Berita
Wamen Fajar Riza Ul Haq Dorong Guru dan Kepala Sekolah Miliki Visi "Arsitek Pembelajaran", Deep Learning Bukan Kurikulum
Berita 2026-06-08 | 14:35:00
GARUT, PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong para pendidik dan kepala satuan pendidikan mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, hingga Pendidikan Menengah untuk mengambil peran aktif sebagai "arsitek pembelajaran".
Langkah ini dilakukan melalui penguatan kompetensi berbasis pendekatan *Deep Learning* atau Pembelajaran Mendalam guna meningkatkan kualitas penyerapan ilmu pengetahuan dan menekan angka putus sekolah di daerah.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq dalam kegiatan penguatan kompetensi guru bertema "Deep Learning dan Transformasi Pendidikan" di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026).
Kuatkan Fondasi Berpikir Kritis Siswa
Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah orientasi mengajar dari sekadar penuntasan administratif materi kurikulum menjadi proses penguatan fondasi berpikir kritis peserta didik.
Fajar menjelaskan, peningkatan kompetensi guru secara menyeluruh merupakan kunci utama pemerintah dalam menjawab tantangan riil pendidikan yang dihadapi oleh berbagai daerah.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kabupaten Garut menjadi salah satu wilayah yang memerlukan perhatian khusus karena rata-rata lama sekolahnya masih berada di bawah rata-rata nasional, ditambah dengan angka putus sekolah yang memerlukan penanganan lintas sektor.
“Pesan saya kepada Bapak dan Ibu Guru serta Kepala Sekolah, jadilah arsitek pembelajaran, bukan operator pembelajaran. Operator hanya mengulang proses yang sama secara mekanis, sementara seorang arsitek memiliki kreativitas dan inovasi tinggi untuk merancang pengalaman belajar yang bermakna bagi anak-anak,” ujar Fajar.
Deep Learning Bukan Kurikulum
Kementerian menegaskan bahwa pendekatan Deep Learning bukanlah sebuah kurikulum baru yang menggantikan kebijakan sebelumnya. Pendekatan ini merupakan sebuah metode dan arah baru dalam mengajar yang berfokus pada tiga pilar utama, yaitu proses memahami secara utuh (to understand), melaksanakan atau mengaplikasikan (to do), serta merefleksikan pengetahuan yang diperoleh (to reflect).
Melalui implementasi metode ini, guru diarahkan untuk mengikis pola komunikasi searah di dalam kelas yang selama ini menempatkan murid sebagai pendengar pasif. Sebaliknya, ekosistem kelas harus diubah agar memberikan ruang interaksi yang aman dan luas bagi peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, bereksplorasi, serta membangun pemahaman mereka secara mandiri.
Fajar mengibaratkan esensi belajar seperti mekanisme tubuh manusia saat mengonsumsi makanan, di mana setiap materi pelajaran harus dikunyah dan diolah secara matang sebelum dicerna.
Jika materi pelajaran diberikan secara tergesa-gesa tanpa ruang pemahaman, proses tersebut hanya menjadi transfer informasi sementara yang tidak membekas pada ingatan jangka panjang anak.
Oleh karena itu, mutu pendidikan nasional tidak lagi diukur dari seberapa cepat materi dalam buku teks dihabiskan, melainkan seberapa dalam kompetensi tersebut tersimpan dan dapat diterapkan siswa dalam kehidupan nyata.
Dalam kaitan ini, pemanfaatan lingkungan sekitar, seperti sejarah lokal, kebudayaan, dan potensi daerah, sangat disarankan untuk digunakan sebagai sumber belajar yang kontekstual.
Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
Pemerintah juga mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi kelas ini tidak dapat bertumpu pada pihak sekolah semata. Mengacu pada konsep Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, keselarasan visi dan komunikasi yang intensif antara pihak sekolah, lingkungan keluarga, dan masyarakat menjadi faktor penentu dalam memperkuat karakter dan kemampuan akademik anak secara berkelanjutan.
Melalui penguatan kompetensi guru dan penerapan Pembelajaran Mendalam yang konsisten, satuan pendidikan di daerah diharapkan mampu menghadirkan proses pengajaran yang berbobot.
Langkah terstruktur ini diproyeksikan dapat memperkuat fondasi literasi dan numerasi nasional, sekaligus melahirkan generasi muda yang adaptif dalam menghadapi tantangan masa depan.
Penyunting: Eko B Harsono
Sumber Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen
InfoTerkini
Hutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnyaRevitalisasi Satuan PAUD: Semua Sekolah Memiliki Kesempatan yang Sama dan Setara, Syarat Akses Bantuan Satuan PAUD Imbau Perbaiki Dapodik Secara Jujur dan Akurat
Berita 2026-09-10 | 08:45:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mematangkan pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sebagai bagian dari program prioritas pemerintah. Seluruh satuan Pe...
selengkapnyaPemerintah Revitalisasi 603 PAUD Terdampak Gempa dan Rusak di NTT pada 2026 Dengan Alokasi Anggaran Rp 232 Miliar
Berita 2026-09-10 | 08:30:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meletakkan penguatan fondasi pendidikan usia dini sebagai prioritas mendesak dalam pemulihan serta penataan infrastruk...
selengkapnyaPISA 2025: Akses dan Kesetaraan Pendidikan Indonesia Melonjak, Capaian Tingkat Atas Masih PR
Berita 2026-09-09 | 07:15:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan dinamika menarik sekaligus tantangan berumpak dalam lanskap pendidikan nasional. D...
selengkapnyaEnam Dekade Hari Aksara Internasional: Kemendikdasmen Perluas Makna Literasi Hadapi Era Kecerdasan Artifisial, Dari Baca-Tulis ke Berpikir Kritis
Berita 2026-09-09 | 07:05:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Enam dekade setelah Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memproklamasikan Hari Aks...
selengkapnya