Berita
Ramadan Ceria 1000 Siswa Difabel, Mendikdasmen Abdul Mu’ti: “Pendidikan Inklusi Adalah Soal Hati, Bukan Sekadar Gedung dan Sarana Prasarana”
Berita 2026-03-18 | 19:00:00
PAUDPEDIA Jakarta – Selasar Masjid Baitut Tholibin di kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, mendadak riuh oleh tawa yang jujur. Tidak ada sekat, tidak ada canggung. Di antara aroma takjil yang mulai menguar, seribu anak berkebutuhan khusus duduk melingkar, merajut harmoni dalam gelaran "Ramadan Ceria".
Di tengah kerumunan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu’ti tampak asyik berbincang. Sesekali ia tertawa lebar mendengar celoteh seorang anak tunanetra, di lain waktu ia menyimak dengan takzim gerakan tangan seorang remaja tunarungu yang sedang "berbicara" melalui isyarat.
Bagi Mendikdasmen Abdul Mu'ti, sore itu bukan sekadar seremoni buka puasa bersama. Ini adalah manifestasi dari sebuah janji konstitusi yang sering kali terlupakan di pojok-pojok ruang kelas: bahwa pendidikan adalah hak asasi, bukan kemewahan bagi segelintir orang.
"Semua anak Indonesia, apa pun keadaannya, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan layanan pendidikan. Kita ingin membangun masyarakat yang tidak membuat sekat," ujar Prof Mu’ti dengan nada suara yang mantap namun hangat.
Melampaui Papan Tulis dan Meja
Narasi pendidikan inklusif selama ini sering kali terjebak dalam tumpukan dokumen kebijakan. Namun, di tahun 2026 ini, Kemendikdasmen mencoba menggeser pendulum tersebut ke arah aksi nyata.
Prof Mu’ti menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menyediakan gedung sekolah, melainkan menyiapkan "hati" dari sistem pendidikan itu sendiri: para guru dan lingkungan sekolah.
Langkah konkret telah dipetakan. Pada tahun ini, pemerintah berkomitmen memperluas akses dengan menambah jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di daerah-daerah yang selama ini "haus" akan layanan pendidikan khusus. Namun, yang lebih revolusioner adalah rencana pelatihan masif bagi guru pendamping di sekolah reguler.
"Tantangan pendidikan inklusi bukan hanya pada fasilitas, tetapi juga pada kesiapan guru. Kami akan melatih lebih banyak guru pendamping agar sekolah reguler mampu memberikan layanan yang setara," jelas Prof Mu’ti.
Pesan yang ingin disampaikan jelas: anak berkebutuhan khusus tidak boleh terus-menerus "diasingkan" di sekolah khusus jika mereka mampu berbaur di sekolah umum. Inklusi berarti memberikan kesempatan bagi mereka untuk tumbuh bersama teman sebaya, saling memahami, dan saling menghargai perbedaan sejak dini.
Panggung Tanpa Batas
Keriuhan di Masjid Baitut Tholibin mencapai puncaknya saat panggung ekspresi dibuka. Di sana, keterbatasan fisik seolah menguap, digantikan oleh bakat yang meluap-luap. Ada lantunan hadroh yang rancak, pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang syahdu, hingga dongeng yang memancing gelak tawa.
Yang paling menyentuh adalah saat sekelompok anak mengaji menggunakan bahasa isyarat. Jemari mereka menari di udara, merangkai firman Tuhan dalam sunyi yang penuh makna. Di sudut lain, seorang anak dengan tenang membacakan puisi tentang mimpi-mimpinya yang setinggi langit.
Momentum ini juga menandai peluncuran komunitas PijatMu. Inisiatif dari Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah ini menjadi angin segar bagi kemandirian ekonomi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra. Dengan menghimpun para terapis profesional, PijatMu bukan hanya soal jasa kesehatan, tapi soal martabat dan kedaulatan ekonomi.
Tak berhenti di situ, keceriaan Ramadan makin lengkap dengan hadirnya program mudik gratis bagi penyandang disabilitas. Sebuah solusi atas kerinduan mereka untuk pulang ke kampung halaman tanpa harus terbentur kendala aksesibilitas transportasi yang selama ini sering menjadi momok.
Bingkisan Kasih Al-Qur’an Braille
Menjelang azan Magrib berkumandang, suasana makin syahdu. Secara simbolis, Mendikdasmen membagikan paket sembako, perlengkapan ibadah, baju koko, hingga Al-Qur’an Braille.
Bagi anak-anak ini, Al-Qur’an Braille bukan sekadar buku, melainkan jendela untuk memahami dunia dan Tuhan melalui ujung jemari mereka.
"Setiap anak Indonesia memiliki potensi untuk menjadi anak-anak hebat jika mereka mendapatkan kesempatan pendidikan yang berkualitas," pungkas Mu’ti sembari menyalami satu per satu tamu kecilnya.
Saat mentari terbenam di ufuk Jakarta, seribu anak itu pulang dengan perut kenyang dan hati yang penuh. Di tangan mereka ada bingkisan, namun di benak mereka kini ada harapan: bahwa negara mulai hadir, mendengarkan, dan memastikan bahwa dalam gerbong kemajuan bangsa, tidak ada satu pun dari mereka yang ditinggalkan di peron belakang.
Ramadan di kementerian kali ini benar-benar terasa lebih "berisi". Bukan karena mewahnya hidangan, tapi karena hangatnya penerimaan. Bahwa inklusi, pada akhirnya, adalah tentang memanusiakan manusia.
Penyunting : Eko B Harsono
Sumber : Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen