Berita
Gernas RANA Diluncurkan, Menghalau Cemas di Hari Pertama Sekolah dan Ikhtiar Merajut Ruang Nyaman bagi Anak Sejak Fase Fondasi di Jenjang PAUD
Berita 2026-07-14 | 17:30:00
PAUDPEDIA Jakarta – Pemerintah secara resmi meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) di Satuan Pendidikan sebagai komitmen memutus mata rantai kekerasan sejak usia dini. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal, Gogot Suharwoto, Ph.D, menegaskan bahwa momentum ini menjadi penguatan mendasar bagi berbagai kebijakan strategis kementerian—seperti pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah hingga pembatasan gawai— demi menjamin lingkungan belajar yang inklusif dan ramah bagi tumbuh kembang anak secara optimal.
Langkah kaki Putri (15) tampak mantap saat memasuki gerbang SMA Negeri 4 Pekanbaru, Riau, Senin (13/7/2026) pagi. Sebagai murid baru, kecemasan yang biasanya membayangi hari pertama sekolah seketika luruh berganti kehangatan. Tidak ada bentakan senior, tiada pula atribut atau tugas-tugas aneh yang merendahkan martabat murid baru. Yang ia temukan justru senyum ramah para guru serta materi edukasi yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan.
Pengalaman Putri merupakan potret kecil dari babak baru dunia pendidikan Indonesia yang mulai digulirkan secara serentak. Bertepatan dengan dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027, pemerintah resmi meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) di Satuan Pendidikan. Langkah ini menandai komitmen serius pemangku kebijakan untuk memotong mata rantai kekerasan di sekolah yang selama ini kerap menghantui masa depan generasi muda.
Di sudut lain Nusantara, atmosfer serupa dihidupkan di TK IT Ar Rajwaa Samarinda, Kalimantan Timur. Kepala Sekolah Nuridah percaya bahwa rasa aman anak harus dibangun dari detail-detail terkecil sejak detik pertama mereka melangkah di sekolah.
Kebiasaan menyambut anak dengan konsep senyum, salam, dan sapa (3S) terbukti efektif membuat anak usia dini merasa diterima dan tidak takut pada lingkungan barunya.
“Kami juga memastikan lingkungan belajar tetap bersih dan menyediakan sarana bermain yang aman serta sesuai usia. Anak-anak harus merasa bahwa sekolah adalah tempat yang seru untuk bereksplorasi,” tutur Nuridah.
Kolaborasi Empat Pilar
Peluncuran Gernas RANA yang dipusatkan di Malang, Jawa Timur, menjadi momentum penting untuk mengonsolidasikan perlindungan anak yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menegaskan, dampak kekerasan pada anak bersifat traumatis dan mampu merusak perkembangan mereka dalam jangka panjang. Oleh karena itu, menciptakan ruang aman tidak boleh hanya menjadi beban pihak sekolah semata.
Pratikno merinci ada empat lingkungan utama yang wajib saling bertautan membentuk benteng pelindung anak. Pertama adalah keluarga sebagai tempat pertama anak memperoleh kasih sayang, diikuti oleh satuan pendidikan, ruang publik, dan yang tak kalah krusial hari ini adalah ruang digital yang kian lekat dengan kehidupan anak.
“Kalian semua berhak berada di lingkungan yang aman dan nyaman. Kalau melihat atau mengalami kekerasan, jangan ragu melapor kepada guru maupun orang tua,” pesan Pratikno di hadapan para murid.
Senada dengan hal itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa gerakan nasional ini merupakan payung besar dari sejumlah kebijakan teknis yang sedang digulirkan.
Semangat Gernas RANA diintegrasikan secara hukum melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Implementasi nyata aturan ini langsung diterapkan sejak hari pertama sekolah melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah. Tidak hanya itu, sebagai respons atas tingginya kerentanan anak di dunia maya, kementerian juga mengeluarkan Surat Edaran terkait pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah.
Memutus Rantai Perundungan
Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menggarisbawahi bahwa ekosistem yang inklusif hanya akan tercipta jika ada rasa saling menghormati antarmurid. Perlindungan anak tidak bisa dilakukan secara soliter, melainkan butuh keterlibatan aktif masyarakat luas.
“Bunda berharap mulai saat ini kita saling menjaga teman, saling menghormati, dan tidak ada lagi perundungan (bullying) di mana pun anak-anak berada,” ujar Arifah dengan nada keibuan.
Melalui integrasi kebijakan seperti MPLS Ramah dan pembatasan gawai, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal Gogot Suharwoto meyakini fondasi pendidikan yang berpihak pada kepentingan terbaik anak kini semakin kokoh.
Kini, tantangan terbesar berada pada konsistensi penegakan aturan di lapangan. Harapannya, kehangatan yang dirasakan Putri di Pekanbaru dan keceriaan murid-murid TK di Samarinda tidak hanya menjadi cerita indah di hari pertama sekolah, melainkan menjelma menjadi budaya abadi yang mengakar kuat di seluruh institusi pendidikan Indonesia.
Peliput : Tim Komunikasi Direktorat PAUD
Penyunting: Eko B Harsono
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnya