Berita
Ketika Ketua Tim Kerja BPMP se Indonesia Monitoring Implementasi Digitalisasi Pembelajaran dan Revitalisasi Sekolah di Tanjung Pandan dan Belitung Timor
Berita 2025-12-07 | 07:35:00
PAUDPEDIA Jakarta - Langit biru Belitung, yang abadi dalam bingkai cerita Laskar Pelangi karya Andrea Hirata—seorang alumni SMAN 1 Manggar, Kabupaten Belitung Timur—seolah menyimpan janji idealisme pendidikan. Kunjungan lapangan
Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) se Indonesia menyoroti sejumlah tantangan dihadapi satuan pendidikan di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur dalam implementasi program prioritas, yaitu Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Pembelajaran.
Kunjungan lapangan Ketua Tim Program Prioritas BPMP, yang juga melibatkan perwakilan dari Tim Kerja BPMP se-Indonesia, menyambangi sejumlah sekolah, termasuk TK PAUD Terpadu Negeri Pembina Tanjung Pandan, SD Negeri 25 Manggar, SMPN 3 Manggar, dan SMAN 1 Manggar. Kunjungan ini menemukan tantangan mulai dari pengelolaan anggaran, pengadaan bahan baku, hingga pemanfaatan teknologi.
Tim Kerja Program Prioritas BPMP se-Indonesia melakukan peninjauan mendalam ke beberapa satuan pendidikan, dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas dalam giat Rapat Koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Menengah yang fokus utamanya adalah melihat realisasi dua program besar: Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Pembelajaran.
Revitalisasi Sekolah Bernuansa Gen Z
Di Belitung Timur, harapan perbaikan infrastruktur mengemuka di dua lokasi. SD Negeri 25 Manggar telah menerima pagu revitalisasi sebesar Rp 899.972.540. Program ini bertujuan merehabilitasi ruang kelas yang sudah bocor karena telah berusia 20 tahun, memperbaiki perpustakaan, dan membangun ruang administrasi.
Progres fisik di SDN 25 Manggar kini telah mencapai 82%. Namun, kendala krusial muncul pada tahap finishing (pintu dan jendela) dan pengadaan bahan baku.
“Kendala di penyedia bahan baku yang terbatas,” ujar seorang pengawas. “Di sini hanya ada satu toko yang punya SIPLAH (Sistem Informasi Pengadaan Sekolah) untuk rehabilitasi.” Proses verifikasi dan lambatnya SPJ (Surat Pertanggungjawaban) turut memperlambat pekerjaan.
Kendala juga merembet ke sumber daya manusia. Dalam pekerjaan konstruksi, Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dianjurkan memberdayakan warga sekitar. Namun, tidak semua warga sekitar memiliki kemampuan yang memadai, sehingga pekerjaan menjadi tantangan tersendiri.
Masalah lain adalah urusan administrasi.
Kepala Sekolah SDN 25 Manggar mengungkapkan adanya kesulitan dalam menyusun laporan keuangan, karena guru yang menjabat sebagai bendahara juga harus tetap mengajar. Ia berharap agar ke depannya, pelatihan dilaksanakan sebelum program atau pelaksanaan fisik dimulai.
Sementara itu, proyek revitalisasi dengan skala yang jauh lebih besar akan segera berjalan di SMPN 3 Manggar.
Sekolah ini menerima Rp 2.097.167.000,00 dari APBN Anggaran 2025 untuk Revitalisasi Satuan Pendidikan. Proyek raksasa ini dijadwalkan berlangsung 180 hari kalender, dari 2 Juli hingga 28 Desember 2025. Tantangan logistik dan SDM yang kini dihadapi SDN 25 Manggar harus menjadi pelajaran penting bagi keberhasilan proyek miliaran di SMPN 3 Manggar.
Digitalisasi Gairahkan Siswa Belajar
Implementasi program digitalisasi, yang ditandai dengan pengadaan perangkat Interactive Flat Panel (IFP), terlihat kontras antara semangat adopsi dan realita logistik.
Di TK PAUD Terpadu Negeri Pembina Tanjung Pandan, yang juga menjadi fokus kunjungan BPMP, penggunaan IFP masih sporadis. Kepala sekolah, Bunda Neneng, mengakui bahwa IFP digunakan dalam pembelajaran, termasuk menyanyikan lagu Indonesia. Namun, pemanfaatannya masih terbatas dua kali dalam sebulan dengan prioritas pada kelas utama.
Alasan utamanya, ternyata, adalah kurangnya fasilitas pendukung. “Kami belum ada troli untuk penyimpanan,” kata kepala sekolah, merujuk pada alat penyimpanan beroda yang memudahkan guru memindahkan dan mengamankan perangkat mahal tersebut.
Kesenjangan teknologi ini juga disorot di tingkat SMA. Kunjungan ke SMAN 1 Manggar, sekolah yang telah mencetak publik figur seperti Andrea Hirata, turut memastikan pemanfaatan bantuan IFP. Digitalisasi di jenjang ini diharapkan dapat memacu kualitas pendidikan lokal, mengimbangi fasilitas yang ada di kota-kota besar.
Inklusi dan Nutrisi sebagai Kekuatan Lokal
Di tengah tantangan infrastruktur dan teknologi, sisi humanis pendidikan justru terlihat kokoh, terutama dalam program inklusi dan gizi di TK PAUD Terpadu Negeri Pembina. Sekolah yang berstatus inklusi ini memiliki 7 anak berkebutuhan khusus (ABK).
Sekolah telah mengimplementasikan kebijakan Shadow Teacher berbasis individual.
Proses asesmen juga melibatkan kerja sama dengan psikolog dan rumah sakit, bahkan terapi khusus di awal semester. Bunda Neneng menyebut, mereka telah memiliki SK terkait sekolah inklusi dan siap berfokus pada kewajiban tersebut.
Selain itu, sekolah menjalankan program MBG (Menu Bergizi) yang berkoordinasi ketat dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan. Program ini melatih anak agar terbiasa dengan makanan sehat tanpa micin dan rutin mengonsumsi sayur/buah.
Catatan kritis BPMP di akhir kunjungan mengerucut pada data dan sistem. Pihak sekolah diminta memastikan pengisian data Dapodik diisi dengan baik dan konsisten. Data ini krusial, karena semua bantuan program, termasuk pendataan kebutuhan spesifik ABK (autis, speech delay, dll.), didasarkan pada informasi di Dapodik.
Kunjungan BPMP ke Pulau Belitung dan Belitung Timur menegaskan bahwa tantangan pendidikan di daerah terluar bukan hanya soal ketersediaan anggaran, tetapi juga soal adaptasi logistik, manajemen SDM, dan akurasi data. Hanya dengan sinergi antara perencanaan pusat yang matang dan realita lapangan yang jujur, idealisme pendidikan di Negeri Pelangi dapat benar-benar diwujudkan.
Peliput : Eko Widodo, Aldo Nurhuda dan Herry Hartawan
Penyunting: EB Harsono