Berita
Menjadikan PAUD Benteng Pertama Budaya Sekolah Aman dan Ramah Anak, Memutus Rantai Kekerasan Sejak Dini Melalui Kurikulum Berbasis Cinta
Berita 2026-05-11 | 08:50:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Pondasi utama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman harus diletakkan sejak masa paling krusial dalam pertumbuhan manusia, yakni usia dini. Pemerintah kini memperkuat komitmen bahwa penanaman karakter dan budaya sekolah yang inklusif tidak boleh menunggu hingga anak menginjak usia remaja, melainkan harus dimulai sejak anak menginjakkan kaki di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Melalui Gerakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, sekolah setingkat PAUD kini diposisikan sebagai "laboratorium kasih sayang" pertama bagi anak. Tujuannya jelas: menanamkan nilai-nilai empati dan rasa aman secara mendalam sehingga perilaku negatif seperti perundungan dapat dicegah sejak dari akarnya.
Suasana riuh rendah jam istirahat sekolah sering kali menjadi ruang abu-abu. Di antara tawa siswa yang berlarian, terselip risiko perundungan atau pengabaian yang luput dari mata guru. Menyadari tantangan tersebut, pemerintah meluncurkan sebuah narasi besar untuk mengubah wajah institusi pendidikan: sekolah bukan lagi sekadar tempat transfer ilmu, melainkan oase aman yang melindungi raga sekaligus jiwa.
Gerakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman kini menjadi komitmen lintas kementerian untuk memastikan tidak ada lagi murid yang berangkat sekolah dengan rasa cemas. Langkah ini dikukuhkan dalam Dialog Nasional Hari Pendidikan Nasional bertema ”Sinergi Perlindungan Anak di Dunia Pendidikan: Gerakan Satuan Pendidikan Ramah Anak, Aman, dan Nyaman” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).
Transformasi Paradigma
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pemerintah kini bergerak melampaui pendekatan administratif dalam menangani kekerasan di sekolah. Kehadiran Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menjadi landasan hukum sekaligus panduan moral.
”Sekolah merupakan etalase tempat kita membangun masa depan anak bangsa. Melalui peraturan ini, kami menekankan bahwa rasa aman bukan hanya soal fisik, seperti pagar yang kokoh, tetapi juga kenyamanan mentalitas,” ujar Fajar.
Menurutnya, sekolah yang aman harus mampu menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan murid. Pendekatan holistik ini menyentuh aspek psikis agar anak merasa diterima secara utuh. Fajar menekankan bahwa kolaborasi antara Kemendikdasmen, Kementerian Agama (Kemenag), dan KemenPPPA adalah bukti negara hadir tanpa sekat birokrasi demi kepentingan terbaik bagi murid.
Terutama di tengah dinamika dunia pendidikan yang semakin kompleks, mulai dari isu perundungan konvensional hingga ancaman di ruang digital.
Perisai Bernama Cinta
Jika Kemendikdasmen memperkuat regulasi, Kementerian Agama masuk melalui jalur sanubari. Menteri Agama Nasaruddin Umar memperkenalkan sebuah terobosan spiritual-pedagogis yang disebut **Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)**. Pendekatan ini menitikberatkan pada penanaman nilai kasih sayang sebagai perisai alami anak dari perilaku kekerasan.
Nasaruddin menjelaskan bahwa ketika rasa cinta terhadap Tuhan, sesama, dan lingkungan sudah merasuk ke dalam jiwa, empati akan muncul secara otomatis. Anak yang memiliki empati tinggi mustahil memiliki keinginan untuk menyakiti orang lain.
”Kurikulum Cinta ini menyasar *ukhuwah makhlukiyah*, yaitu rasa persaudaraan sesama makhluk Tuhan. Jika rasa cinta sudah tertanam, maka murid akan saling melindungi dan menghargai lingkungan sekolahnya,” jelas Nasaruddin Umar.
Filosofi ini menempatkan pendidikan bukan sebagai ajang kompetisi yang keras, melainkan sebuah ekosistem di mana setiap individu merasa berharga dan saling mengasihi.
Kolaborasi Semesta
Senada dengan hal itu, Menteri PPPA Arifah Fauzi menyambut baik sinergi ini sebagai bentuk "kolaborasi semesta". Baginya, KemenPPPA berperan sebagai perekat karena murid adalah titik temu kepentingan dari ketiga kementerian tersebut.
Arifah mengingatkan bahwa regulasi yang canggih sekalipun tidak akan memadai jika tidak didukung oleh partisipasi kolektif masyarakat, orang tua, dan guru. ”Regulasi sehebat apa pun tidak akan efektif tanpa kolaborasi semesta. Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiap murid tumbuh di lingkungan yang inklusif dan penuh cinta,” tuturnya.
Salah satu inovasi teknis yang kini mulai diterapkan di berbagai sekolah adalah sistem Guru Wali. Dalam sistem ini, jumlah murid dibagi habis ke seluruh guru yang tersedia di sekolah. Tujuannya sederhana namun krusial: memastikan tidak ada satu pun murid yang terabaikan tanpa pengawasan.
Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Utama Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, mengungkapkan bahwa sistem ini efektif mengisi kekosongan pengawasan di jam-jam rawan seperti waktu istirahat.
”Setiap murid memiliki pendamping personal yang peka terhadap perubahan perilaku mereka. Potensi masalah atau gesekan antar-murid dapat dideteksi sejak dini sebelum memuncak menjadi konflik,” ungkapnya.
Praktik Baik di Akar Rumput
Upaya di level kebijakan ini telah menunjukkan buahnya di lapangan. Di SDN Karawang Wetan 1, Jawa Barat, budaya aman dan nyaman bukan lagi sekadar slogan di papan pengumuman. Kepala Sekolah Yeni Mulyani menghadirkan inovasi konkret melalui program ’Alis Berdiri’ (Literasi Digital Mandiri) serta pengangkatan duta Sekolah Ramah Anak (SRA) dari kalangan siswa sendiri.
Inovasi ini membuktikan bahwa kenyamanan belajar tercipta ketika murid dilibatkan secara aktif. Dengan literasi digital yang kuat, murid mampu membentengi diri dari pengaruh negatif internet. Sementara itu, duta SRA menjadi penggerak di antara teman sebaya untuk menjaga kebersihan dan ketertiban dengan cara yang menyenangkan.
Perubahan pola pikir dari "menghukum" menjadi "merangkul" kini menjadi napas baru dalam pendidikan Indonesia. Dengan regulasi yang kuat, kurikulum yang berlandaskan kasih sayang, dan pengawasan yang personal, sekolah diharapkan benar-benar menjadi rumah kedua—tempat di mana anak-anak Indonesia tidak hanya tumbuh cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan kaya akan empati.
Pendidikan yang memanusiakan manusia, itulah janji yang tengah diikhtiarkan bersama.
Peliput : Tim Komunikasi Direktorat PAUD
Penyunting: Eko B Harsono