Berita
Sukseskan Wajib Belajar 13 Tahun Melalui 1 Tahun Prasekolah, Pentingnya Anak Usia Dini Ikut PAUD dan Gerakan Orang Tua Asuh untuk Tekan Anak Putus Sekolah
Berita 2026-06-22 | 13:30:00
GARUT, PAUDPEDIA – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kini menjadi fondasi krusial dalam menyukseskan program Wajib Belajar 13 Tahun, yang mencakup satu tahun prasekolah. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Pemerintah Kabupaten Garut kini secara agresif mengampanyekan pentingnya partisipasi PAUD dan meluncurkan gerakan orang tua asuh guna menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah tersebut. Kesiapan anak di jenjang prasekolah dinilai menjadi kunci utama keberhasilan wajib belajar.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa partisipasi anak dalam pendidikan prasekolah atau PAUD sangat penting untuk membentuk kesiapan mental dan kognitif belajar sejak dini. Menurutnya, akses pendidikan yang setara merupakan amanat konstitusi yang harus dirasakan oleh seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali, baik yang berada di kawasan perkotaan yang maju maupun di pelosok pedesaan yang terpencil.
"Semua masyarakat Indonesia harus mendapat kesempatan atau akses yang sama, mulai dari kota besar sampai di tingkat desa seperti Pasirkiamis ini. Tidak boleh ada anak yang tersisa atau tidak mengikuti pendidikan," ujar Atip saat mengunjungi Kelompok Bermain Al Ikhlas 158, Desa Pasirkiamis, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Atip menggarisbawahi bahwa tantangan utama dalam dunia pendidikan saat ini adalah pola pikir sebagian masyarakat yang masih mengutamakan bekerja daripada menuntaskan sekolah. Padahal, melalui pengenalan pendidikan sejak jenjang PAUD, anak-anak dipersiapkan untuk memiliki kompetensi, karakter, dan pengetahuan yang lebih baik guna meningkatkan kualitas hidup serta nilai ekonomi mereka di masa depan.
Atip mencontohkan bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan mampu meningkatkan produktivitas berbagai sektor pekerjaan tradisional, termasuk sektor perikanan dan pertanian.
Guna mendukung suksesnya program wajib belajar 13 tahun ini, Pemerintah Kabupaten Garut merespons cepat dengan menyusun program kolaboratif berupa gerakan orang tua asuh. Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya angka putus sekolah di wilayahnya.
Berdasarkan data terkini pemerintah daerah, tercatat ada hampir 16.000 anak di Kabupaten Garut yang masuk dalam kategori tidak melanjutkan pendidikan.
"Kami saat ini sedang mendesain konsep orang tua asuh. Di Garut angka putus sekolah cukup banyak, ada hampir 16.000 anak. Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Apa pun kondisinya, mereka adalah anak-anak kita yang wajib kita dorong untuk kembali ke bangku sekolah," kata Abdusy Syakur dengan tegas.
Program orang tua asuh ini dirancang sebagai gerakan sosial bersama yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, swasta, dan aparatur sipil guna membantu pembiayaan serta pendampingan anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berisiko putus sekolah.
Selain gerakan tersebut, Pemkab Garut juga mengalokasikan anggaran untuk bantuan langsung berupa perlengkapan sekolah, seperti sepatu, tas, dan seragam gratis untuk mengeliminasi hambatan ekonomi yang kerap menjadi alasan utama anak berhenti sekolah.
Di sisi lain, perbaikan infrastruktur PAUD masih memerlukan perhatian serius demi menyukseskan program satu tahun prasekolah ini.
Dari total sekitar 4.400 ruang kelas PAUD yang ada di Garut, sebanyak 1.000 ruang kelas dilaporkan dalam kondisi rusak dan membutuhkan rehabilitasi total. Abdusy menyatakan kemampuan anggaran daerah hanya mampu memperbaiki sekitar 45 ruang kelas per tahun.
Oleh karena itu, sinergi dan intervensi bantuan dari pemerintah pusat sangat dibutuhkan guna mempercepat pembenahan fasilitas prasekolah tersebut agar anak-anak dapat belajar dengan aman.
Penyunting: Eko B Harsono
Sumber : Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen