Berita
Kemendikdasmen Paparkan Praktik Baik Capaian Transformasi Digitalisasi Pembelajaran PAUD Berbasis Riset di Forum Pendidikan ASEAN
Berita 2026-06-12 | 06:00:00
Jakarta PAUDPEDIA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan lugas memaparkan praktik baik berbasis bukti sukses program digitalisasi pembelajaran di Forum Pengambil Kebijakan Pendidikan Asia Tenggara (ASEAN), memastikan teknologi menjangkau hingga daerah terpencil tanpa menggeser esensi bermain sambil belajar anak usia dini yang menyenangkan dan bermakna.
Di sebuah ruang kelas di ujung Nusantara, mungkin seorang anak berusia lima tahun kini tengah tertawa lepas sambil menyentuh layar besar yang menampilkan warna-warni interaktif. Ia tidak sedang asyik dengan gawai pribadi yang mengisolasi, melainkan terlibat dalam eksplorasi bersama teman-temannya. Adegan ini bukan lagi mimpi, melainkan realitas baru pendidikan anak usia dini (PAUD) di Indonesia yang kini menjadi sorotan pengambil kebijakan di kawasan Asia Tenggara.
Dalam Konferensi Centre Policy Research Network (CPRN) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 9–11 Juni 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membawa cerita sukses yang unik. Bukan sekadar pamer infrastruktur, Indonesia hadir dengan data empiris yang menunjukkan bagaimana transformasi digital dilakukan secara hati-hati, terukur, dan tetap berpijak pada kodrat anak: bermain.
Berbasis Riset Fondasi Data Lapangan
Direktur Jenderal PAUD Dikdas PNFI, Gogot Suharwoto, menekankan bahwa kebijakan digitalisasi yang diambil pemerintah bukanlah keputusan yang jatuh dari langit. Setiap langkah dibangun di atas fondasi data lapangan yang masif.
"Kami ingin menghubungkan kebijakan, penelitian, dan praktik. Karena itu, setiap langkah digitalisasi PAUD sedang kami bangun di atas data lapangan dan kebutuhan nyata di sekolah," ujar Gogot dalam sesi bertema Evidence-Based Inclusive Digital Learning in Indonesia’s Early Childhood Education, Selasa (9/6).
Bukti komitmen tersebut terlihat dari cakupan riset nasional yang melibatkan lebih dari 67.000 responden dari 38 provinsi. Mulai dari survei tata kelola di nearly 6.000 sekolah, kunjungan lapangan ke puluhan sekolah, hingga survei terhadap hampir 40.000 guru.
Data raksasa ini menjadi peta jalan yang memastikan bantuan tepat sasaran. Hasilnya? Pada tahun 2025 saja, sebanyak 63.842 sekolah telah menerima perangkat Interactive Flat Panel (IFP), dan 64.191 sekolah mendapatkan laptop serta penyimpanan data.
Namun, narasi paling menyentuh justru datang dari upaya menjangkau yang tak terjangkau. Sebanyak 168 sekolah di daerah terpencil kini telah terhubung dengan layanan internet.
Bahkan, untuk wilayah yang belum tersentuh listrik, pemerintah menyiapkan solusi panel surya pada 2026 nanti. Ini adalah wujud nyata dari pendidikan inklusif; memastikan anak di pelosok memiliki akses yang sama dengan anak di kota besar.
Kualitas Mengajar Guru Meningkat
Di balik angka-angka statistik tersebut, ada wajah-wajah guru yang berubah. Sebanyak 99,1 persen guru peserta pelatihan mengaku kualitas mengajar mereka meningkat. Lebih penting lagi, 93,8 persen di antaranya rutin menggunakan IFP.
Platform Ruang Murid pun hadir dengan ratusan materi interaktif yang bisa diakses secara luring (offline), menjawab tantangan keterbatasan sinyal di berbagai wilayah.
Kendati demikian, Kemendikdasmen sangat sadar akan kekhawatiran banyak pihak mengenai dampak layar bagi anak kecil. Gogot menegaskan filosofi utama pendekatan Indonesia: teknologi bukan musuh bermain, melainkan temannya.
"Teknologi dalam PAUD tidak dimaksudkan untuk menggantikan bermain. Teknologi kami gunakan untuk membantu anak mengeksplorasi hal-hal baru dan memperkaya pengalaman belajar mereka," jelasnya.
Pendekatan berbasis bukti ini mendapat apresiasi dari para peserta forum CPRN 2026 yang diselenggarakan bersama SEAMEO CECCEP dan Sekretariat SEAMEO. Indonesia dinilai berhasil menunjukkan bahwa digitalisasi bisa berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan inklusivitas.
Melalui paparan ini, Indonesia tidak hanya duduk sebagai peserta pasif, tetapi berkontribusi aktif sebagai rujukan bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya. Pesan yang dikirimkan jelas: teknologi adalah alat, bukan tujuan.
Tujuannya tetap satu, yakni memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal, memberikan mereka kesempatan terbaik untuk tumbuh menjadi sumber daya manusia yang unggul, kreatif, dan berkarakter. Dalam era digital, sentuhan manusiawi tetap menjadi jiwa utama pendidikan.
Penyunting: Eko B Harsono
Sumber : Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnya