Berita
Interactive Flat Panel Alias Layar Raksasa "Bersuara": Menjadi Semangat Baru Pembelajaran Murid Tunanetra di SLB-A
Berita 2025-09-26 | 08:50:00
PAUDPEDIA – Di ruang kelas 9A SLB-A Pembina Tingkat Nasional Lebak Bulus Jakarta Selatan, suasana belajar tak lagi didominasi suara guru semata. Kini, terdengar pula suara robotik yang ramah, memandu setiap sentuhan. Suara itu berasal dari sebuah layar raksasa yang terpampang di depan kelas: Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital.
Kehadiran IFP ini membawa angin segar, terutama bagi siswa dengan gangguan penglihatan. Bukan sekadar proyektor canggih, perangkat ini dilengkapi fitur aksesibilitas kunci: Talkback.
Fitur ini memungkinkan layar IFP 'berbicara', membacakan teks yang tampil (text-to-speech) dan memberikan umpan balik berupa suara ketika pengguna menyentuh, menggeser, atau membuka aplikasi.
Sederhananya, ini IFP adalah “Tablet” atau "HP raksasa" yang aksesibel bagi penyandang disabilitas netra.
Gress Saputra dan Andi Valerio Ahmadinejad, dua murid kelas 9A, tak bisa menyembunyikan antusiasme mereka. "Pembelajaran dengan Papan Interaktif Digital ini lebih seru karena ada pembaca layarnya dan sistemnya Android. Jadi sama handphone, tapi ini lebih besar jadi lebih mudah lagi,” kata Gress, mengungkapkan kemudahan navigasi yang ia rasakan.
Fitur Talkback secara otomatis membimbing Gress dan teman-temannya di setiap langkah menjadi petualangan seru pembelajaran sehingga lebih mudah dan menyenangkan.
Panduan Menggunakan Fitur Talkback di IFP
Bagi siswa tunanetra, interaksi dengan IFP dimulai dari keadaan layar mati hingga dapat digunakan untuk pembelajaran. Berikut adalah langkah-langkah penggunaannya:
- Menghidupkan Layar (The First Touch):
- Siswa atau guru menekan tombol Power (biasanya terletak di sisi samping atau bawah IFP).
- Setelah layar menyala, sistem operasi (seperti Android) mulai memuat.
- Aktivasi Talkback:
- IFP yang sudah disiapkan untuk disabilitas biasanya memiliki fitur Talkback yang sudah diaktifkan secara default. Jika belum, guru dapat menggunakan gesture khusus (misalnya, menahan dua jari di layar selama beberapa detik) atau melalui Pengaturan (Settings) untuk mengaktifkannya.
- Begitu Talkback aktif, perangkat akan memberikan umpan balik suara untuk setiap sentuhan, seperti "Layar Beranda," "Pengaturan," atau "Aplikasi Terkini."
- Navigasi Menu Utama:
- Menjelajahi: Siswa menggeser jari di layar (biasanya dengan satu jari) untuk mendengar nama ikon atau menu yang dilalui. Talkback akan membacakan, misalnya, "Aplikasi Papan Tulis," "Browser," atau "Galeri."
- Memilih dan Membuka: Untuk membuka aplikasi yang diinginkan (misalnya aplikasi Papan Tulis atau file materi pelajaran), siswa mengetuk dua kali dengan satu jari setelah Talkback membacakan nama ikon tersebut.
- Memasuki Sesi Pembelajaran:
- Setelah aplikasi terbuka, fitur Talkback tetap aktif, membacakan toolbar, opsi menu, atau bahkan teks yang ditulis di layar.
- Siswa dapat menggunakan fitur keyboard virtual untuk mengetik, dengan Talkback membacakan setiap huruf yang diketik.
Dengan panduan suara ini, siswa tunanetra dapat mandiri menjelajahi berbagai menu dan aplikasi, dari browser internet hingga aplikasi edukasi, seolah-olah menggunakan smartphone pribadi—namun dalam ukuran yang jauh lebih besar dan interaktif.
Memonitor dengan Lebih Efektif
Dampak positif IFP tak hanya dirasakan murid, tetapi juga guru. Fachmi Budiansyah, guru di SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta, mengakui bahwa IFP ini membuat proses pengajaran lebih efisien.
"Papan Interaktif Digital ini tidak hanya aksesibel untuk murid tunanetra, tetapi dengan fitur yang ada di perangkat tersebut juga sangat membantu guru dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih baik," jelas Fachmi.
Salah satu fitur yang ia soroti adalah kemampuan berbagi layar (screen sharing). "Siswa bisa berbagi layar. Di kelas saya ada 5 murid, layar mereka dapat disambungkan ke Papan Interaktif Digital ini, sehingga memudahkan guru untuk memonitoring hasil pekerjaan murid. Sebelumnya saya harus berkeliling satu-satu ke meja siswa. Jadi lebih efektif,” terang Fachmi.
Teknologi ini telah menjembatani kesenjangan. Papan Interaktif Digital tidak hanya menjadi alat bantu visual, tetapi juga pendamping verbal yang membuka dunia informasi dan interaksi bagi siswa tunanetra.
Di bawah bimbingan suara IFP, proses belajar tak hanya menjadi lebih mudah dan efektif, tetapi juga lebih setara dan menyenangkan.
Penulis : Eko Harsono