Berita
Pesan Presiden Prabowo Untuk Satuan Pendidikan Penerima IFP : "Tolong Dijaga, Ini Milik Murid, Milik Rakyat"
Berita 2025-11-17 | 21:35:00
PAUDPEDIA Bekasi – Suasana haru dan penuh harapan menyelimuti aula kecil di SMPN 4 Kota Bekasi hari ini. Bukan sekadar acara peluncuran program teknologi, melainkan sebuah penegasan janji suci kepada masa depan bangsa. Presiden Prabowo Subianto, yang dikenal tegas, tiba-tiba melunak, menyisipkan nada memohon dalam kalimatnya saat berdialog virtual dengan para guru dan siswa di seluruh Indonesia.
Di hadapan layar-layar besar yang memancarkan wajah-wajah ceria siswa dari Binjai, Bangkalan, hingga Benoa, Presiden Prabowo melontarkan sebuah pesan titipan yang langsung menusuk ke jantung nurani:
“Saya hanya titip harus dijaga, dirawat, jangan sampai rusak karena ini juga milik murid-murid, milik rakyat semuanya. Kita berkepentingan bahwa ini bisa dijaga,” pesan Presiden Prabowo.
Peringatan itu bukan datang dari seorang pemimpin yang marah, melainkan dari seorang pemimpin yang menitipkan harapan terbesar dan termahal bangsa—yakni pendidikan—ke dalam genggaman setiap sekolah. Di balik pesan itu, tersirat sebuah pengakuan: investasi besar ini adalah demi memotong rantai kemiskinan dan ketertinggalan, sebuah upaya untuk menghadirkan keadilan sejati di ruang kelas.
Jendela Dunia di Ruang Murid
Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) yang menjadi fokus dialog ini memang bukan sekadar papan tulis biasa. Bagi sekolah-sekolah di pelosok dan daerah yang selama ini kesulitan mendapatkan guru ahli atau bahan ajar yang memadai, perangkat ini adalah jendela dunia.
Seketika, ruang kelas yang kaku dan monoton berubah menjadi arena eksplorasi yang dinamis.
Dari SMAN 2 Binjai, Sumatra Utara, seorang guru dengan mata berbinar menyampaikan betapa hidupnya proses pembelajaran. "Kami sebagai guru dan juga peserta didik sangat terbantu. Di dalam belajar, kami bisa banyak mengakses berbagai bahan dan juga konten-konten yang membantu proses pembelajaran di Rumah Pendidikan, terutama di Ruang Murid. Jadi anak-anak bisa belajar dari lab maya,” ujarnya. Lab maya! Sebuah kemewahan yang dulu tak terbayangkan kini hadir di sekolah negeri.
Senada di SMPN 2 Bangkalan, Jawa Timur, guru-guru merasakan perubahan fundamental pada perilaku siswa. “PID menghadirkan pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan dan membuat murid lebih aktif dalam memahami materi,” jelasnya. Kebosanan yang sering menghantui kelas kini sirna, berganti dengan antusiasme yang membara, memicu gairah belajar yang menjadi modal utama dalam membentuk "generasi yang berkemajuan."
Air mata haru mungkin tak terlihat di kamera, namun semangat yang dipancarkan dari SDN 01 Benoa, Bali, terasa kuat. Di sana, guru menunjukkan bagaimana siswa kini terpikat oleh gim edukasi yang tersedia di perangkat tersebut.
“Anak-anak sangat antusias sekali, bersemangat dan makin interaktif belajarnya, Bapak. Harapan saya dengan adanya papan interaktif digital ini dapat membantu ketercapaian pembelajaran siswa. Terima kasih Bapak,” kata guru itu. Kalimat terima kasih yang sederhana, namun mengandung makna pengakuan atas sebuah keajaiban pemerataan yang terjadi di ruang-ruang kelas terdepan.
