Berita
Merajut Harapan dari Ujung Timur Negeri, Upaya Transformasi Satuan PAUD 3T di Papua Pegunungan, Tambolaka Sumba Barat.Daya dan di Soe NTT
Berita 2026-04-21 | 09:05:00
PAUDPEDIA Tangerang - Di sebuah ruang pertemuan “ballroom” hotel megah di Tang City kota Tangerang, atmosphir menjadi sarat akan semangat perubahan. Dialog interaktif antara Staf Khusus Menteri Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Rita Pranawati, dengan kepala sekolah dari Indonesia Timur, dalam giat Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Program Revitalisasi PAUD Tahun 2026 Angkatan ke-12 mengalirkan energi menyentuh relung hati.
Pertemuan ini bukan sekadar diskusi kebijakan teknis; ini adalah perjumpaan antara narasi besar pemerintah dengan denyut nadi perjuangan di lapangan—sebuah potret nyata bagaimana pendidikan inklusi dan digitalisasi berusaha menjangkau titik-titik terjauh negeri ini.
Rita Pranawati membuka pembicaraan dengan pesan yang sangat membumi namun fundamental. Baginya, revitalisasi sarana dan prasarana adalah cerminan martabat pendidikan.
"Pak Presiden tidak pernah ingin ada toilet yang bau atau tidak berguna. Itu penting karena sarpras menjadi model awal agar pendidikan kita berjalan dengan sebaik-baiknya," tegas Rita.
Revitalisasi PAUD di 3T Prioritas 2026
Revitalisasi di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) menjadi prioritas tahun 2026, sebuah langkah keberpihakan yang menurutnya sangat luar biasa bagi peningkatan kualitas SDM.
Namun, perhatian Rita seketika tercurah pada sosok-sosok pejuang pendidikan yang hadir. Ia menantang perwakilan dari Papua Pegunungan untuk maju. Agustina Sergini, seorang bendahara yang mewakili kepala sekolah dari TK YPBK Santa Teresa, Wamena, melangkah maju.
Ia membawa cerita tentang realita satuan PAUD di Wamena. Meskipun sekolahnya telah dinyatakan menerima bantuan sanitasi dan taman bermain, tantangan masih membentang. Masih ada dua ruang kelas yang rusak berat dan kebutuhan mendesak untuk fasilitas pendukung lainnya.
Agustina mengakui bahwa mereka telah bahu-membahu dengan orang tua murid untuk melakukan perbaikan swadaya. Proposal pembangunan yang ia bawa adalah harapan bagi keberlangsungan belajar anak-anak di sana.
Rita menanggapinya dengan apresiasi tinggi, menegaskan bahwa kehadiran mereka di forum ini adalah langkah awal untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
"Semoga bermanfaat dan bisa membangun kejahannya untuk PAUD Santa Teresa, tapi juga PAUD lainnya di Papua Pegunungan yang masih sangat membutuhkan," ujar Rita penuh empati.
Papan Digital dan "Magis" Literasi
Dialog kemudian beralih pada fenomena digitalisasi. Rita menyoroti pentingnya Papan Interaktif Digital (PID) sebagai media pembelajaran yang relevan dengan zaman. Seorang kepala sekolah dari pelosok Papua, yang sekolahnya terletak tiga jam perjalanan dari pusat kota, berbagi kesaksian yang mencengangkan.
Sebelum ada PID, anak-anak cenderung cepat bosan. Namun, setelah sekolahnya menerima bantuan papan digital tersebut, suasana kelas berubah drastis.
"Setelah menggunakan papan interaktif itu, mereka sampai jam 10 malam tidak mau pulang," cerita sang kepala sekolah, memancing tawa sekaligus haru peserta lain. Anak-anak menjadi sangat antusias menonton video "Senang 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat".
Rita menegaskan bahwa inilah esensi dari kebijakan Presiden Prabowo. PID bukan sekadar gawai canggih, melainkan jembatan agar anak-anak tidak lagi belajar dengan cara yang kaku seperti era papan tulis kapur. Di tangan guru yang tepat, teknologi ini menjadi alat untuk mencerdaskan sekaligus membahagiakan anak didik.
Menjawab Tantangan "Screen Time"
Di tengah euforia digitalisasi, Rita Pranawati memberikan catatan kritis mengenai tantangan era modern. Ia memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan: durasi *screen time* anak Indonesia di bawah 18 tahun mencapai rata-rata 7 jam sehari. Jika digabungkan dengan waktu tidur, anak-anak kita menghabiskan waktu yang sangat sedikit untuk beraktivitas fisik dan bersosialisasi secara nyata.
Menjawab persoalan ini, pemerintah mengedepankan kampanye "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat". Tujuh kebiasaan tersebut—mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, hingga tidur cepat—adalah kompas bagi pembentukan karakter anak di usia dini.
"Anak-anak kita memang bertumbuh dan besar di zaman yang berbeda. Maka, 7 Kebiasaan ini menjadi penting sebagai fondasi perilaku," kata Rita.
Ia pun mendorong setiap sekolah, terutama PAUD, untuk menggiatkan "Pagi Ceria" yang mencakup upacara, senam, dan penguatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Komitmen Tanpa Sekat
Dalam sesi sebelumnya, dialog juga mencakup perjuangan sekolah-sekolah di Timor Tengah Selatan dan Sumba Barat Daya. Ibu Norli Njedeta dari Soe dan Ibu Agnes dari Tambolana telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menutup diri dari anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).
Ibu Agnes, dengan TK Hatinurani-nya, telah merawat 10 siswa dengan beragam spektrum kebutuhan sejak 2014. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah hak setara bagi setiap anak, terlepas dari kondisi fisik maupun mental mereka.
Rita menyambut kisah ini dengan apresiasi mendalam, menyebut bahwa keberanian para kepala sekolah ini adalah jawaban nyata atas visi pendidikan inklusif yang ingin dicapai negara.
Di akhir pertemuan, pesan Rita sangatlah jelas: revitalisasi fisik, digitalisasi, dan penguatan karakter harus berjalan beriringan. Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan, berkomitmen untuk terus memfasilitasi kebutuhan sekolah, termasuk melalui sumber belajar daring seperti "Rumah Pendidikan".
Dialog di ruang pertemuan itu berakhir dengan tepuk tangan panjang. Namun, di balik riuh rendahnya, ada komitmen besar yang telah disepakati: bahwa di tangan para pendidik di pelosok negeri, dari lereng gunung di Papua hingga perbukitan Sumba, masa depan pendidikan Indonesia sedang dirajut dengan sabar, hati nurani, dan sentuhan teknologi yang tepat. Inilah wajah pendidikan kita masa depan—inklusi, merata, dan relevan dengan zaman.
Peliput : Eko B Harsono dan Herry Hartawan
InfoTerkini
Menjaga Nadi Pendidikan dari Angka dan Realitas Dapodik, Geliat Senyap Satuan PAUD Kala 95,6 Persen Data PAUD Menyala di Pelosok Nusantara
Berita 2026-09-14 | 14:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA - Di balik papan ketik komputer di ribuan pelosok Nusantara, jemari para operator sekolah terus bergerak sabar. Mereka menyusun baris-baris angka, merapikan identit...
selengkapnyaRiset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnya