Berita
Resmikan TK Aisyiyah Bustanul Athfal Semarang, Mendikdasmen Dorong Program Wajib Belajar 13 Tahun Serukan Satu Desa Satu PAUD Satu Harapan
Berita 2026-04-06 | 17:00:00
SEMARANG PAUDPEDIA — Matahari Sabtu pagi itu belum terlalu tinggi, tetapi keriuhan sudah pecah di halaman TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 31 Semarang, Jawa Tengah. Gelak tawa anak-anak yang berlarian dengan seragam mungil mereka menjadi latar suara yang kontras dengan deretan kursi formal yang tertata rapi. Di sana, sebuah narasi besar tentang masa depan pendidikan nasional sedang ditenun.
Sabtu (4/4/2026), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti hadir bukan sekadar untuk memotong pita atau menandatangani prasasti. Kehadirannya di ibu kota Jawa Tengah ini membawa pesan kuat tentang pergeseran paradigma pendidikan: sekolah tidak lagi dimulai dari kelas satu sekolah dasar, melainkan jauh sebelumnya, di ruang-ruang bermain PAUD dan TK.
Pemerintah secara resmi menempatkan program Wajib Belajar (Wajar) 13 Tahun sebagai prioritas nasional. Kebijakan ini mewajibkan anak-anak Indonesia mengenyam pendidikan satu tahun di jenjang prasekolah sebelum memasuki pendidikan dasar enam tahun, menengah pertama tiga tahun, dan menengah atas tiga tahun.
"Salah satu dari program prioritas kami adalah Wajar 13 Tahun yang dimulai dari pendidikan dasar pada jenjang PAUD/TK," ujar Abdul Mu'ti di sela-sela peresmian gedung baru TK ABA 31.
Satu Desa Satu PAUD Satu Harapan
Program ini bukan sekadar menambah beban tahun belajar, melainkan sebuah upaya sistematis untuk memastikan "Pendidikan Bermutu untuk Semua". Untuk menyokongnya, Kemendikdasmen menggandeng Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) lewat gerakan "Satu Desa Satu TK".
Mu’ti menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Tujuannya jelas: memangkas ketimpangan akses pendidikan antara anak-anak di kota besar dan di pelosok desa. Selama ini, akses terhadap PAUD berkualitas sering kali dianggap sebagai "kemewahan" yang hanya dinikmati masyarakat kelas menengah ke atas di perkotaan.
Namun, di balik angka-angka statistik dan target pembangunan, Mu'ti menekankan bahwa esensi TK tetaplah taman, bukan ruang kelas yang kaku. Pembelajaran di tingkat ini harus mengedepankan aspek bermain untuk melatih motorik dan membangun rasa bahagia akan belajar.
"Praktik pembelajaran di tingkat dasar juga harus menyasar pada pentingnya seluruh profesi," kata Mu’ti. Ia berharap anak-anak tidak hanya terpaku pada cita-cita konvensional seperti dokter atau tentara.
Di Semarang, misalnya, anak-anak harus didorong untuk mencintai lingkungan alamnya, termasuk menjadi petani atau nelayan yang modern dan terdidik.
Sokongan Dana dan Kompetensi
Menyadari bahwa kebijakan besar memerlukan dukungan finansial yang nyata, pemerintah menyiapkan skema bantuan yang cukup masif. Mulai tahun 2026, Program Indonesia Pintar (PIP) akan diperluas jangkauannya hingga ke jenjang prasekolah. "Kami memberikan Program Indonesia Pintar (PIP) senilai Rp450.000 per tahun kepada lebih dari 880.000 murid TK," ungkap Mu'ti.
Selain intervensi langsung kepada siswa, aspek kualitas pendidik juga menjadi sorotan. Kemendikdasmen berkomitmen memberikan beasiswa bagi guru-guru TK yang saat ini belum mengantongi gelar sarjana (S-1), serta meningkatkan kompetensi mereka melalui berbagai pelatihan.
Langkah ini dianggap krusial karena guru TK adalah arsitek pertama karakter anak di luar lingkungan keluarga.
Sentuhan Teknologi dan Karakter
Dalam peninjauan ke ruang kelas, menteri sempat berinteraksi dengan anak-anak menggunakan Papan Interaktif Digital (PID). Teknologi ini dihadirkan bukan untuk menggantikan interaksi sosial, melainkan memperkaya kosakata dan merangsang rasa ingin tahu anak.
Namun, Mu'ti mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Nilai utama yang harus ditanamkan adalah etika dasar, seperti budaya antre dan kemampuan mengapresiasi orang lain.
Ucapan sederhana seperti "terima kasih", "hebat", atau "luar biasa" menjadi fondasi karakter yang lebih mahal harganya daripada kemampuan kognitif semata.
Kepala TK ABA 31, Sutarmi, menyambut hangat kebijakan ini. Baginya, kehadiran menteri dan program Wajar 13 Tahun merupakan pengakuan atas kerja keras para pendidik PAUD yang selama ini sering dianggap "anak tiri" dalam sistem pendidikan.
"Setiap hari kami memulai kegiatan dengan 'Pagi Ceria' dan mengajak murid melakukan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Kami berharap program ini memantik keinginan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di PAUD/TK, bukan sekadar menitipkan, tapi sadar akan pentingnya proses tumbuh kembang," tutur Sutarmi penuh harap.
Di bawah langit Semarang yang mulai terik, peresmian itu usai. Namun, bagi ratusan ribu desa di Indonesia, kerja besar baru saja dimulai. Mewujudkan satu desa satu TK adalah janji untuk memastikan bahwa di masa depan, tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal bahkan sebelum mereka mulai melangkah ke gerbang sekolah dasar.
Penyunting: Eko B Harsono
Sumber Siaran BHKM Kemendikdasmen