Berita
Kampanye Generasi Iklim 2025, "Aku Kamu Kita Adalah Bumi" Lima Misi Anak Indonesia Jadi "Pahlawan Super" Penyelamat Alam
Berita 2025-11-27 | 06:41:00
PAUDPEDIA Jakarta – Peristiiwa bencana hidrometrologi yang saat ini terjadi di sejumlah tempat di tanah air tercinta sungguh memprihatinkan. Bencana hidrometeorologi merupakan fenomena alam merusak yang terjadi akibat aktivitas cuaca seperti siklus hidrologi, curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin. Jenis bencana ini meliputi banjir, longsor, puting beliung, kekeringan, dan angin kencang.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengajak anak-anak Indonesia menjadi "pahlawan super" dalam menjaga bumi dari dampak perubahan iklim.
Pesan tersebut ia sampaikan melalui video sambutan pada Kampanye Generasi Iklim 2025 bertema "Aku, Kamu, Kita Adalah Bumi", yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Anak Sedunia 2025.
Melalui Kampanye Generasi Iklim 2025 bertajuk "Aku, Kamu, Kita Adalah Bumi", ratusan anak Indonesia—mulai dari sekolah formal, sekolah rakyat, pesantren, hingga panti sosial — mendapat mandat langsung dari Pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyerukan sebuah tugas mulia: menjadi garda terdepan dalam mitigasi perubahan iklim.
Pesan Menko Pratikno, yang disampaikan melalui tayangan video dalam rangka peringatan Hari Anak Sedunia 2025 yang diinisiasi oleh Save the Children Indonesia, dirangkai dalam narasi yang menyentuh dan mudah dicerna. Ia tidak menggunakan istilah-istilah ilmiah yang rumit, melainkan metafora yang sangat personal: Bumi sedang sakit.
“Sekarang ini, Bumi tempat kita berpijak ini, lagi sedikit sakit. Kadang, cuacanya panas sekali, seperti bumi sedang demam. Tiba-tiba, hujan turun deras sekali, sampai banjir di mana-mana. Bumi sedang sedikit sakit, namanya sakit perubahan iklim,” ujar Menko Pratikno, menggambarkan realitas cuaca ekstrem yang semakin tak menentu di Indonesia.
Gambaran "Bumi yang demam" itu menjadi lonceng peringatan bagi seluruh hadirin. Menko PMK kemudian melanjutkan ajakannya, "Bumi kita tempat kita hidup ini butuh pahlawan super. Dan pahlawan super itu adalah kalian semua."
Lima Misi Keren Anak Indonesia Penyelamat Bumi
Pahlawan super, dalam visi Menko PMK, tidak perlu terbang atau mengangkat beban berat. Kekuatan super mereka terletak pada konsistensi tindakan sehari-hari. Pratikno memaparkan sebuah panduan praktis yang disebut “Misi Keren Selamatkan Bumi Kita”, yang terdiri dari lima langkah sederhana:
Misi Pertama: Jadilah Detektif Sampah!
Tugasnya adalah membuang sampah pada tempatnya dan memastikan tidak ada sampah yang menyumbat saluran air—langkah preventif sederhana untuk mencegah bencana banjir.
Misi Kedua: Jadilah Pasukan Anti Plastik!
Misi ini mengajak anak-anak mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan selalu membawa tas belanja dan botol minum sendiri, menumbuhkan kesadaran gaya hidup minim sampah.
Misi Ketiga: Jadilah Penjaga Air!
Menekankan pentingnya konservasi air. Menggunakan air secara hemat dan mematikan keran setelah dipakai, mengingat bahwa setiap tetes air sangat berharga di tengah ancaman kekeringan.
Misi Keempat: Jadilah Sahabat Tumbuhan!
Melibatkan anak-anak dalam kegiatan menanam, seperti membuat kebun sayuran kecil di sekolah, yang selain memperindah lingkungan juga berkontribusi pada penyerapan karbon.
Misi Kelima: Jadilah Pahlawan Makanan!
Misi ini berorientasi pada ketahanan pangan dan empati. Anak-anak diajak untuk menghabiskan makanan dan berbagi jika memiliki lebih, menekankan bahwa "berbagi adalah kekuatan super yang paling hebat."
“Mari kita semua, anak-anak hebat Indonesia, berjanji untuk menjadi pahlawan bagi bumi kita. Kalian semua anak hebat, yang bisa menjadi Pahlawan Super bagi bumi kita,” pungkas Pratikno.
Kolaborasi Lintas Pihak dan Ruang Aman untuk Partisipasi Anak
Apa yang disampaikan Menko PMK bukan hanya retorika. Ia disinkronkan dengan upaya mitigasi bencana yang lebih luas yang saat ini sedang dihadapi Indonesia. Dalam kesempatan lain, sehari sebelum acara kampanye ini, Menko PMK juga telah menyoroti peningkatan drastis bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor di berbagai daerah—dari Malang, Cilacap, hingga Papua.