Kunci Kebangkitan dan Kemerdekaan Sejati
Bagi Presiden Prabowo, digitalisasi pembelajaran bukan sekadar program kerja—ini adalah filosofi kebangsaan.
“Pendidikan adalah kunci dari suatu kebangkitan bangsa. Hanya melalui pendidikan kita bisa menjadi negara yang berhasil. Melalui pendidikan kita bisa merdeka,” ucap Presiden dengan lantang, menegaskan bahwa merdeka sejati adalah ketika setiap anak bangsa memiliki kesempatan setara untuk menjadi pribadi unggul.
Program ini dirancang sebagai lompatan besar untuk menjawab tantangan kualitas pendidikan. Di tengah keterbatasan guru ahli di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) atau di mata pelajaran yang sulit seperti Matematika, Bahasa Inggris, atau Mandarin, IFP hadir sebagai solusi.
Dengan IFP, guru-guru terbaik di Jakarta atau pusat kota dapat mengajar melalui siaran pendidikan jarak jauh yang diterima secara serentak di 330 ribu sekolah di seluruh Indonesia.
Ini adalah perwujudan keadilan dalam akses pengetahuan. Tidak ada lagi anak yang harus tertinggal hanya karena mereka lahir di daerah yang jauh dari ibu kota.
Meskipun baru dicanangkan beberapa bulan sebelumnya, percepatan program oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mencapai skala yang luar biasa.
“Saya berpikir program ini mungkin butuh mungkin satu tahun lebih, tapi ternyata sejak kita canangkan... Ini sudah tadi dilaporkan 173 ribu panel terpasang,” tutur Presiden Prabowo, menunjukkan rasa bangga yang mendalam. “Kalau dipelajari, dicek, mungkin di dunia ini salah satu program yang terbesar dan tercepat.”
Capaian ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah untuk tidak sekadar berwacana. Angka 173 ribu bukan hanya statistik, melainkan 173 ribu jendela harapan yang terbuka di berbagai penjuru negeri.
Namun, target tidak berhenti di sana. Melihat manfaat yang dirasakan, Presiden Prabowo menetapkan sasaran yang lebih ambisius untuk tahun depan.
“Terus tahun depan kita punya sasaran yang lebih besar lagi. Tahun depan sasaran kita adalah menambah 3 panel, berarti 3 kelas lagi untuk semua sekolah di Indonesia. Berarti tahun depan kita akan pasang insyaallah 1 juta panel kira-kira,” tandasnya, sebuah janji yang mengandung harapan jutaan murid.
Menjaga Warisan Paling Mulia
Pernyataan penutup Presiden kembali mengena ke hati, sebuah pengulangan pesan yang paling penting dari keseluruhan acara. Teknologi canggih, kecepatan implementasi, dan target jutaan unit adalah hal yang penting, namun semua itu akan sia-sia tanpa satu hal: pemeliharaan.
“Syukur, terima kasih, bermanfaat, tolong dijaga. Dan kita akan berupaya terus supaya lebih banyak lagi konten, lebih banyak lagi bahan yang bisa dikirim. Nanti juga bisa ada siaran pendidikan dari jarak jauh,” tutup Presiden.
Pesan itu adalah sebuah ikatan batin. IFP bukan milik pemerintah, bukan milik kementerian, bahkan bukan milik kepala sekolah. Ia adalah milik murid, sebuah alat yang diserahkan kepada generasi muda untuk menuliskan takdir mereka sendiri. Menjaga perangkat itu berarti menjaga kesempatan mereka untuk merdeka melalui pendidikan.
Dengan terpasangnya papan ajaib di ruang kelas, sebuah babak baru dalam sejarah pendidikan Indonesia telah dimulai—babak yang dibangun di atas semangat pemerataan, antusiasme belajar, dan janji suci untuk menjaga amanah yang paling mulia: masa depan anak-anak Indonesia.
Peliput : Eko Harsono dan Azriel Aufa