Berita
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat: “Jujur Fondasi Integritas Masa Depan Sebuah Bangsa, Tanam dan Bentuk Menjadi Karakter Sejak Anak Berusia Dini”
Berita 2025-09-30 | 06:13:00
PAUDPEDIA Tasikmalaya — Lebih dari seribu guru dan murid dari 25 provinsi berkumpul, sebagian tatap muka di Tasikmalaya dan sebagian lagi daring, untuk sebuah misi penting: membangun generasi jujur, berintegritas dan bebas dari kekerasan.
Kolaborasi apik antara Komisi X DPR RI, Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemendikdasmen, dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen sukses mrmbuat kegiatan Internalisasi Nilai-Nilai Integritas serta Sosialisasi Pencegahan Kekerasan yang menegaskan satu hal: karakter adalah fondasi utama pendidikan, dan ia wajib dibangun sejak anak baru bisa merangkak.
Titik kritis pembentukan karakter sejatinya berada di usia dini, di bangku-bangku PAUD dan dalam dekapan hangat keluarga. Momen emas ini adalah waktu terbaik untuk menanamkan budaya anti-korupsi yang sederhana, seperti budaya malu jika tidak jujur saat mengambil mainan teman, sikap toleransi dalam menerima perbedaan pendapat, serta sikap peduli terhadap sesama untuk menumbuhkan bela rasa.
Inilah investasi jangka panjang yang membentuk ketajaman hati nurani anak, memastikan kelak mereka tumbuh menjadi pemimpin yang bermartabat, bukan pelanggar yang mencari celah.
Integritas Dimulai dari Teladan di PAUD
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan hal tersebut. Integritas, baginya, jauh melampaui kepatuhan pada aturan; ia adalah fondasi pendidikan.
"Sehebat apa pun regulasi, tanpa keteladanan dan good faith, pelanggaran akan tetap mencari celah," ujar Wamendikdasmen saat pembukaan.
"Integritas diajarkan lewat contoh. Guru yang jujur dan konsisten adalah buku pelajaran terbaik” lanjut Atip.
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa penanaman nilai harus dimulai dari orang dewasa. Bukan hanya guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan, tetapi juga keluarga, yang perannya disuarakan lantang oleh DWP Kemendikdasmen.
Sebagai orang tua, DWP terlibat aktif untuk memastikan pendidikan mental anti-korupsi dan anti-kekerasan bermula dari lingkungan terdekat, yaitu rumah.
Menciptakan Ruang Aman Nol Kekerasan
Senada dengan Wamendikdasmen, Inspektur Jenderal (Irjen) Kemendikdasmen, Faisal Syahrul, menyoroti pentingnya sekolah yang nol kekerasan. Menurutnya, pencegahan kekerasan sama mendesaknya dengan pencegahan korupsi. Sekolah harus menjadi ruang aman untuk tumbuh kembang anak.
"Orang tua, masyarakat, pemerintah daerah, hingga lembaga terkait perlu terlibat aktif agar budaya integritas dan nol kekerasan benar-benar terwujud,” tegas Irjen Faisal, menekankan bahwa keamanan dan kejujuran adalah tanggung jawab kolektif.
Dari unsur legislatif, Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, memberikan perspektif pengawasan. Sebagai pembicara utama, ia membahas penguatan tata kelola sekolah, mulai dari pencegahan kekerasan hingga pemahaman tentang gratifikasi.
Ia secara khusus menyoroti integritas dalam pengelolaan dana pendidikan, seperti Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
“Setiap rupiah uang negara di pendidikan wajib diawasi. Transparansi dan akuntabilitas menjamin bantuan benar-benar sampai ke kelas,” tegas Ferdiansyah.
Ia juga mengajak publik untuk berpartisipasi aktif dengan memahami siklus APBN/APBD, termasuk porsi 20% untuk pendidikan, sebagai bentuk penguatan literasi politik anggaran.
Ferdiansyah menutup dengan mengingatkan bahwa integritas dibangun dari sembilan komponen sederhana: jujur, disiplin, bertanggung jawab, berani, sederhana, peduli, adil, mandiri, dan kerja keras.
Kegiatan ini diharapkan tak hanya berakhir sebagai diskusi, melainkan menjadi momentum untuk membangun komitmen kolektif. Melalui langkah-langkah kecil sehari-hari—mulai dari guru yang menolak gratifikasi, tidak menoleransi praktik curang, hingga murid yang menumbuhkan sikap saling menghormati—sekolah-sekolah Indonesia dapat benar-benar menjadi tempat yang aman, ramah, dan jujur.
Tujuannya satu: melahirkan generasi penerus yang bermartabat, berdaya saing, dan mampu menjaga keutuhan bangsa, dimulai dari benih-benih kebaikan yang ditanamkan sejak usia paling dini.
Penyunting Eko Harsono
Sumber Siaran Pers BKHM Kemendikdasmen
InfoTerkini
Menjaga Nadi Pendidikan dari Angka dan Realitas Dapodik, Geliat Senyap Satuan PAUD Kala 95,6 Persen Data PAUD Menyala di Pelosok Nusantara
Berita 2026-09-14 | 14:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA - Di balik papan ketik komputer di ribuan pelosok Nusantara, jemari para operator sekolah terus bergerak sabar. Mereka menyusun baris-baris angka, merapikan identit...
selengkapnyaRiset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnya