Berita
Peringatan Safer Internet Day: Keluarga Benteng Terakhir Anak di Belantara Digital, Jadikan Bulan Ramadan Ramah Anak dan Gerakan 1 Jam Berkualitas Tanpa Internet
Berita 2026-02-19 | 13:00:00
PAUDPEDIA JAKARTA - Lampu hias Taman Ismail Marzuki (TIM) mulai menyala ketika ratusan orang tua, pegiat komunitas, dan perwakilan pemerintah duduk berdampingan pada Sabtu sore, 14 Februari 2026. Di ruang yang lebih sering dipenuhi diskusi seni dan sastra itu, percakapan hari itu bergeser ke isu yang jauh lebih sunyi namun menentukan: keselamatan anak-anak di dunia digital.
Peringatan Safer Internet Day (SID) 2026 di Jakarta bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi cermin kegelisahan bersama—tentang layar gawai yang semakin dekat dengan anak, sementara jarak pemahaman orang dewasa justru kerap melebar.
Di bawah langit Cikini yang perlahan meredup, sebuah kesadaran kolektif coba dibangun: bahwa di balik gemerlap piksel dan algoritma, ada jiwa-jiwa mungil yang butuh dekap hangat pengasuhan nyata.
Jejak Dua Dekade: Dari Kata Sandi ke Perlindungan Jiwa
Peringatan Safer Internet Day lahir sebagai gerakan dunia, diinisiasi lebih dari dua dekade lalu (tepatnya pada 2004 oleh proyek SafeBorders Uni Eropa), ketika internet mulai merambah ruang-ruang privat keluarga. Awalnya, kampanye ini menekankan keamanan teknis yang bersifat mekanis: kerumitan kata sandi, perlindungan data pribadi, dan ancaman peretas.
Namun, seiring waktu, persoalan menjadi jauh lebih kompleks. Internet bukan lagi sekadar alat atau perpustakaan digital, melainkan "ruang hidup kedua" bagi anak dan remaja. Di sanalah mereka belajar, bersosialisasi, mencari jati diri, sekaligus menjadi sangat rentan terpapar kekerasan, eksploitasi, hingga manipulasi psikologis yang canggih.
Indonesia merespons kegelisahan global itu dengan caranya sendiri. Di negeri dengan lebih dari separuh penduduk terkoneksi internet, anak-anak tumbuh bersama algoritma sejak jemari mereka belum mampu memegang pensil dengan sempurna. Mereka mahir menggulir layar (scrolling), tetapi sering kali berjalan sendirian tanpa peta di tengah rimba informasi yang tak bertepi.
Ancaman di Balik Layar: Apa Kata Sains?
Urgensi peringatan tahun ini bukan tanpa dasar ilmiah yang kuat. Berbagai kajian dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa paparan internet pada anak usia dini tanpa pendampingan bagaikan membiarkan balita menyeberang jalan raya yang padat sendirian.
Penelitian di bidang neurosains menunjukkan bahwa durasi layar (screen time) yang berlebihan pada usia emas (0-6 tahun) dapat menghambat perkembangan lobus frontal otak yang bertanggung jawab atas kontrol impuls, empati, dan konsentrasi.
Sebuah studi dari American Academy of Pediatrics memperingatkan bahwa paparan konten yang tidak sesuai usia dapat memicu kecemasan dini dan distorsi persepsi realitas.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah fenomena "yatim digital"—anak-anak yang secara fisik didampingi orang tua, namun secara mental diabaikan karena sang pengasuh pun asyik dengan gawainya sendiri.
Data menunjukkan bahwa risiko perundungan siber (cyberbullying) dan eksploitasi seksual anak daring (Online Child Sexual Exploitation and Abuse) meningkat tajam justru karena adanya celah komunikasi di dalam rumah.
Memperkuat Fondasi Keluarga
Di sinilah negara mulai menaruh perhatian lebih dalam. Melalui FutureFam Summit—bagian dari peringatan Safer Internet Day 2026—pemerintah mencoba menggeser fokus: dari sekadar literasi teknologi menuju penguatan ketahanan keluarga.
Di hadapan peserta, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menyampaikan pesan yang berulang kali ia tekankan. Internet, kata Woro—yang akrab disapa Lisa—tak mungkin dibendung. Yang bisa dilakukan adalah memastikan anak-anak tidak mengarunginya sendirian.
"Keluarga adalah lingkungan pertama dan terdekat yang menentukan bagaimana anak mengenal, menggunakan, dan bersikap di ruang digital," ujarnya dengan nada tegas namun tenang.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan panjang: bagaimana orang tua yang mungkin gagap teknologi (digital immigrant) dapat mendampingi anak yang lahir sebagai pribumi digital (digital native)?
