Berita
Tiga Tantangan Besar Penurunan Stunting di Nusa Tenggara Timur Melalui PAUD Holistik Integratif
Berita 2025-10-30 | 10:10:00
PAUDPEDIA NTT - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) /BKKBN menyebutkan ada tiga tantangan yang dihadapi dalam mengentaskan masalah stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). “Jadi ada tiga tantangan yang dihadapi untuk mengatasi stunting itu sendiri,” kata Deputi Peran Serta Masyarakat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) /BKKBN Sukaryo Teguh Santoso di Kota So’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Hal ini disampaikannya usai menghadiri Puncak Acara Penguatan Penggerakan dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penghapusan Kemiskinan Ekstrem serta Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi NTT.
Dia menyebutkan tiga tantangan itu yang pertama tentang minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang stunting dan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI). “Jadi memang tentang stunting ini memang perlu ditingkatkan lagi pemahamannya sehingga masyarakat paham,” ujar dia.
Tantangan kedua, adalah masih belum tepat sasarnya bantuan yang diberikan oleh pihak-pihak terkait untuk mencegah stunting. Karena memang pada umumnya, bantuan yang diberikan lebih ke tingkat balita yang sudah stunting. “Bantuan untuk stunting ini memang banyak, namun tidak untuk pencegahan tetapi justru diberikan kepada balita yang sudah stunting,” ujarnya.
Padahal menurut dia, jika bantuan itu diberikan kepada balita usia tiga tahun keatas, pengaruhnya justru hanya 20 persen. Tetapi jika diberikan kepada balita usia dua tahun kebawah dampaknya bisa 80 persen.
Tantangan ketiga adalah belum adanya keterpaduan disetiap sektor. Menurut dia, selama ini semua sektor atau lembaga memiliki program, tetapi tidak di atas namun justru di level lapangan.
Karena itu Teguh mengajak semua komponen, serta mitra untuk bersama-sama untuk mencegah semakin meningkatnya masalah stunting khususnya di Nusa Tenggara Timur.
“Kementerian Lembaga, perguruan tinggi khususnya, akademisi, termasuk jajaran media dan masyarakat untuk membantu, mencegah stunting dengan baik,” ujar dia.
Data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat bahwa angka kasus stunting di NTT saat ini berada pada angka 37 persen. Angka 37 persen ini menempatkan Provinsi NTT pada urutan kedua kasus stunting tertinggi secara persentase di Indonesia (meskipun secara jumlah kasus, NTT berada di urutan kedua setelah Jawa Barat).
Data ini berbeda dengan tren sebelumnya yang dilaporkan oleh sumber lain, di mana prevalensi stunting NTT pada tahun-tahun sebelumnya mengalami penurunan signifikan. Keluarga Berisiko Stunting (KRS): Meskipun kasus stunting masih tinggi, jumlah Keluarga Berisiko Stunting (KRS) di NTT menunjukkan tren penurunan, dari 431.247 keluarga pada tahun 2022 menjadi 331.116 keluarga pada tahun 2024.
Fokus Wilayah: Tiga kabupaten yang masih mencatat angka stunting tertinggi adalah Sumba Barat Daya, Timor Tengah Selatan (TTS), dan Manggarai Timur. Tingginya angka ini menunjukkan bahwa NTT merupakan salah satu provinsi yang mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Penyunting Eko Harsono
Sumber Siaran Pers Kemendukbangga/BKKBN