Berita
Mendikdasmen Hadiri Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN, “Mengawal Jemari Mungil di Era Algoritma, Di Antara Binar Layar dan Sunyi Anak-Anak Kita”
Berita 2026-07-27 | 12:30:00
PAUDPEDIA Singapura — Dunia anak global hari ini tumbuh di atas fondasi piksel dan sinyal nirkabel. Jemari mungil yang dahulu akrab dengan tanah liat atau pensil warna, kini begitu lincah menari di atas kaca gawai. Namun, di balik kemudahan akses informasi, ada jurang sunyi tempat perundungan siber (cyberbullying) mengintai—merenggut keceriaan dan ruang aman yang seharusnya menjadi hak dasar setiap anak.
Guna merespons realitas ganda teknologi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kini mengambil langkah berani. Indonesia tak sekadar beradaptasi, melainkan mencoba memegang kendali atas arah transformasi digital anak-anak bangsa.
Langkah tegas itu terlihat saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menghadiri Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (25/7/2026).
Empat Pilar Pendidikan
Di hadapan para pendidik dan orang tua, Mu'ti menegaskan perluasan konsep pusat pendidikan menjadi empat pilar: sekolah, rumah, masyarakat, dan media sosial. Upaya ini diperkuat dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Aturan ini bukan sekadar lembaran formalitas. Regulasi tersebut mengatur batasan penggunaan gawai bagi murid di bawah usia 16 tahun melalui skema konkret: screen time (durasi), screen zone (lokasi bebas layar), dan screen break (waktu istirahat total). Langkah ini menjadi pedoman penting satuan pendidikan untuk menahan laju kekerasan dan perundungan digital.
"Kita sekarang sedang mengembangkan budaya aman dan nyaman, karena memang banyak sekali perundungan terjadi. Tidak hanya perundungan fisik, tetapi juga perundungan yang dilakukan melalui media digital," ungkap Abdul Mu'ti.
Menurutnya, mendidik anak membutuhkan peran kolektif seluruh warga atau 'satu kampung'. Penguatan karakter di sekolah dan rumah tidak akan efektif jika lingkungan masyarakat serta media sosial tidak memberikan pengaruh positif.
Pentingnya benteng perlindungan di rumah juga digarisbawahi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak. Mengaca pada realitas keluarga modern, Emil menyebut lemahnya komunikasi intim antara orang tua dan anak sering kali menjadi celah fatal.
Banyak anak terpapar pengaruh negatif ruang siber tanpa sempat bercerita kepada orang tuanya karena benteng komunikasi di rumah telah rapuh oleh kesibukan masing-masing. Namun, memproteksi anak bukan berarti menutup mata dari laju peradaban.
Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN ke-14
Hanya selang beberapa hari sebelumnya, Selasa (22/7/2026), Indonesia berdiri gagah dalam Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN ke-14 (14th ASED) di Singapura. Pertemuan yang mengusung tema "Strengthening ASEAN through Education" dan dipimpin Menteri Pendidikan Singapura Desmond Lee tersebut menghasilkan 15 poin Pernyataan Bersama serta peluncuran ASEAN Work Plan on Education (AWPE) 2026–2030.
Dalam forum tingkat tinggi itu, Indonesia mendorong penguatan pemanfaatan Kecerdasan Artifisial (AI) dan koding dalam pendidikan. Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, AI dan koding kini resmi diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas lima Sekolah Dasar (SD).
Ke depan, seiring penyiapan pelatihan guru dan sarana prasarana, Kemendikdasmen memproyeksikan AI menjadi mata pelajaran wajib guna menyiapkan lulusan, termasuk siswa SMK, menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Kendati demikian, penguasaan teknologi tanpa kompas moral hanyalah kehampaan. Di forum ASEAN, Mu'ti menegaskan pentingnya etika penggunaan AI dan pendekatan pembelajaran mendalam (Deep Learning). Pembelajaran teknologi harus diimbangi pendidikan karakter agar murid mampu mengembangkan pemikiran yang melampaui AI.
Melalui empat pilar perlindungan dan penguatan kurikulum bernalar kritis, pemerintah memancangkan tekad. Teknologi harus menjadi alat yang membebaskan dan mencerdaskan, bukan monster yang merenggut kemanusiaan anak-anak Indonesia.
Penulis : Eko B Harsono
Sumber Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnya