Berita
Hari Terakhir MPLS Ramah di Bali, Wamendikdasmen Kagum pada Kemandirian Siswa PAUD dan Sekolah Dasar Harapan Denpasar
Berita 2026-07-20 | 17:25:00
PAUDPEDIA Denpasar - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menyatakan kekagumannya yang mendalam terhadap keberanian dan sukacita yang ditunjukkan oleh anak-anak usia dini (PAUD) di Yayasan Sekolah Kristen Harapan Denpasar, Bali. Saat memantau langsung pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Jumat (17/7/2026), Atip terkesan melihat bagaimana para siswa termuda tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa rasa takut, melainkan dengan penuh semangat dan senyuman lebar.
Kekaguman ini muncul ketika Atip menyaksikan secara dekat interaksi anak-anak PAUD yang sedang mengikuti rangkaian kegiatan pengenalan sekolah. Alih-alih menunjukkan kecemasan yang umum terjadi pada anak yang baru pertama kali memasuki gerbang sekolah, para siswa justru tampil percaya diri, aktif, dan ceria.
Menurut Atip, respons positif ini merupakan bukti nyata bahwa pendekatan "MPLS Ramah" yang diterapkan sekolah berhasil menciptakan suasana aman dan nyaman sejak dini.
"Saya sangat kagum melihat keberanian mereka. Anak-anak PAUD ini masuk sekolah dengan sukacita yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa fondasi pendidikan karakter dan rasa aman telah dibangun dengan sangat baik oleh yayasan," ujar Atip dalam keterangannya di Denpasar.
Ia menilai bahwa sikap berani dan gembira tersebut menjadi modal penting bagi anak-anak untuk melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya dengan mental yang tangguh dan bahagia.
Kembalikan MPLS Sebagai Ruang Transisi
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi menutup pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 dengan menekankan prinsip "Ramah Sekolah".
Kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat ke Yayasan Sekolah Kristen Harapan Denpasar, Bali, menandai komitmen penuh pemerintah dalam menghapus praktik intimidatif atau perpeloncoan yang selama ini kerap mewarnai masa orientasi siswa baru.
Atip menegaskan bahwa MPLS harus dikembalikan kepada fungsi utamanya sebagai ruang transisi positif bagi murid dari jenjang pendidikan sebelumnya menuju lingkungan baru.
"Kita mengembalikan MPLS ke tujuan awalnya, yaitu memperkenalkan murid dengan lingkungan sekolahnya melalui cara yang ramah. Sekolah harus menjadi lingkungan yang aman dan nyaman, menghargai harkat dan martabat manusia," ujar Atip di sela-sela pemantauan kegiatan di Denpasar.
Dalam kunjungannya tersebut, Atip memantau langsung kegiatan hari terakhir MPLS di SMA Kristen Harapan Denpasar yang melibatkan 1.165 siswa baru dari tingkat TK hingga SMK. Fokus kegiatan diarahkan pada pengenalan ekstrakurikuler sebagai wadah pengembangan soft skill dan karakter.
Sekolah setempat memperkenalkan 33 jenis ekstrakurikuler, mulai dari Pecinta Alam (Pala), Paskibra, hingga seni musik dan tari. Menurut Atip, hal ini krusial untuk membekali generasi muda menghadapi tantangan era digitalisasi dan globalisasi.
Keseimbangan Pendidikan Formal dan Karakter
Senada dengan Wamendikdasmen, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti mengapresiasi pendekatan holistik yang diterapkan sekolah. Suharti menilai, keseimbangan antara pendidikan formal dan pengembangan karakter melalui kegiatan non-akademik sangat penting untuk mencetak manusia yang berguna.
"Saya melihat anak-anak PAUD dan TK menampilkan berbagai kegiatan dengan sangat baik. Besar harapan kami anak-anak bisa tumbuh dengan lebih bagus lagi," katanya.
Respons positif juga datang dari para peserta didik. Ida Ayu Dewi, siswi kelas X-2 SMA Kristen Harapan Denpasar, mengaku senang mengikuti rangkaian MPLS yang dikemas secara edukatif dan menyenangkan. Ia bahkan meraih predikat the most active berkat keaktifannya dalam kegiatan outbound dan pengenalan denah sekolah.
"Seru dan senang bisa aktif menjawab pertanyaan. Kami diajak bermain sama teman dan memecahkan permasalahan bersama tanpa rasa takut," tutur Dayu. Ia berpesan agar siswa baru tidak ragu berteman tanpa memandang perbedaan untuk memperluas relasi.
Implementasi MPLS Ramah tidak hanya terjadi di Bali, tetapi juga terasa dampaknya di wilayah lain seperti Sulawesi Tengah. Di SD Negeri 1 Binangga, Kabupaten Sigi, orang tua murid merasakan ketenangan karena anaknya dapat beradaptasi dengan baik.
Imas Afriana, ibu dari siswi baru Alzena Zunaira Khairunnisa, menyebutkan bahwa kegiatan seperti tur keliling sekolah dan ice breaking membantu anaknya menghilangkan kecanggungan. "Kegiatannya seru dan inovatif. Anak jadi lebih antusias berangkat ke sekolah," ungkap Imas.
Kepala SD Negeri 1 Binangga, Rijena, menjelaskan bahwa rasa aman adalah fondasi utama MPLS Ramah. Guru berperan sebagai pendamping penuh sejak murid tiba di gerbang sekolah hingga selesai aktivitas. "Tanpa rasa aman, kenyamanan dan kegembiraan tidak akan tercipta. Kami ingin setiap murid merasa diterima," jelas Rijena.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebelumnya telah menegaskan bahwa transformasi ini bertujuan membangun budaya saling menghormati, memuliakan guru, dan mencintai ilmu pengetahuan. Dengan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah, Kemendikdasmen optimis MPLS Ramah dapat menjadi awal yang indah bagi perjalanan akademik siswa baru di seluruh Indonesia.
Penyunting: Eko B Harsono
Sumber : Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen