Berita
Menjemput Masa Depan di Ruang Kelas Satuan PAUD, Saatnya Teknologi Tak Lagi Sekadar Layar Dan Guru Handal Gunakan Instrumen Teknologi Pembelajaran
Berita 2026-04-19 | 08:30:00
SURABAYA, PAUDPEDIA – Langkah kaki anak-anak usia dini di Jawa Timur kini mulai bersinggungan dengan dunia digital yang lebih terstruktur. Bukan sekadar menatap layar, para pendidik di provinsi ini tengah didorong untuk melakukan lompatan paradigma: mengalihkan teknologi dari sekadar alat hiburan menjadi instrumen pembelajaran mendalam atau deep learning.
Transformasi ini menjadi inti dari agenda strategis yang diusung dalam Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran PAUD yang berlangsung di Surabaya, pekan ini. Fokusnya jelas, yakni penguatan kerangka kerja Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Sebuah konsep yang mengharuskan guru tidak hanya mahir mengoperasikan gawai, tetapi juga paham bagaimana teknologi tersebut berkelindan dengan cara mengajar dan materi yang disampaikan.
Narasumber Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, Ireng menegaskan bahwa digitalisasi di jenjang PAUD memiliki garis batas yang tegas. Teknologi hadir bukan untuk mengeliminasi interaksi fisik, melainkan untuk memperkaya stimulasi bagi anak didik.
"Kami di BBPMP berkomitmen memastikan bahwa digitalisasi ini tidak mencabut akar bermain sebagai kodrat anak. Guru adalah nakhodanya. Teknologi seperti Papan Interaktif Digital (PID) harus digunakan untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan tentu saja menggembirakan bagi anak," ujar Ireng.
Ia menambahkan, kualitas pendidikan di Jawa Timur sangat bergantung pada bagaimana guru mampu menyusun perencanaan yang matang. Digitalisasi bukan berarti otomatisasi, melainkan upaya peningkatan efisiensi tanpa mengurangi empati dan sentuhan manusiawi dalam mendidik.
Harmonisasi TPACK dan Pembelajaran Mendalam
Tantangan terbesar dalam digitalisasi PAUD adalah menjembatani antara perangkat keras yang canggih dengan kurikulum yang dinamis. Di sinilah peran TPACK menjadi krusial. Guru dituntut mampu meramu konten digital, seperti yang tersedia dalam fitur "Ruang Murid", ke dalam aktivitas bermain yang memiliki tujuan belajar yang jelas.
Kartika Rinakit, pakar pendidikan anak usia dini dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menyoroti bahwa pembelajaran mendalam di usia dini hanya bisa terjadi jika anak-anak diberi ruang untuk bereksplorasi, bertanya, dan melakukan refleksi. Teknologi berperan sebagai "pemantik" rasa ingin tahu tersebut.
"Pembelajaran mendalam atau *deep learning* bukan berarti memberikan materi yang berat secara kognitif, melainkan memberikan pengalaman yang membekas. Dengan bantuan teknologi yang tepat, guru bisa menghadirkan fenomena alam atau cerita ke dalam kelas dengan lebih hidup," jelas Kartika.
Menurutnya, setiap guru memiliki tingkat kematangan digital yang berbeda-beda. Namun, targetnya adalah mencapai tahap mahir (advancing), di mana guru secara percaya diri mampu mengintegrasikan teknologi untuk mendukung delapan dimensi profil lulusan PAUD, termasuk penalaran kritis dan kreativitas.
Sejalan dengan itu, Wiwik Citra Pratiwi, akademisi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang turut menjadi narasumber ahli, menekankan pentingnya aspek pedagogis dalam setiap penggunaan perangkat digital.
Ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah cangkang jika tidak diisi dengan strategi mengajar yang kuat. "Guru harus memiliki kepekaan untuk mengetahui kapan teknologi harus digunakan dan kapan harus diletakkan. Di UNS, kami terus meneliti bagaimana interaksi digital pada anak usia dini dapat memicu perkembangan sinapsis otak tanpa menyebabkan ketergantungan. TPACK adalah panduan agar guru tetap berada pada jalur pendidikan yang sehat," kata Kartika.
Realita di Ruang Kelas
Implementasi teori-teori tersebut diuji langsung oleh para praktisi di lapangan. Salah satunya adalah Wiwik Citra Pratiwi , guru dari KB Islam Taman Firdaus. Baginya, transisi menuju kelas berbasis digital memberikan tantangan manajemen kelas yang baru.
Kartika menceritakan bagaimana penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau PID di lembaganya mampu menciptakan "aha moment" yang luar biasa bagi anak-anak.
Namun, ia juga jujur mengakui adanya kesulitan awal. "Awalnya, ada kekhawatiran anak-anak justru menjadi pasif karena terlalu fokus pada layar. Namun, dengan perencanaan yang kami susun berdasarkan materi bimtek ini, kami belajar untuk membagi anak ke dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang berinteraksi dengan papan digital, ada yang melakukan aktivitas fisik yang berkaitan dengan konten tersebut," ungkap Wiwik.
Ia menambahkan bahwa langkah konkret untuk mengatasi tantangan tersebut adalah dengan melakukan persiapan yang sangat detail. "Kami tidak bisa lagi masuk kelas hanya dengan membawa buku. Kami harus memastikan konten digital yang dipilih benar-benar relevan dengan pengalaman sehari-hari anak, sehingga mereka tetap merasa terhubung dengan dunianya."
Keberlanjutan Melalui Rencana Tindak Lanjut
Bimbingan teknis ini tidak berhenti di ruang pertemuan. Para pendidik dari berbagai daerah di Jawa Timur diwajibkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan diimplementasikan selama tiga bulan ke depan.
Sri Kurnianingsih pakar PAUD dari Universitas 11 Maret Surakarta, Jawa Tengah menjelaskan bahwa RTL ini mencakup proses pengimbasan kepada komunitas belajar (kombel) atau gugus PAUD lainnya.
"Kami ingin ilmu ini mengalir. Guru yang hadir di sini punya tanggung jawab moral untuk berbagi praktik baik kepada rekan sejawatnya di daerah masing-masing," tegasnya.
Program RTL ini nantinya akan dievaluasi secara berkala. Guru diminta untuk mengunggah dokumentasi praktik pembelajaran berbasis TPACK yang telah mereka lakukan di satuan pendidikan masing-masing.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa investasi pada perangkat teknologi yang telah didistribusikan oleh pemerintah dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pertumbuhan anak.
Melalui sinergi antara kebijakan BBPMP Jatim, kepakaran akademisi dari Unesa dan UNS, serta dedikasi para guru di lapangan, Jawa Timur optimis mampu menciptakan standar baru dalam pendidikan anak usia dini. Digitalisasi bukan lagi menjadi beban, melainkan jembatan emas menuju generasi yang literat teknologi sekaligus memiliki karakter yang kuat.
Pendidikan PAUD masa kini adalah tentang bagaimana memberikan fondasi yang kokoh bagi anak agar mereka tidak hanya menjadi penonton di era digital, tetapi menjadi aktor yang mampu berpikir kritis, berempati, dan terus mencintai proses belajar.
Peliput : Eko B Harsono dan Wisnu Aditya