Berita
Senyum dan Harapan PAUD Inklusi di Makassar, Mengubah Kegelisahan Ibu Anak Berkebutuhan Khusus di Satuan Pendidikan Ramah bagi Semua Anak
Berita 2026-05-29 | 10:15:00
PAUDPEDIA Makassar - Di sudut Kota Makassar, Sulawesi Selatan, keriuhan khas anak-anak terdengar dari balik dinding Sekolah Zifana Montessori. Ada tawa yang lepas, ada celoteh yang berebut udara, dan ada pula keheningan yang khusyuk dari jemari kecil yang sedang meraba dunianya.
Di sekolah ini, perbedaan bukan sekadar kata yang tertulis di buku teks civitas, melainkan napas hidup yang dihirup setiap hari.
Bagi Adila Wina Fitria, pendiri sekaligus Kepala TK Zifana Montessori, sekolah ini adalah sebuah monumen cinta sekaligus jawaban atas kegelisahan masa lalunya.
Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD, Dr Abdul Kahar M.Pd melihat dari dekat bagaimana satuan PAUD Inklusi ini sukses memberikan layanan pendidikan, tumbuh kembang dan pengasuhan kepada peserta didik berkebutuhan khusus.
Lima belas tahun lalu, tepatnya pada 20 Juni 2011, Adila ibu tiga anak bersama suaminya yang bekerja di Badan Usaha Milik PT Telkom Indonesia Tbk berada di titik persimpangan yang melelahkan sebagai seorang ibu. Anak keduanya lahir dengan kebutuhan khusus—sebuah gangguan pendengaran yang mengubah seluruh peta hidup keluarga mereka.
Saat sang buah hati memasuki usia sekolah, Adila membentur tembok tebal bernama realitas. Mencari institusi pendidikan anak usia dini (PAUD) yang mau dan mampu mengakomodasi keterbatasan sang anak di Makassar kala itu bak mencari jarum dalam tumpukan jerami. Pintu demi pintu tertutup, menyisakan kecemasan tentang masa depan sang anak.
"Dari situlah saya berniat ingin mendirikan pendidikan anak usia dini inklusif. Mengapa? Karena untuk anak berkebutuhan khusus, jika kita kuatkan sejak usia dini, fondasi mereka akan lebih kokoh saat beranjak ke jenjang SD, SMP, hingga SMA," tutur Adila dengan mata berbinar, mengenang kembali batu pertama yang ia letakkan lima belas tahun silam.
Mendobrak Stigma Lewat Kolaborasi
Kini, di tahun kelima berdiri, PAUD Zifana Montessori telah tumbuh menjadi rumah bagi kurang lebih 120 siswa. Komposisinya unik dan berani: 40 persen merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK), sementara 60 persen sisanya adalah anak reguler.
Sejak awal, Adila konsisten menolak mengotak-ngotakkan anak didik. Di dalam ruang kelas yang sama, mereka belajar berbaur, bekerja sama, dan berkolaborasi.
Namun, jalan merawat inklusivitas tidak pernah bertabur bunga. Tantangan terbesar yang dihadapi Adila justru datang dari luar dinding sekolah: stigma masyarakat. Masih banyak orang tua dan publik yang memandang ABK dengan tatapan sebelah mata, atau menganggap kehadiran mereka akan "mengganggu" tumbuh kembang anak reguler.
"Stigma masyarakat masih belum paham bahwa semua anak itu memiliki keunikan. Sebenarnya, setiap individu itu punya kebutuhan khusus, jadi tidak perlu melabeli anak-anak tertentu saja," tegas Adila.
Bagi PAUD Inklusif Zifana, prinsip utama mereka adalah keterbukaan. Di saat banyak sekolah menerapkan seleksi ketat yang menyingkirkan anak-anak "berbeda", Zifana memilih jalan memutar.
Mereka tidak pernah menolak anak berkebutuhan khusus. Alih-alih menyaring input siswa, Adila memilih untuk terus memompa dan meningkatkan kapasitas para pendidiknya agar mampu mengajar dengan hati dan metodologi yang tepat. Nilai ini kemudian dibalut dengan penguatan karakter berbasis akidah Islam dan akhlak sejak dini.
Pekerjaan Rumah yang Belum Usai
Adila mengapresiasi langkah pemerintah yang kini gencar menggalakkan pendidikan inklusif di seluruh penjuru negeri melalui berbagai pelatihan guru. Namun, sebagai praktisi di lapangan, ia melihat ada mata rantai yang terputus.
"Kebanyakan (program) masih belum ter-follow-up, belum ter-monitor. Selepas pelatihan, tidak ada monitoring. Hal itu membuat guru-guru kembali resah karena mereka tidak dikuatkan saat mengaplikasikan ilmunya di kelas," ujarnya kritis.
Ia berharap pemerintah ke depan tidak hanya fokus pada kuantitas pelatihan, tetapi juga kualitas evaluasi berkala.
Menutup perbincangan, Adila menyelipkan sebuah asa sederhana namun mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia. Ia bermimpi suatu saat nanti, seluruh PAUD di Indonesia bisa meleburkan batasan antara anak reguler dan ABK tanpa sekat ketakutan.
"Setiap anak punya potensi. Kalau kita kuatkan sejak dini, mereka semua akan bersinar di masa mendatang," pungkas Adila, menatap lurus ke arah halaman sekolah di mana anak-anak—tanpa peduli apa latar belakang mereka—sedang asyik berlari mengejar mimpi yang sama.
Peliput : Eko B Harsono
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnyaRevitalisasi Satuan PAUD: Semua Sekolah Memiliki Kesempatan yang Sama dan Setara, Syarat Akses Bantuan Satuan PAUD Imbau Perbaiki Dapodik Secara Jujur dan Akurat
Berita 2026-09-10 | 08:45:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mematangkan pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sebagai bagian dari program prioritas pemerintah. Seluruh satuan Pe...
selengkapnya