Lisa menyebut ruang digital ideal sebagai ekosistem yang saling menopang. Anak harus berdaya, orang dewasa paham, komunitas peduli, dan sistem bertanggung jawab. Namun, realitasnya sering timpang. Banyak orang tua menyerahkan gawai sebagai "pengasuh elektronik" hanya untuk mengalih perhatian agar anak tenang, tanpa bekal literasi untuk memahami risiko di baliknya.
Kesunyian di Tengah Keramaian Digital
Kegelisahan itu terasa sangat nyata di ruang diskusi FutureFam Summit. Sejumlah orang tua berbagi cerita yang menyesakkan dada. Ada yang berkisah tentang anaknya yang lebih percaya pada petuah influencer asing ketimbang nasihat ayah-ibunya sendiri. Ada pula cerita tentang remaja yang mengalami tekanan psikologis berat hingga depresi akibat komentar negatif di media sosial yang tak sanggup ia bendung.
Internet, yang semula menjanjikan keterhubungan tanpa batas, dalam banyak kasus justru berubah menjadi ruang sunyi yang kejam bagi mereka yang rapuh. Di titik inilah pemerintah mencoba masuk lebih jauh.
Lisa menegaskan, perlindungan anak di ruang digital tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terhubung dengan agenda pembangunan keluarga secara menyeluruh.
Keluarga yang rapuh—baik secara ekonomi, emosional, maupun relasional—akan kesulitan membangun pola pengasuhan digital yang sehat. "Jika keluarga kuat, anak terlindungi. Jika anak terlindungi, masa depan bangsa terjaga," kata Lisa, menautkan isu digital dengan narasi besar pembangunan manusia Indonesia menuju 2045.
Inisiatif "1 Jam Bersama Keluarga"
FutureFam Summit 2026 juga menjadi panggung peluncuran sejumlah inisiatif konkret. Salah satu yang paling disorot adalah program "1 Jam Berkualitas Bersama Keluarga" dan "Gerakan Ramadan Ramah Anak".
Program-program ini mungkin terdengar normatif bagi sebagian orang, tetapi di tengah banjir teknologi, ia menjadi pengingat yang sangat krusial: bahwa kehadiran orang tua secara utuh—tanpa distraksi notifikasi layar—adalah kemewahan sekaligus kebutuhan dasar bagi tumbuh kembang anak.
Satu jam tanpa gawai, hanya untuk bercengkerama, membacakan buku, atau sekadar bertukar cerita, adalah imun terbaik melawan dampak negatif dunia maya.
Kehadiran perwakilan dari Kemenko PMK, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Kementerian Komunikasi dan Digital, KPAI, hingga Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di TIM sore itu menandai satu hal: ruang digital adalah wilayah lintas sektor.
Ia tak lagi bisa diurus oleh satu lembaga saja, karena dampaknya telah merasuk ke setiap sendi kehidupan manusia.
Pertaruhan di Balik Pintu Rumah
Namun, seperti pepatah lama, tantangan sesungguhnya ada di luar dinding gedung pertemuan yang nyaman. Sejauh mana pesan-pesan dari para pemangku kebijakan ini sampai ke ruang keluarga di pelosok desa atau di gang-gang sempit perkotaan?
Seberapa jauh negara mampu menjangkau orang tua yang bahkan belum menyadari bahwa aplikasi gim atau media sosial yang tampak "ramah" bisa menjadi pintu masuk bagi ancaman nyata?
Pertanyaan itu menggantung seiring berakhirnya perhelatan di Taman Ismail Marzuki. Menjelang malam, para peserta melangkah keluar. Mereka kembali ke rumah masing-masing—ke sebuah unit terkecil masyarakat yang kini selalu bersisian dengan layar gawai yang berpendar.
Di sanalah, di balik pintu-pintu rumah itu, pertaruhan sesungguhnya berlangsung. Apakah internet akan menjadi ruang aman bagi tunas bangsa untuk tumbuh dan bersemi, atau justru menjadi ladang risiko yang tak terkelola, bergantung pada satu hal yang terus digaungkan sepanjang hari itu: sejauh mana orang tua hadir sebagai mercusuar di tengah badai informasi.
Sore itu di TIM, kita diingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Kendali sesungguhnya tetap ada pada jemari dan hati orang tua yang mau belajar untuk peduli.
Peliput : Eko B Harsono
Sumber : Siaran Pers Kemenko PMK
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnyaRevitalisasi Satuan PAUD: Semua Sekolah Memiliki Kesempatan yang Sama dan Setara, Syarat Akses Bantuan Satuan PAUD Imbau Perbaiki Dapodik Secara Jujur dan Akurat
Berita 2026-09-10 | 08:45:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mematangkan pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sebagai bagian dari program prioritas pemerintah. Seluruh satuan Pe...
selengkapnya