Berita
Gema Perkusi dan Senandung ‘Hari Baru’ untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia Mewarnai Pembukaan Konsolnas 2026
Berita 2026-02-10 | 07:50:00
PAUDPEDIA DEPOK - Pemerintah secara resmi mempererat ikatan kolaborasi antara pusat dan daerah guna memastikan setiap kebijakan pendidikan nasional mampu mendarat dengan efektif di ruang-ruang kelas di seluruh pelosok Nusantara. Melalui Konsolidasi Nasional (Konsolnas) Pendidikan Dasar dan Menengah 2026, sinergi lintas sektor diperkuat demi mewujudkan target Wajib Belajar 13 Tahun dan menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh di tengah disrupsi digital.
Gema dentuman perkusi yang dinamis dari para peserta didik membahana di aula Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Senin (9/2/2026) siang. Di bawah sorot lampu panggung, mereka membawakan lagu "Hari Baru" dengan penuh semangat.
Penampilan ini bukan sekadar hiburan pembuka, melainkan sebuah simbolisasi kuat dari harapan akan fajar baru bagi dunia pendidikan Indonesia yang lebih inklusif, ceria, dan berkeadilan. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari hingga Rabu (11/2/2026) ini mengusung tajuk utama "Menguatkan Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua."
Agenda besar ini menjadi wadah krusial bagi ribuan pemangku kepentingan—mulai dari pejabat kementerian, kepala dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, kepala sekolah, hingga mitra pembangunan—untuk menyamakan langkah dalam satu orkestrasi besar pembangunan manusia.
Pembukaan acara dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, serta jajaran pimpinan Komisi X DPR RI.
Kehadiran legislatif menegaskan bahwa transformasi pendidikan memerlukan dukungan politik dan penganggaran yang solid untuk memastikan keberlanjutan program.
Pendidikan Pilar Ketangguhan Bangsa
Menko PMK Pratikno, saat membuka acara secara resmi, menekankan bahwa pendidikan adalah tulang punggung dari prioritas utama Presiden dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul. Dalam pidatonya, ia mengajak seluruh elemen pendidikan untuk bertransformasi menjadi "orkestrator" kemajuan di daerah masing-masing.
"Kita tidak ingin pendidikan hanya sekadar rutinitas akademik. Sekolah harus menjadi media pembelajaran untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga unggul, sehat fisik, mental, dan sosial," tegas Pratikno.
Ia juga menyoroti tantangan global yang kini berada di depan mata, yakni disrupsi digital dan perubahan iklim. Menurut Pratikno, anak-anak Indonesia harus dibekali karakter yang tangguh agar tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan zaman, melainkan menjadi pemain aktif yang mampu memberikan solusi.
Sesaat kemudian, Pratikno memukul lonceng sebagai tanda dimulainya konsolidasi. Suara lonceng tersebut seolah menjadi pengingat bagi seluruh peserta akan urgensi untuk segera bergerak cepat melakukan sinkronisasi kebijakan.
Capaian 2025 dan Akselerasi Program 2026
Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam laporannya memaparkan evaluasi mendalam atas program-program yang telah berjalan sepanjang tahun 2025. Menurutnya, revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi pembelajaran mulai menunjukkan dampak nyata, terutama dalam pemerataan sarana dan prasarana di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Salah satu poin yang ditekankan Mu’ti adalah keberhasilan program "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" (7 KAIH). Program ini dirancang untuk menanamkan karakter positif secara konsisten sejak dini. Data awal menunjukkan adanya peningkatan indikator karakter siswa di sekolah-sekolah yang telah menerapkan program ini secara penuh.
"Apa yang sudah kami tanam di tahun 2025 akan terus kami pupuk dan tingkatkan. Tahun 2026 adalah momentum untuk ekstensifikasi dan intensifikasi program prioritas, sejalan dengan arahan Presiden untuk memperkuat pondasi pendidikan nasional," ujar Mu’ti.
Beberapa isu strategis yang menjadi fokus pembahasan dalam sidang-sidang komisi meliputi:
- Wajib Belajar 13 Tahun: Upaya memastikan akses pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah.
- Kesejahteraan Guru: Fokus pada penyederhanaan birokrasi dan skema transfer langsung insentif untuk meningkatkan fokus pendidik pada kualitas pengajaran.
- Kurikulum Masa Depan: Integrasi pembelajaran mendalam mengenai koding, kecerdasan artifisial (AI), dan penguatan bimbingan konseling.
