Berita
KemenPPPA Gelorakan Gerakan 200 Menit Orangtua Tanpa Gawai, Merebut Kembali Masa Kecil Anak Indonesia Melalui Permainan Tradisional
Berita 2025-10-08 | 06:48:00
PAUDPEDIA Jakarta – Di tengah gegap gempita Festival Literasi Aksi Cahaya Inspirasi Anak (Festival Liter-Aksi CIA) 2025, sebuah gerakan sederhana namun kuat menggema, terapkan 200 menit waktu berkualitas orang tua bersama anak, tanpa gangguan gawai. Ribuan orang tua dan anak-anak memadati acara tersebut, larut dalam tawa dan permainan tradisional, meninggalkan sejenak dunia digital yang serba cepat.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, dengan penuh semangat menyerukan pentingnya membangun kebiasaan sehat sejak dini. "Jika anak-anak terbiasa tanpa gawai sejak kecil, mereka akan tumbuh tanpa ketergantungan. Orang tua adalah contoh utama," ujarnya di panggung utama.
Festival Liter-Aksi CIA 2025 merupakan acara yang menekankan pentingnya literasi dan interaksi positif antara orang tua dan anak, dengan fokus pada pengurangan penggunaan gawai. Acara ini menyoroti gerakan "200 Menit Waktu Orangtua yang Menyelamatkan Anak dari Gawai," yang mengajak orang tua untuk meluangkan waktu berkualitas tanpa gawai bersama anak-anak mereka setiap hari .
Festival ini juga mencakup berbagai kegiatan edukatif dan interaktif yang dirancang untuk anak-anak dari berbagai jenjang usia, mulai dari TK hingga SD. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang kompetisi bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan literasi mereka, salah satunya melalui lomba debat yang diselenggarakan bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia .
Seruan Ikatan Dokter Anak Indonesia
Seruan ini bukan tanpa dasar. Penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkap fakta mencengangkan, anak usia dini yang terpapar gawai lebih dari 2 jam sehari berisiko 6 kali lebih tinggi mengalami keterlambatan bicara.
Studi Kementerian Kesehatan RI (2023) juga menunjukkan bahwa 42% anak usia 5-9 tahun di kota besar kesulitan fokus belajar akibat penggunaan gawai berlebihan. Bahkan, riset dari University of Alberta, Kanada (2022) menggarisbawahi bahwa balita yang terlalu sering bermain gawai berpotensi mengalami gangguan tidur hingga 60%.
Seorang anak bernama Rina (4 tahun) di Jakarta, misalnya, awalnya sulit berkomunikasi dan lebih memilih bermain sendiri dengan tabletnya. Setelah orang tuanya menerapkan aturan 200 menit tanpa gawai setiap hari, Rina mulai menunjukkan perkembangan positif. Ia lebih aktif berbicara, bermain dengan teman-temannya, dan menunjukkan minat pada buku cerita.
Keresahan ini mendorong lahirnya gerakan 200 menit tanpa gawai, sebuah upaya untuk merebut kembali masa kecil anak-anak dari cengkeraman layar kaca.
Komitmen Nasional dan Aksi Nyata
Momen haru dan khidmat terjadi saat Veronica Tan bersama tokoh publik dan aktivis pendidikan keluarga, Shahnaz Haque, memimpin pembacaan komitmen orang tua. Janji untuk memberikan perhatian, mengajak anak bermain sehat, menambah pengetahuan tentang nutrisi, serta bijak mengelola penggunaan gawai bergema di seluruh arena festival.
Seorang ayah yang hadir tak kuasa menahan haru. "Saya sering terlalu sibuk dengan gawai dan lupa bahwa anak saya hanya ingin ditemani bermain congklak. Hari ini saya belajar bahwa kebahagiaan itu sederhana: duduk bersama anak," ungkapnya dengan suara bergetar.
Festival Liter-Aksi CIA 2025 mencetak sejarah dengan memecahkan rekor MURI sebagai acara keluarga bebas gawai terbanyak di Indonesia. Lebih dari sekadar rekor, acara ini menjadi simbol kebangkitan tradisi lama: interaksi tatap muka tanpa perantara layar.
