Berita
Kisah Mama Agnes Membangun Mimpi Anak-Anak Baop, Kabupaten Timor Tengah Selatan
Berita 2026-02-19 | 13:13:00
PAUDPEDIA - Di bawah langit Timor Tengah Selatan yang sering kali menyengat, seorang perempuan dengan rambut yang mulai memutih tampak kontras di antara tumpukan material bangunan. Tangannya yang legam tidak memegang pulpen atau buku absensi, melainkan sebuah sekop yang penuh dengan pasir.
Di usianya yang menginjak 58 tahun, Ruth Agnes Pungga—atau yang akrab disapa Mama Agnes—seharusnya menikmati masa tenang sebagai kepala sekolah. Namun, di TK Negeri Baop, Kecamatan Lob Soe, Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur pengabdian punya definisi yang jauh lebih kasar dari sekadar duduk di balik meja.
Jarak 20 kilometer dari Kota Soe menuju sekolahnya bukanlah jarak yang jauh di atas peta, namun di medan nyata, ia adalah perjalanan dua jam yang menyiksa raga. Sejak medio Januari 2026, perjalanan menuju ke tempat pengabdian untuk memperindah sekolahnya yang reot menjadi lebih layak itu berubah menjadi keniscayaan
Banjir bandang yang menerjang medio Januari lalu memutus urat nadi jalan menuju Baop. Tanah terkikis, menyisakan lubang menganga yang tak lagi bisa dilewati kendaraan roda empat. Di bawah permukaan jalan yang terlihat utuh, rongga-rongga kosong mengancam siapa saja yang nekat melintas.
Namun, bagi Mama Agnes, jalan yang putus tidak boleh memutus mimpi anak-anak di kawasan 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) tersebut. Ketika akses logistik lumpuh dan pembangunan sekolah yang sedang berjalan terancam mangkrak, sang Kepala Sekolah memilih turun tangan. Ia melepaskan seragam rapinya, menggantinya dengan semangat seorang kuli.
Satuan PAUD Warisan dari Tahun 1979
TK Negeri Baop bukanlah sekolah kemarin sore. Akar sejarahnya menghujam hingga tahun 1979. Selama puluhan tahun, bangunan ini berdiri sebagai sekolah swasta yang sunyi di pedalaman NTT, sebelum akhirnya dinegerikan tujuh tahun silam.
Saat Mama Agnes dilantik menjadi kepala sekolah dua tahun lalu, ia mewarisi bangunan yang lebih mirip rongsokan daripada tempat belajar.
"Lantainya hancur, temboknya pecah dan retak-retak semua. Plafonnya pun rusak berat," kenang Agnes dengan nada getir. Baginya, melihat kondisi sekolah yang mengenaskan adalah melihat masa depan anak-anak yang terancam.
Keberuntungan mulai berpihak saat ia bertemu dengan Anita Jacoba Gah, anggota DPR RI, dalam sebuah pertemuan di Hotel Bahagia. Agnes, satu-satunya kepala TK yang hadir di antara para kepala SD dan SMP, tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Ia bersuara lantang tentang kondisi sekolahnya. Hasilnya, dana revitalisasi sebesar Rp356.025.000 turun untuk empat item krusial: pembangunan UKS, WC, renovasi gedung, dan taman bermain.
Namun, alam Timor punya rencana lain. Saat dana sudah di tangan dan pengerjaan dimulai, badai dan banjir datang menghancurkan akses jalan untuk memperbaiki sekolah di puncak bukit BAOP.
Menjadi Kuli demi "Anak-Anak Baop"
"Saya ini pesuruh rakyat. Saya pekerja bagi anak-anak saya," ujar Agnes tegas. Kalimat ini bukan sekadar pemanis retorika. Saat truk semen tak bisa masuk karena jalan putus, Agnes tidak duduk berpangku tangan menyalahkan keadaan atau sekadar menanti bantuan pemerintah daerah yang tak kunjung tiba meski ia sudah menghadap Bupati.
