Berita
Dr Nia Nurhasanah M.Pd: “Pengenalan Berpikir Komputasional di Jenjang PAUD Bentuk Anak Usia Dini Berpikir Runtut, Terarah, Kritis, Logis dan Kreatif”
Berita 2025-12-01 | 09:13:00
PAUDPEDIA JAKARTA – Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD Dikdasmen) Kementerian Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Kementeriandikdasmen) secara resmi meluncurkan upaya penguatan Pengenalan Berpikir Komputasional (PBK) dalam pembelajaran Anak Usia Dini (AUD).
Program ini merupakan respons mendesak terhadap tuntutan kompetensi abad ke-21 di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, yang menuntut kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan literasi digital sejak usia dini.
Direktur PAUD, Dr. Nia Nurhasanah, S.Si., M.Pd., menegaskan pentingnya inisiatif ini dalam pidato pembukaan Webinar Pengenalan Pengembangan Berpikir Komputasional (PBK) di Ra Premier Simatupang, Jakarta akhir pekan.
Dalam sambutannya, Dr. Nia Nurhasanah menekankan bahwa PBK di PAUD bukan bertujuan mencetak "ahli komputer" tetapi membekali anak dengan cara berpikir yang terstruktur, logis, fleksibel, dan kreatif. Keterampilan ini dianggap sebagai fondasi penting yang akan digunakan anak seumur hidup.
“Siang hari membuat teh dicampur madu murni, ditemani sepotong roti bertabur stroberi berwarna merah. Pengembangan Berpikir Komputasional dikenalkan sejak usia dini, agar anak terlatih berpikir runtut dan terarah,” ujar Dr. Nia, membuka acara dengan sebuah pantun.
Ia menambahkan, PBK membantu anak menjadi produsen kreativitas, bukan sekadar konsumen teknologi. Usia dini merupakan periode emas untuk menumbuhkan kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah.
Bukan Mata Pelajaran, Terintegrasi dalam Dunia Bermain
Dr. Nia menjelaskan bahwa PBK tidak akan berdiri sebagai mata pelajaran mandiri di PAUD, melainkan akan diintegrasikan melalui bermain, rutinitas harian, dan pembiasaan yang menyenangkan, bermakna, dan berkesadaran.
“Konsep PBK itu sendiri bisa ditanamkan secara alami dalam kegiatan unplugged (tanpa teknologi) melalui empat komponen dasar, yaitu Dekomposisi (memecah masalah sederhana), Pengenalan Pola, Abstraksi, dan Algoritma (menyusun instruksi runtut),” papar Dr. Nia.
Contoh implementasinya mencakup kegiatan menyusun balok, bermain peran, merapikan alat main, hingga bermain teka-teki dan permainan robot programmer sederhana. Ketika anak memproses kegiatan bermain dengan pola pikir komputasional, pengalaman belajarnya akan menjadi lebih kaya.
Tantangan di Lapangan Menjadi Sorotan Utama. Keputusan Kemendikdasmen untuk memperkuat PBK didasarkan sejumlah tantangan pembelajaran krusial di lapangan yang harus segera diatasi.
Dikatakan implementasi PBK saat ini menghadapi empat tantangan utama:
- Literasi teknologi pendidik PAUD yang masih rendah, khususnya terkait konsep Pengembangan Berpikir Komputasional.
- Terbatasnya tenaga pelatih yang kompeten untuk memberikan pelatihan kepada pendidik.
- Ketiadaan model pelatihan standar yang disesuaikan dengan konteks dan tahap perkembangan anak usia dini.
- Minimnya bahan ajar dan perangkat pembelajaran yang terintegrasi secara pedagogis dengan pendekatan PAUD.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh Tim Kerja Pembelajaran dan Penilaian Direktorat PAUD berkolaborasi dengan Tim Kerja Komunikasi dan Publikasi ini merupakan langkah awal penguatan pembelajaran di satuan pendidikan. Satuan PAUD yang mengikuti pelatihan ini diharapkan dapat menjadi pionir praktik implementasi PBK.
Regulasi dan Tujuan Penguatan PBK
Kegiatan ini secara hukum didukung oleh serangkaian regulasi, termasuk Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, serta sejumlah Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbud Ristek) tahun 2022 mengenai Standar Nasional Pendidikan (SNP), Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian.
Secara umum, webinar ini memiliki beberapa tujuan kunci, antara lain:
- Menjelaskan prinsip-prinsip PBK dan relevansinya dengan karakteristik AUD.
- Meningkatkan pengetahuan pendidik tentang perencanaan pembelajaran berbasis kompetensi (CP, tujuan pembelajaran, alur tujuan pembelajaran).
- Mengembangkan kemampuan pendidik dalam merancang kegiatan bermain yang mengarah pada pencapaian kompetensi PBK.
- Mendorong pendidik untuk mulai menerapkan PBK dalam praktik sehari-hari di satuan PAUD.
Acara yang berlangsung secara hybrid—gabungan luring di Ra Premier Simatupang dan disiarkan langsung di kanal YouTube Paudpedia—ini menghadirkan Keynote Speaker Dr. Muhammad Muchlas Rowi, S.F., S.H., M.M., yang menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial.
Sementara materi utama mengenai Pengenalan PBK dalam Pembelajaran AUD dipaparkan oleh Dr. Rudiyanto dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Dr. Nia Nurhasanah berharap diskusi ini dapat membuka perspektif baru dan menginspirasi praktik baik di seluruh satuan PAUD di Indonesia.
“Dekomposisi bantu pecahkan masalah kecil jadi sederhana, agar pembelajaran PAUD terasa ringan dan mudah dipahami. Riak ombak menari di pantai Maluku, nelayan pulang membawa hasil terbaik hari itu. Pengenalan pola memandu anak melihat bentuk yang seru, belajar jadi asyik seperti bermain di tepi laut biru,” tutup Direktur PAUD, kembali dengan pantun penutup yang menggarisbawahi esensi PBK melalui bermain.
Peserta webinar ini melibatkan pendidik, pengelola, tenaga kependidikan PAUD, serta masyarakat umum, menandakan upaya kolaboratif dan masif dari Kementeriandikdasmen dalam mempersiapkan generasi emas Indonesia menghadapi tantangan masa depan. Seluruh biaya kegiatan dibebankan pada DIPA Direktorat PAUD Tahun Anggaran 2025.
Peliput : Tim Komunikasi Direktorat PAUD
Penyunting Eko B Harsono