Gerakan membatasi penggunaan gawai pada anak juga mendapatkan dukungan dari berbagai negara. Prancis telah melarang penggunaan ponsel di sekolah dasar dan menengah sejak 2018. Negara-negara lain seperti Finlandia dan Swedia juga tengah mempertimbangkan langkah serupa. Tujuannya jelas: menciptakan lingkungan belajar yang lebih fokus dan interaktif, serta melindungi kesehatan mental dan sosial anak-anak.
Contoh konkret di Finlandia, beberapa sekolah telah menerapkan "hari tanpa gawai" setiap minggu. Hasilnya, guru melaporkan peningkatan konsentrasi siswa di kelas dan interaksi sosial yang lebih baik di antara mereka. Siswa juga menjadi lebih kreatif dalam mencari kegiatan alternatif, seperti membaca buku, bermain permainan tradisional, atau berdiskusi dengan teman-temannya.
Gerakan 200 menit tanpa gawai adalah oase di tengah badai digital. Ini adalah pengingat bahwa di balik layar kecil yang memikat, ada bahaya besar yang mengintai. Hanya dengan pelukan, tatapan mata, dan tawa yang tulus, anak-anak dapat tumbuh lebih sehat secara fisik, mental, dan emosional.
"Perubahan tidak perlu menunggu kebijakan besar. Cukup dengan menyediakan 200 menit setiap hari, kita bisa menyelamatkan generasi dari ketergantungan pada gawai," pungkas Veronica Tan.
Gerakan 200 menit adalah inisiatif untuk mendorong orang tua meluangkan waktu berkualitas tanpa gawai bersama anak-anak mereka setiap hari. Berikut adalah beberapa cara implementasinya:
- Tetapkan Waktu Khusus: Alokasikan 200 menit setiap hari untuk fokus pada anak tanpa gangguan gawai. Waktu ini bisa dibagi menjadi beberapa sesi sepanjang hari .
- Pilih Aktivitas Bersama: Libatkan anak dalam kegiatan yang menyenangkan dan interaktif, seperti membaca buku, bermain permainan tradisional, berolahraga ringan, atau sekadar mengobrol .
- Jadwalkan Aktivitas Fisik: Manfaatkan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas fisik bersama. Contohnya, senam aerobik ringan di rumah atau jogging di sekitar lingkungan rumah .
- Ciptakan Lingkungan Bebas Gawai: Selama 200 menit tersebut, matikan notifikasi dan jauhkan gawai dari jangkauan agar fokus sepenuhnya pada interaksi dengan anak.
- Berikan Contoh: Orang tua memberikan contoh dengan mengurangi penggunaan gawai di depan anak-anak. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua .
- Pemanfaatan Tangga di Rumah: Menggunakan tangga di rumah sebagai sarana olahraga yang efektif, seperti naik turun tangga untuk membakar kalori dan memperkuat otot kaki .
- Olahraga Sambil Rebahan: Melakukan gerakan olahraga ringan sambil rebahan di kasur, seperti bicycle crunch, sit-up, atau leg extension, sebagai alternatif kegiatan fisik yang mudah dilakukan .
- Pemanasan Sebelum Beraktivitas: Melakukan pemanasan ringan sebelum memulai aktivitas fisik bersama anak, seperti jogging atau jalan cepat, untuk menghindari risiko cedera .
Dengan implementasi yang konsisten, gerakan 200 menit dapat membantu membangun hubungan yang lebih erat antara orang tua dan anak, serta mengurangi ketergantungan anak pada gawai.
Penulis Eko B Harsono
Sumber Siaran Pers KemenPPPA
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnyaRevitalisasi Satuan PAUD: Semua Sekolah Memiliki Kesempatan yang Sama dan Setara, Syarat Akses Bantuan Satuan PAUD Imbau Perbaiki Dapodik Secara Jujur dan Akurat
Berita 2026-09-10 | 08:45:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mematangkan pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sebagai bagian dari program prioritas pemerintah. Seluruh satuan Pe...
selengkapnya