Berita
Penghargaan Profesi Guru Jangan Lagi Sebatas Retorika, Rangkaian Upacara Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Surabaya, Manokwari dan Jakarta
Berita 2025-11-26 | 06:11:00
PAUDPEDIA Manokwari — Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2025 tergelar dengan gaung yang membentang dari jantung ibu kota hingga pelosok timur Nusantara. Di bawah tema sentral “Guru Hebat, Indonesia Kuat”, rangkaian upacara dan apresiasi yang dipimpin oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen),
Abdul Mu’ti, mengirimkan pesan tegas: penghargaan terhadap profesi guru kini tidak lagi sekadar retorika, melainkan diwujudkan melalui komitmen perlindungan, peningkatan kompetensi, dan perbaikan kesejahteraan yang nyata.
Pada 25 November 2025, Balai Kota Surabaya menjadi panggung utama perayaan HGN. Dihadiri seribu peserta dari unsur pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga perwakilan pemerintah daerah, upacara berlangsung khidmat.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, mengenakan busana adat Bali lengkap dengan udeng, memimpin upacara sekaligus menyampaikan amanat yang menjadi peta jalan bagi masa depan para pahlawan tanpa tanda jasa.
Komitmen Konkret dan Perlindungan Hukum
Dalam pidatonya, Mendikdasmen Mu’ti menyoroti bahwa guru adalah fondasi utama yang memastikan keberlangsungan nilai, ilmu, dan karakter bangsa. Ia mengakui, di era digital dan dunia yang kian materialistis, tantangan yang dihadapi guru semakin berat.
"Guru dihadapkan pada tantangan kehidupan yang semakin hedonis dan materialistis, tuntutan masyarakat yang kian tinggi, dan apresiasi yang masih rendah," tegas Menteri Mu’ti.
Ia menambahkan, kondisi ini bahkan menyebabkan sebagian guru mengalami tekanan material, sosial, mental, dan berhadapan dengan aparatur penegak hukum. "Kondisi demikian harus diakhiri. Guru harus tampil lebih percaya diri dan berwibawa di hadapan para murid,” ujarnya.
Sebagai respons konkret atas tantangan tersebut, Menteri Mu’ti mengumumkan langkah strategis pemerintah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menandatangani nota kesepahaman dengan Kepala Kepolisian Republik Indonesia.
Isi kesepahaman ini mencakup penyelesaian damai (restorative justice) bagi guru yang bermasalah dengan murid, orang tua, atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam hal-hal yang berkaitan dengan tugas mendidik. Kebijakan ini merupakan payung perlindungan yang diharapkan dapat mengembalikan fokus guru pada tugas utama mereka: mendidik dengan hati.
Selain perlindungan, Mendikdasmen Mu'ti juga memaparkan rangkaian kebijakan kesejahteraan dan peningkatan kapasitas. Dalam setahun terakhir, Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto telah mengalokasikan beasiswa sebesar tiga juta rupiah per semester bagi 12.500 guru non-D.IV/S.1 untuk melanjutkan studi melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Selain itu, berbagai pelatihan seperti Pendidikan Profesi Guru (PPG), Deep Learning, Koding, hingga Kecerdasan Artifisial (KA) gencar dilaksanakan.
Untuk meningkatkan kesejahteraan, Pemerintah memberikan tunjangan sertifikasi sebesar dua juta rupiah per bulan bagi guru non-ASN. Bagi guru honorer, meskipun menyadari jumlahnya belum ideal, insentif sebesar Rp 300.000 per bulan telah ditransfer langsung ke rekening mereka.
Visi 2026: Mengurangi Beban, Memperkuat Dedikasi
Visi perbaikan ini tidak berhenti di tahun 2025. Mendikdasmen Mu’ti menjanjikan perbaikan signifikan di tahun 2026. “Tahun 2026, kesempatan melanjutkan studi dengan beasiswa dibuka untuk 150.000 guru. Tunjangan guru honorer dinaikkan dari 300.000 rupiah menjadi 400.000 rupiah,” ungkapnya, disambut tepuk tangan riuh.
Yang tak kalah penting, Mendikdasmen mengumumkan kebijakan pengurangan beban administratif bagi guru. Kewajiban mengajar tidak lagi mutlak 24 jam, dan akan ada satu hari khusus dalam sepekan yang didedikasikan untuk belajar bagi guru.
“Kebijakan tersebut dimaksudkan agar guru dapat lebih fokus melaksanakan tugas utama sebagai pendidik profesional, melaksanakan tugas pembelajaran, membimbing, dan meningkatkan kualitas diri,” lanjut Menteri Mu’ti.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang hadir dalam upacara tersebut, menyampaikan dukungannya yang luar biasa terhadap pesan Mendikdasmen. “Kita menjadi apa pun hari ini, itu adalah karena jasa seorang guru.
