tua kedua’ yang harus peka terhadap kondisi psikologis siswa.
Kehadiran Dr. Nia Nurhasanah M.Pd., Direktur PAUD, dalam barisan pejabat yang hadir di Manokwari, turut memperkuat pesan bahwa fondasi pendidikan, mulai dari usia dini, harus mendapatkan perhatian serius. Pengasuhan yang berfokus pada emosi sosial dan karakter adalah kunci untuk melahirkan Generasi Emas 2045 yang tangguh.
Suara dari Lapangan Upacara
Kemeriahan upacara terasa lengkap dengan testimoni dari aktor-aktor pendidikan di Manokwari. Lucinda Patricia Mandobar, Kepala Sekolah SMAN 1 Manokwari, mengaku bangga sekolahnya menjadi pusat perayaan nasional.
"Kehadiran Bapak Wamen ke tempat ini sangat memotivasi kami untuk terus bekerja dengan lebih baik lagi. Kami, para guru, berkomitmen untuk terus mendukung kebijakan pemerintah dan mengabdikan diri mendidik anak-anak bangsa menjadikan mereka pemimpin di masa depan," ungkap Lucinda, mewakili komitmen guru-guru di Papua Barat.
Semangat yang sama juga terpancar dari Robert Imanuel Bastian, Ketua OSIS SMAN 1 Manokwari. Robert, yang ikut menyambut kedatangan Wamen Fajar dengan kalungan bunga, mengungkapkan antusiasme luar biasa dari para siswa.
"Kami siswa sendiri sangat antusias dan semangat. Kami berlatih hingga sore untuk bisa menampilkan tarian. Peringatan HGN ini momentum bagi anak muda untuk mengingat jasa guru yang sangat penting. Seperti lagunya, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka selalu mengorbankan waktu untuk mengajar kita," tutur Robert dengan mata berbinar.
Ia menutup pesannya dengan ucapan tulus, "Kepada guru-guruku, terima kasih selalu mengajari kami dan saya sangat bersyukur karena ada guru di dunia ini. Selamat Hari Guru Nasional Tahun 2025."
Dukungan Kebijakan untuk Kesejahteraan
Merespons jeritan hati dan harapan para guru, Wamen Fajar Riza Ul Haq memaparkan serangkaian capaian program prioritas Kemendikdasmen pada tahun 2025 yang berfokus pada peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru.
Program tersebut mencakup pemberian beasiswa Rp 3 juta per semester bagi 12.500 guru yang belum berpendidikan D4/S1 untuk melanjutkan studi melalui Program Rekognisi Pembelajaran Masa Lampau (RPL).
Selain itu, Kemendikdasmen juga memperluas pelatihan, termasuk Pendidikan Profesi Guru (PPG), Bimbingan Konseling (BK), Pembelajaran Mendalam, hingga penguasaan koding dan kecerdasan artifisial (KA).
Tidak luput dari perhatian, guru honorer yang selama ini menjadi tulang punggung di banyak daerah juga mendapatkan insentif bulanan. "Bagi guru honorer, kami berikan insentif Rp 300 ribu per bulan yang ditransfer langsung ke rekening guru," jelas Wamen Fajar.
Yang tak kalah penting adalah perlindungan hukum bagi para pengabdi. Kemendikdasmen telah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan Kepala Kepolisian RI terkait penyelesaian damai bagi guru yang terlibat kasus hukum. "Tahun depan, akan lebih banyak lagi program-program peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru," pungkasnya, menjanjikan masa depan yang lebih baik bagi para pendidik.
Pardjyanti, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari, menilai kehadiran Wamendikdasmen di Papua Barat sebagai penanda kepedulian serius pemerintah pusat terhadap iklim pendidikan di pelosok. Ia berharap, langkah ini akan menjadi pemantik peningkatan kualitas pendidikan di Manokwari.
"Semoga pendidikan di Kabupaten Manokwari semakin meningkat dan terus diperhatikan sehingga kualitas pendidikan semakin lama semakin baik demi lahirnya Generasi Emas yang dicita-citakan," ujar Pardjyanti, menyerukan ajakan, "Bapak Ibu guru, mari kita sama-sama mengabdi di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, dan negara Indonesia pada umumnya."
Upacara HGN di SMAN 1 Manokwari pada 25 November 2025 bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan proklamasi komitmen: bahwa martabat guru akan terus ditinggikan, dan bahwa cita-cita pendidikan bermutu untuk semua—dari Sabang hingga Papua—akan terus diperjuangkan dengan kasih dan pengabdian.
Peliput : Eko B Harsono dan Herry Hartawan