Berita
Ketika Direktur Guru PAUD Turun Gunung Mendongeng Bentuk Fondasi Karakter Siswa PAUD di TK Lilah Pekanbaru
Berita 2025-11-24 | 05:50:00
PAUDPEDIA, Riau - Di tengah kesibukan birokrasi dan urusan kebijakan, ada momen yang selalu berhasil membumikan semangat pendidikan: berinteraksi langsung dengan anak-anak usia dini. Pemandangan ini terhampar nyata saat Direktur Guru PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Kemendikdasmen, Suparto, mengunjungi sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) di Pekanbaru.
Kunjungan tersebut bukan sekadar inspeksi, melainkan sebuah pertunjukan nyata tentang bagaimana energi abadi anak-anak mampu menyalurkan kembali makna sejati dari pekerjaan di sektor pendidikan.
Ruangan kelas di TK Lillah yang semula tenang, seketika berubah menjadi panggung keceriaan yang hidup. Kedatangan Direktur Suparto disambut dengan riang oleh puluhan pasang mata balita yang penuh rasa ingin tahu. Alih-alih menyajikan pidato formal atau diskusi berat, Suparto memilih cara yang paling efektif untuk membangun jembatan emosional: berinteraksi dan mendongeng.
Suparto segera mengambil posisi di tengah kerumunan kecil itu. Tanpa sekat protokoler, ia memulai interaksi dengan pertanyaan sederhana yang memancing tawa.
“Siapa yang tadi pagi sudah sarapan? Angkat tangan!” tanyanya dengan nada bersemangat. Sontak, hampir semua tangan mungil terangkat, beberapa bahkan melompat kegirangan untuk menarik perhatian. Suasana cair ini adalah kunci. Dalam sekejap, status Direktur seolah terhapus, digantikan oleh peran baru: Kakek yang menyenangkan.
Keajaiban Kisah Si Kancil
Puncak keseruan terjadi ketika Suparto mulai mendongeng. Ia tidak menggunakan alat bantu canggih—cukup dengan intonasi suara yang dinamis dan ekspresi wajah yang berubah-ubah. Dipilihlah kisah klasik yang akrab di telinga anak Indonesia: Kisah Si Kancil yang Cerdik.
Saat ia menirukan suara Si Kancil yang licik dengan nada tinggi, mata anak-anak membulat. Ketika ia mengubah suara menjadi raungan Buaya yang lapar dengan suara rendah dan berat, beberapa anak berpura-pura takut sambil tertawa.
“Buaya itu mengaum! 'Aummm! Saya lapar sekali! Kancil, kemarilah!'” Suparto menirukan, sambil menggerakkan tangannya menyerupai mulut buaya yang menganga.
Reaksi spontan anak-anak menjadi energi balasan. Ada yang berteriak memberi tahu Kancil, "Jangan mau, Kancil!" Ada pula yang cekikikan melihat ekspresi Direktur yang sangat totalitas dalam memerankan karakternya.
Momentum ini bukan hanya sekadar hiburan. Bagi anak-anak, mendongeng adalah proses krusial dalam pembentukan imajinasi, pengembangan kosakata, dan stimulasi empati.
Mereka tidak hanya mendengarkan cerita; mereka belajar membedakan baik dan buruk, cerdik dan bodoh, melalui resonansi suara dan visualisasi mental yang mereka ciptakan sendiri.
Pembelajaran Sarat Makna
Praktik interaktif di TK Lillah ini bukan kebetulan. Sekolah tersebut dikenal berhasil mengintegrasikan pendidikan formal dengan pembentukan karakter dan spiritualitas.
Sebelum sesi mendongeng, Suparto sempat mengamati rutinitas anak-anak, termasuk kebiasaan baik mereka untuk Salat Dhuha berjamaah di masjid sekolah.
“Sekolah ini mampu mengondisikan anak-anak untuk tumbuh kembang berdasarkan potensi-potensi mereka,” puji Suparto kemudian. Ia melihat adanya pembelajaran yang sederhana namun sarat makna, di mana fondasi karakter dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari yang otentik, bukan sekadar teori di atas kertas.
Kesenangan mendongeng dan tawa riang yang membahana di ruang kelas itu adalah gambaran utuh dari investasi paling berharga di bidang pendidikan: fondasi karakter yang kuat.
Suparto menekankan bahwa tawa dan keceriaan balita hari ini adalah persiapan paling fundamental menuju Indonesia Emas 2045.
“Indonesia Emas di 2045 akan diperkuat oleh anak-anak yang kita siapkan dengan fondasi karakter yang baik sejak usia dini,” ujarnya. Melalui satu sesi mendongeng yang riang,
Direktur Guru PAUD menunjukkan bahwa pemimpin pendidikan harus mampu turun ke lapangan, berinteraksi dengan hati, dan memahami bahwa SDM unggul berawal dari balita yang bahagia, yang memiliki imajinasi luas, dan yang ditanamkan nilai-nilai moral sejak dini. Kesenangan sederhana ini, pada akhirnya, adalah kunci untuk membuka potensi emas bangsa di masa depan.
Penyunting Eko B Harsono
Sumber Siaran Pers BKHM Kemendikdasmen
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnyaRevitalisasi Satuan PAUD: Semua Sekolah Memiliki Kesempatan yang Sama dan Setara, Syarat Akses Bantuan Satuan PAUD Imbau Perbaiki Dapodik Secara Jujur dan Akurat
Berita 2026-09-10 | 08:45:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mematangkan pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sebagai bagian dari program prioritas pemerintah. Seluruh satuan Pe...
selengkapnya