Berita
PKS Angkatan 26: Kemendikdasmen Tegaskan Revitalisasi PAUD Harus Selaras dengan Pembentukan Karakter Anak
Berita 2026-06-22 | 14:45:00
YOGYAKARTA, PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa program prioritas Presiden Prabowo Subianto revitalisasi satuan pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada perbaikan gedung dan fasilitas fisik semata lebih dari itu membentuk fondasi karakter dan kepribadian luhur anak sejak usia din.
Membuka bimbingan teknis Finalisasi Dokumen Perencanaan PKS Program Revitalisasi PAUD 2026 Angkatan 26 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kementerian mengajak seluruh peserta menyelaraskan pembenahan infrastruktur prasarana esensial dengan visi besar Presiden dalam memperkuat pilar karakter anak bangsa sejak usia dini.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Didik Suhardi, dalam pembukaan kegiatan menyampaikan bahwa salah satu fokus utama pemerintah saat ini adalah membangun fondasi moral yang kokoh pada generasi muda. Langkah tersebut diwujudkan melalui penanaman nilai-nilai 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di setiap lini pendidikan anak usia dini.
“Prioritas Presiden dan Menteri adalah bagaimana kita memperkuat karakter anak-anak bangsa. Salah satu pilar penting di dalamnya adalah kedisiplinan. Karena itu, program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat ini diminta untuk terus diajarkan dan dihidupkan di semua satuan pendidikan PAUD,” ujar Didik di hadapan 315 kepala satuan PAUD dari wilayah DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Papua.
Sinergi Teknologi dan Pola Asuh Orang Tua Hebat
Didi menjelaskan, pertumbuhan teknologi yang diadopsi melalui program digitalisasi sekolah, seperti bantuan gawai pintar atau panel interaktif bagi satuan PAUD yang memenuhi syarat harus diarahkan untuk membawa dampak positif terhadap pembentukan karakter anak. Lewat intervensi digital ini, sumber belajar anak diharapkan tidak lagi terpaku hanya pada guru, melainkan dapat meluas secara positif. Namun, langkah ini tidak akan berhasil maksimal tanpa keterlibatan aktif dari lingkungan keluarga.
“Penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat ini tidak bisa berdiri sendiri di sekolah. Kebiasaan-kebiasaan baik ini harus diikuti pula oleh orang tua di rumah yang juga mempraktikkan kebiasaan hebat dalam pengasuhan sehari-hari,” tambahnya.
Langkah penguatan ini mempertegas posisi strategis PAUD sebagai kunci utama penentu keberhasilan program wajib belajar 13 tahun. Menurutnya Didik, berdasarkan hasil penelitian, anak-anak yang menempuh pendidikan PAUD memiliki kesiapan belajar yang jauh lebih baik saat memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD). Mengingat 95 persen satuan PAUD di Indonesia merupakan milik swasta yang lahir dari swadaya masyarakat, Kemendikdasmen berkomitmen penuh untuk terus mengawal ekosistem ini melalui berbagai program strategis.
Selain mengandalkan Program Hasil Cepat (PHC) di bidang revitalisasi fisik sekolah dengan target tidak ada lagi bangunan rusak di tahun 2029, kementerian juga menempatkan fokus besar pada peningkatan kapasitas pendidik. Hal ini diwujudkan melalui program beasiswa kualifikasi D4/S1 untuk mendongkrak kompetensi mengajar, yang dibarengi dengan upaya perbaikan kesejahteraan guru prasekolah agar proses belajar-mengajar berjalan lebih berkualitas tanpa menghilangkan dunia bermain anak.
Model Swakelola: Mengubah PAUD Biasa Menjadi Premium
Mendukung visi kementerian tersebut, Kepala BPMP DIY, Mohammad Adi Hartono, menyambut baik lonjakan bantuan revitalisasi di wilayah Yogyakarta. Beliau menegaskan bahwa tren peningkatan volume bantuan perbaikan satuan pendidikan pada tahun ini naik secara signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sehingga kerja sama yang solid antarlembaga diharapkan mampu mewujudkan ruang belajar yang layak serta bermutu bagi anak-anak.
Terkait pelaksanaan di lapangan, Didik Suhardi memaparkan alasan pemerintah tetap mempertahankan model swakelola dalam pelaksanaan proyek revitalisasi ini. Pola swakelola terbukti memberikan dampak pada kualitas bangunan yang jauh lebih baik karena kepala satuan pendidikan bertanggung jawab penuh dari awal hingga akhir proses pembangunan.
“Model swakelola ini memiliki keuntungan ganda. Selain masyarakat ikut merasa bertanggung jawab menjaga fasilitas sekolah, program ini juga melahirkan multiplier effect yang menggerakkan ekonomi warga sekitar. Namun, karena tanggung jawab utama di tangan satuan pendidikan, seluruh spesifikasi teknis yang ada harus diikuti dengan sangat ketat,” jelas Didik.
Melalui sinergi komitmen swakelola dan pendampingan berkala dalam PKS Angkatan 26 ini, Kemendikdasmen optimistis fasilitas PAUD yang awalnya biasa-biasa saja dapat segera bertransformasi menjadi PAUD Premium yang aman, nyaman, dan optimal dalam membentuk karakter generasi emas Indonesia.
Peliput: Dian Nuswantari
Penyunting : Eko B Harsono