Berita
Ketika AI Menjadi Teman Curhat: Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental Anak Indonesia Jadi Keprihatinan Forum Anak Nasional 2026
Berita 2026-07-01 | 08:30:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Di era digital yang bergerak secepat kilat, anak-anak tidak lagi sekadar menggunakan gawai untuk bermain gim atau menonton video. Kini, mereka memiliki "teman" baru yang selalu siap menjawab, tidak pernah lelah, dan tampak mengerti segalanya: Kecerdasan Artifisial (AI). Namun, di balik respons instan dan kecanggihan teknologi tersebut, tersimpan risiko nyata yang perlahan mengintai kesehatan mental generasi muda Indonesia, yakni ketergantungan emosional yang tidak kasat mata.
Ancaman baru ini mengemuka dalam Webinar Literasi Digital bertajuk "Artificial Intelligence (AI) dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental" yang digelar secara virtual di Jakarta, Minggu (28/6/2026). Diskusi interaktif ini menjadi salah satu agenda krusial dalam rangkaian Lokakarya Forum Anak Nasional (FAN) 2026.
Sebanyak 270 anak dari berbagai latar belakang—mulai dari pengurus Forum Anak Daerah, kelompok disabilitas, hingga perwakilan pelajar SMP dan SMA dari seluruh penjuru Nusantara—berkumpul membawa kegelisahan yang sama tentang masa depan mereka di ruang siber.
AI Bak Pisau Bermata Dua
Kecerdasan artifisial sejatinya adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan ruang tanpa batas untuk memantik kreativitas dan inovasi belajar. Anak-anak dapat dengan mudah menyusun pertanyaan rumit, mencari referensi tugas sekolah, atau sekadar mencari hiburan lewat algoritma yang personal. Namun, kemudahan ini kerap kali melahirkan kelekatan yang berlebihan. Ketika interaksi sosial di dunia nyata terasa penuh tekanan atau melelahkan, sebagian anak mulai beralih ke AI sebagai pelarian emosional.
Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Rini Handayani, menegaskan bahwa pemanfaatan AI yang tidak terukur dan tanpa kendali kini mulai memicu ketidakstabilan psikologis. Teknologi yang dirancang untuk membantu manusia justru berpotensi memisahkan anak-anak dari realitas sosial di sekitarnya.
"AI adalah alat yang sangat efektif jika digunakan secara bertanggung jawab. Namun, anak-anak kita harus tetap menjaga etika di ruang siber, memahami konsekuensi dari setiap jejak digital mereka, serta berani mengenali ketidakstabilan emosional dalam diri mereka sendiri," kata Rini dalam paparannya. Ia mengingatkan pentingnya anak-anak untuk segera mencari bantuan kepada orang dewasa yang tepercaya jika mulai merasa terisolasi atau bergantung pada teknologi.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Save the Children Indonesia, yang turut mengawal forum tersebut, mengawali sosialisasi dengan memaparkan Kebijakan Keselamatan Anak (Child Safeguarding Policy). Berdasarkan identifikasi lembaga tersebut, risiko yang dihadapi anak-anak di ranah daring kini semakin berlapis dan kompleks.
Perundungan Siber Anak
Bukan hanya perundungan siber (cyberbullying), eksploitasi seksual daring, atau kejahatan pencurian identitas, melainkan juga degradasi kesehatan mental akibat interaksi semu dengan kecerdasan buatan.
Ketika seorang anak mulai memercayakan validasi emosionalnya kepada baris-baris kode algoritma, ruang interaksi antarmanusia yang penuh empati perlahan menyusut.
Kemampuan anak untuk menyelesaikan konflik, membaca bahasa tubuh, dan membangun hubungan sosial yang riil terancam tumpul. Hal ini menjadi tantangan besar, mengingat Kemen PPPA tengah gencar mendorong partisipasi anak sebagai Agen Pelopor dan Pelapor (2P) demi mewujudkan lingkungan digital yang aman dan inklusif.
Menghadapi dinamika ini, pembenahan tidak bisa dibebankan kepada anak sendirian. Sinergi antara pemerintah melalui Kemendikdasmen dan Kemen PPPA, lembaga swadaya masyarakat, institusi pendidikan, hingga peran krusial orang tua di rumah menjadi kunci utama.
“Menjinakkan sisi gelap AI berarti membekali anak dengan literasi digital yang kokoh dan benteng emosional yang sehat,” ujar Rini.
Kehadiran ruang siber yang aman bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah prasyarat mutlak demi menyelamatkan kesehatan mental generasi penerus menuju visi Indonesia Emas 2045. Ruang digital harus dipastikan menjadi tempat anak-anak tumbuh dan belajar, bukan tempat mereka kehilangan jati diri kemanusiaannya.
Penulis : Eko B Harsono
Sumber Siaran Pers KemenPPPA
InfoTerkini
Menjaga Nadi Pendidikan dari Angka dan Realitas Dapodik, Geliat Senyap Satuan PAUD Kala 95,6 Persen Data PAUD Menyala di Pelosok Nusantara
Berita 2026-09-14 | 14:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA - Di balik papan ketik komputer di ribuan pelosok Nusantara, jemari para operator sekolah terus bergerak sabar. Mereka menyusun baris-baris angka, merapikan identit...
selengkapnyaRiset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnyaRevitalisasi Satuan PAUD: Semua Sekolah Memiliki Kesempatan yang Sama dan Setara, Syarat Akses Bantuan Satuan PAUD Imbau Perbaiki Dapodik Secara Jujur dan Akurat
Berita 2026-09-10 | 08:45:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mematangkan pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sebagai bagian dari program prioritas pemerintah. Seluruh satuan Pe...
selengkapnya