Masalah ini, tegas Menko PMK dalam kegiatan Penanaman Vegetasi di Bogor (21/11/2025) dalam rangka Hari Pohon Sedunia, menunjukkan bahwa perubahan iklim dan degradasi lingkungan telah menjadi ancaman serius. Ia menekankan, deforestasi dan penanaman vegetasi yang tidak tepat telah memicu longsor, sedimentasi waduk, hingga kerusakan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung yang rentan terhadap bencana.
Dalam konteks inilah, Kampanye Generasi Iklim 2025 menemukan urgensinya.
Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistiyaningrum, menekankan bahwa merespons krisis iklim adalah kerja kolektif.
"Partisipasi anak membutuhkan ruang yang aman, inklusif, dan menyenangkan," ujar Woro, yang hadir bersama CEO Save the Children Indonesia Dessy Kurwiany Ukar dan Sr. Manager Government and Public Affairs LEGO Indonesia, Ardi Hendharto.
Ia memastikan bahwa Pemerintah memiliki komitmen untuk menyediakan ruang tersebut melalui kebijakan dan pengawasan. "Pendapat anak harus didengar dan diterjemahkan dalam kebijakan serta program," jelasnya.
Kampanye ini sendiri menjadi manifestasi dari komitmen tersebut. Selain sambutan pejabat, acara ini menghadirkan pertunjukan seni multidimensi "Aku, Kamu, Kita Adalah Bumi", yang berfungsi sebagai ruang ekspresi bagi anak-anak untuk menyuarakan dampak krisis iklim dan merumuskan solusi iklim versi mereka. Ratusan anak yang terlibat turut mengikuti lokakarya, permainan edukatif, dan aktivitas kreatif, menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA) Arifah Fauzi juga turut hadir, menegaskan dukungan Pemerintah terhadap inisiatif partisipatif yang melibatkan anak sebagai subjek perubahan.
Infrastruktur Hijau Jadi Gerakan Bangsa
Tugas menjadi pahlawan super bagi anak-anak sejajar dengan upaya mitigasi yang lebih masif di tingkat nasional. Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara sektoral, melainkan harus menjadi kerja bersama dari hulu hingga hilir.
"Ini bukan sekadar kerja menanam. Ini kerja menggerakkan hati dan pikiran masyarakat. Infrastruktur hijau harus kita perkuat," tegasnya saat meninjau kegiatan penanaman vegetasi yang dipusatkan di Megamendung, Bogor.
Momentum Hari Pohon Sedunia menjadi pengingat bahwa gerakan penanaman pohon harus masif, berkelanjutan, dan berbasis vegetasi yang bernilai ekologis sekaligus ekonomis. Menko PMK menunjuk pada keunggulan ekologis Indonesia sebagai negara khatulistiwa—kekayaan hayati dan vegetasi—yang harus dijaga sebagai bagian dari mitigasi bencana dan peningkatan kesejahteraan.
Gerakan ini, ujarnya, harus menjadi gerakan seluruh 287 juta masyarakat Indonesia, didukung oleh BNPB, Kementerian Keuangan, dan mitra swasta. Pratikno bahkan menekankan pentingnya pendekatan religius, meminta Menteri Agama agar pesan menanam pohon dimasukkan sebagai amal jariyah dalam doa dan khotbah, demi menggerakkan masyarakat secara lebih luas.
Data dari Kepala BNPB Suharyanto memperkuat skala upaya ini. Program penanaman vegetasi dilaksanakan serentak di empat provinsi, dengan total penanaman mencapai lebih dari 226.000 bibit pohon keras, pohon buah, mangrove, hingga vetiver. Program ini melibatkan hampir 3.000 personel dari berbagai unsur, menunjukkan bahwa mitigasi bencana adalah sebuah kerja kolektif nasional.
Pada akhirnya, seruan Menko PMK kepada anak-anak Indonesia adalah sebuah resonansi dari kebutuhan bangsa yang lebih besar. Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan; ia adalah realitas hari ini, terlihat dari banjir yang melanda Bekasi hingga longsor di Banjarnegara.
Dalam kondisi Bumi yang "sedang sakit" dan menghadapi bencana hidrometeorologi, "Misi Keren" yang diemban oleh para "Pahlawan Super" cilik Indonesia—detektif sampah, pasukan anti plastik, penjaga air, sahabat tumbuhan, dan pahlawan makanan—menjadi fondasi penting.
Mereka adalah penunjuk arah bahwa solusi iklim dimulai dari kesadaran dan tindakan sederhana, yang dipadukan dengan kebijakan nasional yang kuat dan gerakan penanaman pohon yang berkelanjutan.
Langkah kecil anak-anak di TIM Jakarta, yang menyuarakan harapan melalui seni dan janji sederhana, menjadi energi baru bagi sebuah gerakan mitigasi yang harus menjadi denyut nadi seluruh masyarakat: Aku, Kamu, Kita Adalah Bumi.
Penyunting Eko B Harsono
Sumber Siaran Pers Kemenko PMK dan Save The Children