Karena itulah hormati guru sampai kapan pun, seperti kita menghormati orang tua kita,” kata Wali Kota Eri, memperkuat seruan Menteri agar masyarakat menghormati jerih payah para guru, dan tidak hanya menghakimi kinerja mereka dari angka-angka.
Cahaya dari Timur Indonesia
Serangkaian upacara peringatan HGN 2025 juga menjangkau wilayah timur Indonesia, menegaskan keberpihakan pemerintah terhadap pendidik di seluruh pelosok negeri.
Di SMAN 1 Manokwari, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menjadi pembina upacara.
Dalam balutan busana adat Papua, kehadiran Wamendikdasmen disambut dengan tarian khas Papua yang semarak dari para siswa, membuktikan antusiasme warga sekolah.
Wamendikdasmen Fajar, saat membacakan pidato Menteri, menyampaikan bahwa kunjungan ke Manokwari ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah. Ia menekankan bahwa guru di wilayah terpencil mengemban tugas profetik untuk mencerdaskan, membangun nalar kritis, hati yang jernih, dan akhlak mulia.
Kepada ratusan peserta upacara, Wamen Fajar berpesan agar para guru tetap semangat mengabdi, meningkatkan kompetensi, dan mengasuh anak-anak dengan sepenuh hati, terutama dalam menghadapi tantangan persoalan kesehatan mental yang kini makin mengganggu perkembangan emosi sosial anak.
Kebanggaan terpancar dari Kepala Sekolah SMAN 1 Manokwari, Lucinda Patricia Mandobar, yang merasa termotivasi untuk bekerja lebih baik. “Kehadiran Bapak Wamen ke tempat ini kami sangat memotivasi untuk terus bekerja dengan lebih baik lagi agar tujuan menjadikan mencerdaskan anak bangsa dapat kami wujudkan,” ungkapnya, mewakili komitmen guru di Manokwari.
Sementara itu, Ketua OSIS SMAN 1 Manokwari, Robert Imanuel Bastian, menuturkan rasa syukurnya. “Seperti lagunya, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka selalu mengorbankan waktu untuk mengajar kita,” ujar Robert, yang bersama teman-temannya menampilkan pertunjukan drum band. Peringatan HGN ini menjadi momentum bagi generasi muda untuk mengingat betapa pentingnya jasa guru.
Apresiasi di Pusat dan Panggilan Kolaborasi
Di saat yang sama, di Halaman Kantor Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, upacara khidmat dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, dihadiri 100 guru berprestasi dari seluruh Indonesia.
Kehadiran para guru hebat ini menandai puncak Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Ditjen GTKPG, sebuah rangkaian acara yang bertujuan untuk memantik inspirasi, memberikan motivasi nyata, dan menjadikan HGN bermanfaat bagi para pendidik.
Dalam pidato yang dibacakan, Menteri Mu'ti mengutip lima nasihat Presiden Prabowo Subianto kepada murid: “Belajarlah yang Baik, Cintai Ayah dan Ibu, Hormati Guru, Rukun Sama Teman, Cintai Tanah Air dan Bangsa.” Pesan ini menyimpulkan esensi perjuangan guru yang tidak bisa dilepaskan dari dukungan ekosistem pendidikan yang utuh.
Menteri Mu'ti menutup seluruh rangkaian peringatan ini dengan imbauan keras kepada masyarakat, orang tua, dan semua pihak. "Sejatinya, tanggung jawab pendidikan yang pertama dan utama adalah orang tua dan keluarga. Berilah kesempatan para guru membantu mendidik anak-anak dengan cara terbaik, perbaiki komunikasi, kerja sama, dan saling menghargai,” pintanya.
Hari Guru Nasional 2025 bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan janji keberpihakan pemerintah terhadap profesi mulia ini. Mulai dari Surabaya, Jakarta, hingga Manokwari, pesan yang disampaikan sama: guru adalah motor penggerak, dan di tangan mereka tertumpu kualitas sumber daya manusia, masa depan bangsa dan negara.
“Teruslah mengabdi untuk negeri. Selamat Hari Guru 2025. Guru hebat, Indonesia kuat,” pungkas Menteri Mu’ti, mengakhiri rangkaian peringatan ini dengan optimisme yang melampaui seremoni, menuju implementasi kebijakan yang lebih berkeadilan.
Peliput : Eko B Harsono dan Herry Hartawan
Sumber : Siaran Pers BKHM Kemendikdasmen