- Kedaulatan Bahasa: Menindaklanjuti kesuksesan Bahasa Indonesia yang kini resmi digunakan dalam Sidang Umum UNESCO ke-43.
- Dukungan Infrastruktur: Kesiapan sekolah dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program unggulan pemerintah pusat.
Praktik Baik Belajar dari Akar Rumput
Pada hari kedua dan ketiga, suasana Konsolnas berubah menjadi ruang berbagi pengalaman. Pemerintah menyadari bahwa inovasi terbaik seringkali muncul dari keterbatasan di daerah. Sesi "Praktik Baik" menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan.
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah mempresentasikan inovasi dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang memanfaatkan sistem data terintegrasi untuk menjamin transparansi dan keadilan.
Sementara itu, Daerah Istimewa Yogyakarta berbagi strategi tentang bagaimana nilai-nilai kearifan lokal dapat dipadukan dengan program 7 KAIH untuk membentuk ekosistem sekolah yang harmonis.
Namun, perhatian peserta banyak tertuju pada paparan dari Kabupaten Maluku Tengah. Di wilayah kepulauan ini, keterbatasan geografis sempat menjadi penghalang utama akses pendidikan. Melalui piloting proyek INOVASI yang bekerja sama dengan Universitas Pattimura (Unpatti), mereka mengembangkan model Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang efektif.
"PJJ di Maluku Tengah membuktikan bahwa teknologi jika dikelola dengan kolaborasi yang tepat, mampu menghapus batasan jarak. Namun, kami juga membawa aspirasi agar pemerintah pusat mendukung pembangunan gedung pusat PJJ untuk mempermanenkan sistem ini," ungkap salah satu perwakilan daerah.
Sinergi Publik dalam "Partisipasi Semesta"
Filosofi "Partisipasi Semesta" tidak hanya melibatkan antarinstansi pemerintah, tetapi juga sektor swasta dan organisasi non-pemerintah. Di area pameran pendidikan, sebanyak 13 unit kerja Kemendikdasmen dan berbagai organisasi mitra menunjukkan kontribusi mereka.
Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi menampilkan hasil karya siswa yang relevan dengan kebutuhan industri, sementara lembaga seperti Save the Children Indonesia (KREASI) dan Tanoto Foundation berbagi metode peningkatan literasi dasar. Hal ini menunjukkan bahwa beban besar pembangunan pendidikan tidak dipanggul sendirian oleh kementerian, melainkan secara gotong-royong.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) yang turut hadir memberikan paparan mengenai arah kebijakan Program Prioritas Presiden 2026 menegaskan bahwa pendidikan ditempatkan sebagai pilar utama pembangunan nasional. Kehadiran Mensesneg memberikan sinyal kuat bahwa sinkronisasi antara visi Presiden di tingkat pusat dengan eksekusi di tingkat daerah harus berjalan tanpa hambatan.
Menuju Implementasi yang Berdampak
Konsolnas 2026 resmi ditutup pada Rabu siang setelah seluruh hasil sidang komisi diserahkan kepada Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Dokumen hasil konsolidasi ini bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan panduan operasional (road map) bagi setiap dinas pendidikan di daerah dalam menyusun program kerja setahun ke depan.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti menyatakan bahwa tindak lanjut dari pertemuan ini akan dipantau secara berkala melalui sistem pemutakhiran Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) yang lebih akurat. "Kami ingin memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dibuat di Sawangan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa di ruang kelas, guru di pelosok, dan orang tua murid," tuturnya.
Melalui sinergi yang terbangun di Sawangan, mimpi besar Indonesia untuk memiliki sistem pendidikan yang bermutu, merata, dan responsif terhadap tantangan zaman kini memiliki peta jalan yang lebih jelas. Gema lagu "Hari Baru" yang mengiringi pembukaan acara seolah terus terngiang, menjadi pengingat bahwa hari ini adalah awal dari kerja keras panjang untuk menjemput kejayaan SDM Indonesia di masa depan.
Transformasi pendidikan memang bukan lari cepat (sprint), melainkan maraton yang membutuhkan stamina kolaborasi yang panjang. Dan dari Konsolnas 2026 ini, nafas kolaborasi itu kembali diperkuat.
Peliput ; Aldo, Aufa dan Wisnu
Penyunting : Eko Widodo dan EB Harsono