Berita
Sekolah Jadi Rumah Kedua, Lewat MPLS Ramah Siswa PAUD Belajar bahwa Sekolah Bukan Tempat Asing Tapi Ruang Penuh Kasih Sayang
Berita 2026-07-10 | 07:40:00
PAUDPEDIA Jakarta - Dalam empat hari kedepan suasana lingkungan sekolah mulai dari jenjang PAUD, pendidikan dasar dan menengah hingga sekolah kejuruan dan luar biasa kembali bergeliat setelah libur kenaikan kelas Untuk murid baru bisa dibayangkan suasa hati mereka ketika baru pertama kali masuk sekolah.
Semua terasa asing: wajah-wajah baru, ruangan besar, aturan yang belum dimengerti. Bisa jadi menakutkan, kan? Tapi di banyak sekolah Indonesia hari ini, suasana itu sengaja diubah menjadi hangat, ceria, dan penuh tawa. Namanya MPLS Ramah—Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang benar-benar ramah dan menyenangkan untuk anak usia dini.
Tidak ada lagi perpeloncoan atau kegiatan menegangkan. Sebaliknya, lima hari pertama di sekolah dipenuhi lagu, tarian, permainan, dan kegiatan yang membuat anak-anak tersenyum lebar. Ini bukan sekadar "masa orientasi", tapi gerbang awal untuk membangun rasa aman, percaya diri, dan kecintaan pada sekolah.
Visi Mendikdasmen: Sekolah Harus Nyaman
Perubahan suasana ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari arahan tegas pemerintah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., menekankan bahwa lingkungan sekolah harus menjadi ruang yang aman dan menyenangkan bagi peserta didik, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di bangku pendidikan.
Dalam berbagai kesempatan, Mendikdasmen menyatakan bahwa pendekatan kekerasan atau tekanan psikologis dalam pengenalan lingkungan sekolah sudah tidak relevan dengan zaman sekarang. "Sekolah harus menjadi rumah kedua bagi anak-anak kita. Mereka harus merasa diterima, dihargai, dan aman sejak hari pertama," ujar beliau.
Arahan ini menjadi landasan utama bagi diterbitkannya rujukan teknis MPLS Ramah TK, yang memastikan bahwa setiap aktivitas yang dilakukan berfokus pada kesejahteraan emosional dan sosial anak, bukan pada kepatuhan buta melalui rasa takut.
Dengan dukungan penuh dari Kemendikdasmen, sekolah-sekolah kini berlomba-lomba menciptakan atmosfer yang inklusif. Tujuannya sederhana: menghapus stigma bahwa sekolah adalah tempat yang kaku dan menakutkan, menggantinya dengan citra sekolah sebagai taman bermain yang edukatif.
Pagi yang Penuh Semangat
Hari pertama dimulai dengan sapaan hangat dari guru di gerbang sekolah. Ada musik riang, stiker nama lucu berbentuk buah atau hewan, dan lingkaran besar tempat semua anak duduk bersama. Mereka diajak menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, berdoa sesuai keyakinannya, lalu saling mengenal lewat permainan sederhana.
“Siapa yang senang hari ini?” tanya Bu Guru. Tangan-tangan kecil langsung terangkat. “Kalau sedih juga boleh, kok. Di sini kita saling mengerti,” lanjutnya lembut.
Di MPLS Ramah, semua perasaan boleh diungkap—karena emosi adalah bagian penting dari tumbuh kembang anak. Pendekatan ini sejalan dengan visi Mendikdasmen yang ingin melihat anak-anak tumbuh dengan kesehatan mental yang baik sejak usia dini.
Bermain Sambil Belajar Nilai Hidup
Selama lima hari, anak-anak diajak menjelajahi sekolah seperti petualangan seru. Mereka bermain di sudut baca, mencoba alat peraga edukatif, dan diajari cara mencuci tangan yang benar sebelum makan bekal sehat. Di hari kedua, mereka bermain “Tebak Gambar Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”—dari bangun pagi hingga tidur cepat.
Ada juga kegiatan “Sekolah Bersih, Hati Ceria”, di mana anak-anak diajak memungut sampah bersama. “Menjaga kebersihan itu tanggung jawab kita semua,” kata seorang murid kecil sambil memasukkan plastik ke tempat sampah. Di hari lain, mereka belajar siaga bencana lewat lagu: “Kalau ada gempa, lindungi kepala…”
Yang tak kalah seru adalah “Garis Pilihanku”. Guru meletakkan dua gambar—misalnya boneka dan robot—lalu anak-anak memilih sesuai kesukaan mereka. “Kita boleh beda, tapi tetap teman baik,” demikian pesan yang disampaikan. Ini cara sederhana menanamkan toleransi sejak dini, sebuah nilai dasar yang sangat ditekankan dalam profil Pelajar Pancasila.
Gelang Persahabatan dan Keberanian Tampil
Di hari terakhir, anak-anak membuat gelang persahabatan dari sedotan warna-warni dan foto diri mereka. Gelang itu menjadi simbol: “Kita satu keluarga di sekolah ini.” Lalu, mereka tampil bersama di depan guru dan teman-teman—menyanyikan lagu “Rukun Sama Teman” dengan gerakan lucu dan penuh semangat.
Tidak ada penilaian, tidak ada juara. Yang penting adalah keberanian untuk tampil dan rasa bangga karena sudah berhasil melewati hari-hari pertama di sekolah. Kegiatan ini dirancang untuk membangun kepercayaan diri tanpa kompetisi yang menekan, sesuai dengan prinsip pembelajaran yang berpusat pada murid.
Lebih dari Sekadar Perkenalan
MPLS Ramah bukan hanya soal mengenal ruang kelas atau toilet. Ini adalah upaya sistematis untuk memastikan anak-anak merasa diterima, dihargai, dan aman. Melalui kegiatan yang menyenangkan, mereka belajar nilai-nilai dasar: sopan santun, hidup sehat, peduli lingkungan, dan menghargai perbedaan.
Orang tua pun dilibatkan sejak awal—mulai dari pengisian data sosial-emosional anak hingga pendaftaran cek kesehatan gratis. Semua demi satu tujuan: menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang penuh kasih sayang. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan Kemendikdasmen ini merupakan kunci sukses dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.
Dan ketika lonceng pulang berbunyi di hari kelima, banyak anak yang berkata, “Bu, besok aku mau sekolah lagi!”
Itulah kemenangan terbesar dari MPLS Ramah. Bukan hanya tentang materi pelajaran, tetapi tentang menanamkan cinta pada proses belajar itu sendiri. Dengan dukungan kebijakan dari tingkat nasional hingga implementasi di kelas, masa depan pendidikan Indonesia dimulai dengan senyuman, bukan dengan air mata.
Penulis : Tim Komunikasi Direktorat PAUD
Penyunting: Eko B Harsono
Sumber : Petunjuk Teknis MPLS Ramah Satuan PAUD 2026
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnyaRevitalisasi Satuan PAUD: Semua Sekolah Memiliki Kesempatan yang Sama dan Setara, Syarat Akses Bantuan Satuan PAUD Imbau Perbaiki Dapodik Secara Jujur dan Akurat
Berita 2026-09-10 | 08:45:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mematangkan pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sebagai bagian dari program prioritas pemerintah. Seluruh satuan Pe...
selengkapnya