Berita
Terima Kasih Ibu Nia Nurhasanah, Selamat Bekerja Bapak Kurniawan, Hadirkan Semangat Baru Transformasi PAUD
Berita 2026-04-07 | 13:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Langkah kaki para pejabat yang baru dilantik bergema di selasar kantor kementerian, membawa beban harapan baru bagi masa depan tunas bangsa.
Di bawah panji visi "Pendidikan Bermutu untuk Semua", estafet kepemimpinan di Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini resmi berpindah tangan dari Dr. Nia Nurhasanah, S.Si., M.Pd. kepada Kurniawan, S.T., M.B.A.
Pergantian ini bukan sekadar rotasi birokrasi, melainkan sebuah penegasan atas komitmen pemerintah dalam membangun fondasi karakter sejak usia paling belia.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, dalam upacara pelantikan yang berlangsung khidmat di Jakarta, Senin (6/4/2026), secara khusus menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi Dr. Nia Nurhasanah selama periode 2025-2026.
Di tangan Nia, peletakan dasar-dasar transformasi PAUD telah dimulai, sebuah pengabdian yang kini dilanjutkan oleh Kurniawan untuk mengakselerasi mandat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Internalisasi Budaya Ramah
Dalam orasinya yang sarat akan pesan motivasi dan etos kerja jujur dan amanah, Abdul Mu’ti menekankan bahwa jabatan adalah instrumen pelayanan, bukan simbol kekuasaan yang elitis. Ia meminta Kurniawan dan seluruh jajaran pejabat pimpinan tinggi yang dilantik—termasuk para Direktur Jenderal, Direktur dan Kepala Badan—untuk menjadi ujung tombak dalam menciptakan birokrasi yang santun.
"Saya mengajak saudara-saudara sekalian untuk memperkuat budaya ramah dan tata kelola pemerintahan yang santun. Implementasikan hal ini dalam kepribadian dan kinerja saudara," ujar Mu’ti.
Pesan ini menjadi sangat relevan bagi Direktorat PAUD. Sebagai gerbang pertama anak-anak bersentuhan dengan sistem pendidikan formal, wajah kementerian di level ini haruslah mencerminkan keramahan.
Pendidikan karakter yang sedang digalakkan melalui gerakan "Tujuh Kebiasaan Indonesia Hebat" tidak akan efektif jika para pengambil kebijakannya tidak mempraktikkan budaya melayani yang tulus.
Filosofi 5K di Tengah Efisiensi
Tantangan yang dihadapi Kurniawan di kursi Direktur PAUD tidaklah ringan. Di satu sisi, pemerintah tengah melakukan pengetatan dan efisiensi anggaran secara nasional. Di sisi lain, target aksesibilitas pendidikan 13 tahun serta peningkatan kualifikasi dan kesejahteraan guru PAUD tetap menjadi prioritas yang tak bisa ditawar.
Menjawab dilema tersebut, Mendikdasmen membekali para pejabatnya dengan prinsip "5K": Kekompakan, Kerja Sama, Kreativitas, Kesetiaan, dan Kebersahajaan.
Menurut Mu’ti, sinergi dan gotong royong antarlembaga adalah kunci agar program-program prioritas tidak berjalan di tempat.
"Kreativitas sangat diperlukan agar kita tetap bisa melaksanakan program dengan sebaik-baiknya dalam situasi anggaran yang efisien," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak melulu soal besaran angka di atas kertas, melainkan sejauh mana inovasi dapat menyentuh sekolah-sekolah di pelosok yang membutuhkan sentuhan digitalisasi pembelajaran.
Menolak Mentalitas Elitis
Bagian paling tajam dari arahan Menteri adalah peringatan mengenai integritas dan moralitas. Di tengah sorotan publik terhadap perilaku pejabat negara, Mu’ti meminta jajaran Kemendikdasmen untuk tetap menapak bumi. Ia mendorong pengembangan birokrasi yang mempermudah urusan rakyat, bukan yang berbelit-belit.
"Jadilah birokrat yang baik, tetapi tidak bekerja secara birokratis," katanya. Ia juga menyelipkan pesan tentang hidup bersahaja sebagai benteng pertahanan dari godaan pelanggaran hukum dan norma.
Dengan hidup bersahaja, seorang pejabat dianggap akan lebih jernih dalam melihat persoalan rakyat kecil, termasuk para guru honorer dan anak-anak dari keluarga prasejahtera yang menjadi pemangku kepentingan utama di sektor PAUD.
Pelantikan ini, yang juga mengukuhkan pejabat eselon 1 do lingkungan Kemendikdasmen seperti Prof. Dr. Nunuk Suryani (Dirjen GTK), Gogot Suharwoto, Ph.D. (Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal), serta Tatang Muttaqin, Ph.D. (Dirjen Dikmen dan Diksus), menandai babak baru dalam struktur organisasi kementerian.
Membangun Warisan
Kepada para pejabat yang dilantik, tugas baru ini adalah tentang menciptakan legacy atau warisan yang melampaui masa jabatan. Fokus pada penguatan peran guru dan optimalisasi peran keluarga dalam pendidikan anak adalah proyek besar yang menanti sentuhan manajerialnya.
Sebagaimana harapan yang tersirat dalam doa bersama di akhir acara, pelantikan ini diharapkan bukan hanya sekadar seremoni pergantian nama di papan nama meja kerja. Ini adalah janji untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penguatan fondasi anak usia dini—sebuah ibadah panjang untuk membangun generasi Indonesia yang lebih kuat, mandiri, dan berkarakter.
Di bawah kepemimpinan baru ini, masyarakat menanti bukti nyata dari janji birokrasi yang melayani. Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang Direktur tidak hanya diukur dari lancarnya administrasi di Jakarta, tetapi dari senyum dan kesiapan belajar jutaan anak Indonesia di seluruh pelosok negeri.
Peliput : Herry Hartawan dan Eko Widodo
Penyunting; EB Harsono