Berita
Menanam Getar Pancasila dan Nilai Kebangsaan di Fase Fondasi Jenjang PAUD dan SD Kelas Awal Menyenangkan Saat Ini, Berkesan hingga Dewasa
Berita 2026-06-03 | 08:20:00
LEBAK, PAUDPEDIA – Penanaman nilai-nilai Pancasila dan penguatan pendidikan karakter mutlak harus dimulai sejak fase fondasi, yakni pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta kelas awal Sekolah Dasar. Melalui pendekatan yang menyenangkan, bermakna, dan jauh dari pola doktrin kaku, internalisasi nilai kebangsaan tersebut diharapkan mampu mengendap secara mendalam dan membuat anak-anak terkesan hingga mereka tumbuh dewasa.
Nilai-nilai luhur tersebut tidak boleh mandeg sebagai simbol kenegaraan atau sekadar hafalan teks di lembar evaluasi. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mengaktualisasikan ideologi dasar negara tersebut secara nyata dalam ruang pelayanan publik dan ruang kelas, khususnya melalui perbaikan akses pendidikan yang adil, merata, dan berpihak pada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Pesan keadilan sosial tersebut menggaung kuat dari Alun-Alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, saat Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026).
Pemilihan Kabupaten Lebak sebagai pusat peringatan memiliki dasar filosofis dan historis yang kuat sebagai daerah yang lekat dengan simbol perlawanan terhadap penindasan kolonial.
"Pancasila harus terasa getarannya dalam pelayanan publik, di ruang-ruang kelas yang jauh dari ibu kota, dan di hati setiap anak Indonesia yang sedang menyalakan harapan untuk masa depan," ujar Fajar menegaskan.
Revitalisasi Sekolah Implementasi Pancasila
Wamendikdasmen mengatakan penyediaan layanan pendidikan yang bermutu merupakan perwujudan konkret dari Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Pendidikan wajib diposisikan sebagai instrumen yang memanusiakan manusia sekaligus membebaskan keterbatasan latar belakang sosial maupun ekonomi peserta didik.
Sebagai langkah strategis, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengandalkan Program Sekolah Rakyat yang diinisiasi pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program prioritas ini diformulasikan untuk memperluas jangkauan akses dan membebaskan biaya pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan dan kurang mampu.
Negara, lanjut Fajar, harus hadir memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan kesempatan belajar dan meraih cita-citanya hanya karena faktor kemiskinan.
Melengkapi pemenuhan hak dasar anak, pemerintah juga terus menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Uji coba program ini di Kabupaten Lebak dilaporkan berjalan dengan baik dan menuai respons positif dari masyarakat. Pemenuhan gizi yang baik dinilai sebagai fondasi penting bagi proses belajar yang optimal demi mendongkrak daya serap siswa di sekolah.
Memori Kolektif Bangsa
Keesokan harinya, Selasa (2/6/2026), rangkaian refleksi nilai Pancasila dilanjutkan dengan kunjungan kerja ke Museum Multatuli di Rangkasbitung. Dalam peninjauan bersama Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya dan Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana, Fajar menggarisbawahi pentingnya museum sebagai ruang pembelajaran yang hidup guna memperkuat karakter Generasi Z dan Generasi Alpha.
Lebak dinilai menyimpan mutiara sejarah antikolonialisme yang luar biasa berkat narasi novel Max Havelaar karya Multatuli yang memotret ketidakadilan masa lalu. Selain Multatuli, jejak tokoh-tokoh besar bangsa seperti Soekarno, Haji Agus Salim, Tan Malaka, hingga Maria Ulfah juga bertaut dengan wilayah ini.
Menurut Fajar, warisan sejarah tersebut harus diperkenalkan secara luas agar menjadi bagian dari memori kolektif generasi baru.
“Bagi kami di dunia pendidikan, museum seperti ini merupakan oase bagi anak-anak dan generasi muda. Museum harus menjadi ruang belajar yang hidup, terus berkembang, dan menghadirkan pengetahuan baru,” kata Fajar, yang juga mengapresiasi Museum Multatuli sebagai satu-satunya museum pascakolonial (*post-colonial*) di Indonesia.
Nilai inklusivitas Pancasila di bumi Lebak juga tercermin dari penghormatan terhadap masyarakat adat Baduy yang menjadi pilar identitas lokal. Pembangunan pendidikan ditegaskan harus berjalan selaras dengan pelestarian budaya dan kearifan lokal.
Di sisi lain, guna menjawab tantangan masa depan, Kemendikdasmen saat ini tengah mengkaji penguatan kurikulum bahasa asing untuk memperluas cakrawala global siswa. Langkah ini disiapkan untuk mendukung diplomasi budaya sekaligus memperkuat kontribusi generasi muda dalam perdamaian dunia, sejalan dengan tema "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia".
Melalui integrasi program perluasan akses dan penguatan karakter berbasis sejarah, Hari Lahir Pancasila tahun ini diarahkan menjadi momentum nyata. Pancasila tidak lagi sekadar diperingati setiap tahunnya, melainkan dihidupi dalam tata cara melayani, mendidik, bekerja, dan membangun masa depan bangsa.
Penyunting: Eko B Harsono
Sumber : Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen