Berita
Senyum Lega di Balik Tata Kelola Revitalisasi Satuan PAUD, Ketika Satuan PAUD Aceh dan Sumut Belajar Mitigasi Administrasi Pajak
Berita 2026-06-09 | 08:30:00
MEDAN, PAUDPEDIA — Bagi Rehmenda Christy, urusan mengajar anak-anak usia dini di TK Bharlind Kota Medan adalah ruang kenyamanan yang sudah bertahun-tahun diakrabinya. Namun, ketika secarik dokumen kerja sama Program Revitalisasi PAUD 2026 Angkatan 20 resmi ditandatangani pada 5 Juni 2026 lalu, sebuah tanggung jawab baru yang asing mendadak mendarat di pundaknya.
Ia kini bukan sekadar pendidik yang memikirkan kurikulum, melainkan seorang pengelola anggaran negara. "Sebagai pengelola satuan swasta, awalnya saya membayangkan birokrasi penyerapan anggaran dan urusan pajak itu bakal rumit sekali," kenang Rehmenda.
Ada kecemasan yang sempat membayangi langkahnya. Bayangan akan tumpukan berkas administrasi perpajakan yang membingungkan sempat membuat hatinya ciut. Ketakutan seperti ini wajar dan jamak dirasakan oleh para kepala sekolah di daerah ketika berhadapan dengan dana bantuan pemerintah bermekanisme swakelola.
Namun, kecemasan itu perlahan mengikis setelah Direktorat PAUD turun tangan memberikan pendampingan intensif. Melalui proses finalisasi dokumen perencanaan di Medan, paradigma para kepala sekolah ini perlahan diubah. Mereka dibimbing agar siap secara manajerial.
"Ternyata setelah mendapatkan penjelasan langsung, mekanismenya tidak seribet yang dibayangkan. Pembekalan ini sangat informatif bagi kami pihak swasta, sehingga pelaksanaan tata kelola nanti bisa berjalan lebih transparan dan akuntabel," ujar Rehmenda dengan nada lega.
Mengikis Keraguan demi Akuntabilitas

Kisah serupa dialami oleh Moses Sinaga, Kepala PAUD Nataparsitta di Kabupaten Toba, Sumatra Utara. Baginya, ruang kelas yang nyaman bagi anak-anak adalah impian besar, tetapi ia tak ingin impian itu justru tersandung masalah hukum atau prosedur administrasi yang keliru di kemudian hari.
Oleh karena itu, materi mengenai instrumen pembukuan dan administrasi perpajakan ibarat oase di tengah ketidaktahuan.
"Kami kini memahami kewajiban pajak tersebut, sehingga kami bisa bertanggung jawab penuh atas transparansi pengelolaan dana yang kami lakukan," tutur Moses mantap.
Pemahaman regulasi yang kuat ini menjadi modal berharga agar pihak sekolah dapat mengeksekusi program revitalisasi tanpa dibayangi ketakutan melakukan kesalahan prosedur.
Perubahan paradigma ini menjadi esensi penting dari transparansi anggaran. Anggaran negara yang turun ke satuan PAUD di Aceh dan Sumatra Utara tidak lagi dipandang sebagai beban birokrasi, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan hingga rupiah terakhir.
Gotong Royong di Lapangan
Kekuatan sejati dari program revitalisasi ini sejatinya terletak pada denyut gotong royong masyarakat. Karena berbasis swakelola, keterlibatan aktif warga sekolah dan lingkungan sekitar menjadi kunci utama. Begitu dokumen perencanaan rampung, gerak cepat langsung dilakukan di lapangan dengan membentuk Tim Pelaksana Revitalisasi.
Di Medan, Rehmenda telah merangkul komite sekolah dan pelaksana internal untuk mengisi struktur pengawas, perencana, hingga tim teknis lapangan. Sementara di Toba, Moses Sinaga bergerak tak kalah cepat. Pengurus tim yang ia bentuk telah disetujui Komite Sekolah dan resmi dilaporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Toba demi menjamin legalitas hukum.
Bergeser ke ujung barat, di Provinsi Aceh, Asiati selaku Kepala TK Negeri Lae Mate juga telah merampungkan struktur Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP).
Dengan melibatkan elemen masyarakat, komite sekolah, dan bendahara, Asiati berdiri di depan sebagai penanggung jawab utama. Sinergi yang solid dan pemahaman regulasi yang matang ini menjadi pondasi kuat.
Di balik dinding-dinding kelas PAUD yang bersiap mempercantik diri, ada komitmen dari para pendidik yang kini merangkap sebagai penjaga amanah uang negara. Mereka memastikan bahwa sejak hari pertama pembangunan fisik dimulai, ketertiban administrasi dan transparansi sudah berjalan beriringan demi masa depan anak-anak bangsa.
Peliput : Dian Nuswantari
Penyunting : Eko B Harsono