Ia memutuskan untuk menjadi bagian dari deru pembangunan itu sendiri. Di lokasi proyek yang kini baru mencapai progres 51 persen, Agnes adalah pemandangan yang lazim: ia mengangkut semen, menyekop pasir untuk urukan lapangan, hingga masuk ke dalam hutan untuk mencari kayu profil.
Bahkan, ia tak segan memasang ubin bersama para tukang. Pernah suatu kali, para tukang merasa sungkan melihat pimpinan mereka bermandi keringat mengangkut batu. Namun, Agnes menepis rasa rikuh itu.
"Bukan saya tidak percaya tukang, saya percaya 100 persen. Tapi ini berkat Tuhan yang tidak boleh disia-nyiakan. Saya ingin menunjukkan dedikasi, bahwa menjadi kepala sekolah bukan berarti menjadi bos yang hanya main perintah," katanya.
Bagi Agnes, setiap butir pasir yang ia angkut adalah investasi bagi masa depan anak-anak Baop. Baginya, mereka bukan sekadar murid, melainkan napas hidupnya. Bukti cintanya pada anak-anak tidak hanya berhenti di urusan bangunan.
Agnes memiliki seorang anak angkat bernama Angga, yang ia ambil sejak bayi setelah kedua orang tua kandungnya meninggal. Sejak bayi, Angga dibawa Agnes ke sekolah, digendong melintasi jalanan berbatu dan hutan sepanjang 8 kilometer jika jalan utama tertutup, demi memastikan sang anak dan sekolahnya tetap berjalan beriringan.
Menembus Hutan dan Kesunyian
Tantangan di Baop bukan hanya soal fisik bangunan. Lokasi sekolah yang terisolasi membuat komunikasi menjadi barang mewah. Untuk mengirimkan foto perkembangan bangunan saja, para tukang harus mencari titik-titik tertentu di ketinggian demi mendapatkan sinyal internet yang stabil.
"Kalau jalannya diperbaiki, mungkin tidak lama lagi selesai. Tapi sekarang kami kesulitan bahan. Semen harus dibeli lagi, tanah urukan harus diganti pasir karena di sana tidak ada tanah," keluhnya.
Meski demikian, semangatnya tidak surut. Di tengah keterbatasan material yang tersisa, ia terus mengawasi dan bekerja.
Agnes adalah anomali di tengah sistem birokrasi yang terkadang kaku. Di usia 58 tahun, saat banyak orang mulai menghitung hari menuju pensiun dengan tenang, ia justru memilih bertarung dengan semen dan batu di salah satu sudut paling terpencil di Timor Tengah Selatan.
Ia tidak lagi memedulikan kulitnya yang kian legam atau punggungnya yang mungkin kerap nyeri setelah seharian bekerja di lapangan. Baginya, kepuasan tertinggi bukanlah pada jabatan "Kepala Sekolah" yang tersemat di pundaknya, melainkan pada saat nanti ia melihat anak-anak didiknya berlari riang di taman bermain yang baru, di dalam kelas yang temboknya tak lagi retak.
Kisah Mama Agnes adalah pengingat sunyi bagi kita semua. Bahwa di balik megahnya gedung-gedung sekolah di kota besar, ada pejuang-pejuang di garis depan yang harus bertaruh raga hanya untuk memastikan sebuah ubin terpasang dengan benar di sebuah TK negeri di pelosok negeri.
Hingga hari ini, pembangunan TK Negeri Baop masih tertahan di angka 51 persen. Jalan menuju ke sana masih terputus, menyisakan kesunyian yang hanya dipecah oleh suara sekop Agnes yang menghantam pasir.
Ia masih di sana, menunggu jalan diperbaiki, sembari terus membangun dengan tangannya sendiri. Sebab bagi Agnes, pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena jalanan runtuh.
Penulis : Eko B Harsono
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnyaRevitalisasi Satuan PAUD: Semua Sekolah Memiliki Kesempatan yang Sama dan Setara, Syarat Akses Bantuan Satuan PAUD Imbau Perbaiki Dapodik Secara Jujur dan Akurat
Berita 2026-09-10 | 08:45:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mematangkan pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sebagai bagian dari program prioritas pemerintah. Seluruh satuan Pe...
selengkapnya